Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Muhammad Wislan Arif

Hobi membaca, menulis dan traveling. Membanggakan Sejarah Bangsa. Mengembangkan Kesadaran Nasional untuk Kejayaan Republik Indonesia, selengkapnya

Features (02) - Bulan Purnama dan Dewi Kwan Im

OPINI | 30 January 2010 | 15:48 Dibaca: 1082   Komentar: 8   0

Ratna Chandraningrat tidak ingat pastinya kapan ia begitu menyintai sosok Dewi Kwan Im —

suatu saat sahabatnya satu kompleks datang bersama suaminya, membawa kue hasil praktek mencoba satu resep istimewa.

Pasangan itu keturunan Cina, mereka terlibat berbagai topik cerita . Mereka memang akrab, walaupun tidak sekantor, tetapi kawan satu arisan kompleks.

Menjelang pulang Ibu Ris, sang tamu membelai anak perempuan Ratna. ” Aduh cantik sekali — lihat pap mata dan senyum anak ini seperti Dewi Kwan Im, cantik sekali Bu ” Bu Rismanto menyanjung puteri Ratna yang berumur tiga tahun itu.

Kini setiap bulan purnama Ratna selalu terkenang dengan koleksinya yang berasal dari berbagai kota dan negara. Arca dan Lukisan Dewi Kwan Im.  Ia merasa bahagia sekali bila menatap salah satu koleksinya itu.  Mungkin seperti bahagia atau tingkat emosional yang terdalam, ketika orang bisa menatap senyum Monalisa, yang asli atau bahkan reproduksi. Sekali pun.

Suatu saat ketika ia sedang dinas ke Pulau Batam, ia mampir di toko kramik — Ya Allah, alangkah indahnya patung itu dalam hatinya, ia lantas jatuh hati, seolah-olah ia saling menatap dengan patung putih itu, seorang Dewi yang sedang duduk bersemedi, bersila di atas karang, dengan sekuntum bunga di sisi kanan-nya. Itulah arca pertama koleksinya : Dewi Kwan Im yang tersenyum dengan sikap teduh.

Bertahun-tahun setiap kali Ratna akan pergi bekerja, atau pulang kerja, atau dalam tingkat perasaan atau emosional yang down — ia selalu menjadi tentram dan normal kembali bila menatap arca Dewi Kwan Im. Walau sekilas atau sekejap saja !

Arca itu menjadi bagian kebahagiaan-nya, bahagia seperti setiap kali menyaksikan kemajuan anak-anaknya, membahagiakan !

Ia merasa menjadi bagian kebahagia-an, karena mampu mensublimasikan perasaan keindahan dan kesadaran bahwa ia bersatu dengan kemampuan menyerap estetika secara filosopis.

Hidup Ratna Chandraningrat berlangsung — ia bahagia sekali dengan ketiga anak-anaknya, dengan suami yang saling menyinta dan membahagiakan. Kini mereka berumur sekitar 50-an — termasuk keluarga golongan menengah yang makmur.

Wajar orang berbahagia — hidup dan kariernya terus menanjak. Konon dari buku motivasi — “Engkau akan menjadi apa yang kau pikirkan. “  Orang yang berbahagia dan bersyukur kepada Allah Penciptanya —akan terus menerus dilimpahi kebahagiaan.  Bersyukurlah !

Ia kini lebih mengenal siapa Dewi Welas Asih, Dewi Kwan Im itu. Sejarah hidup Sang Dewi yang menjadi ikon kaum penganut Buddhism telah diperolehnya dari berbagai teks. Walau ia adalah seorang muslimah yang taat.

Bahkan bukan saja arca-arca Dewi Kwan Im yang dimilikinya — tetapi juga lukisan Sang Dewi yang berasal dari berbagai negara di Asia.

Ada lukisan Dewi Kwan Im diperolehnya di saat bulan purnama di salah toko buku termashur. Dewi Kwan Im berdiri dengan latarbelakang bulan purnama.  Ia berdiri diatas permukaan laut dengan bokor air pengobatan di tangan kirinya. Anggun dan membahagiakan.

Suatu saat ia memperoleh lukisan di Nepal. Dewi Kwan Im berdiri di atas bunga Lotus di samudera mega, dan matahari memancar di latar belakangnya..  Lukisan itu ditaburi pasir intan yang gemerlapan. Indah sekali.

Ia juga mempunyai pula patung Dewi Kwan Im yang sangat anggun dari kayu berwarna kuning gading dari Tiongkok. Luar biasa cantiknya.

Ada sensasi bulan purnama dan Dewi Kwan Im — suatu saat ia berjanji bertemu di Dokter Spesialis Kandungan di Braga Bandung.  Di tunggu-tunggu teman itu belum juga datang.  Sementara bulan purnama megah sekali di langit Bandung.  Tiba-tiba ia melihat sosok arca setinggi 25 sentimeter.  Dewi Kwan Im berdiri cantik sekali.

Sekarang arca itu bersemayam di salah satu lemari bukunya. Anggun dan inspiratif.

Di rumahnya kini, bukan hanya berisi koleksi arca dan lukisan Dewi Kwan Im — di sana juga ada tokoh-tokoh dewi wayang kulit, yang menampilkan karakter para Dewi, seperti  Dewi Sri, Dewi Anjani, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi, Dewi Maerah dan Dewi Srikandi. Ia menjadi wanita yang sangat berbahagia di usianya yang menjelang pensiun ini.  Anak-anaknya telah mentas seluruhnya.

Hikayat Dewi Kwan Im Posat, karya Siao Shen Sien, Budiayin Zakaria, malam purnama ini dibaca kembali oleh Ratna……………. Suatu saat Sang Dewi telah tiba di Surga, bahkan satu kakinya telah menjejak di pintu Surga. Tetapi ia membatalkan langkahnya — ia berbalik ke bumi, hanya karena mendengar doa keluh kesah manusia.  Ia tidak tega memasuki Surga, selama masih ada manusia yang menderita di bumi untuk diberikan perhatian welas asih, kasih sayang, ditaburi dengan ilham dan intuisi untuk memperbaiki jalan hidupnya.

“………..Dalam tahun ke-21 dari dinasti Kim Thian (Langit Emas), negeri tersebut diperintah oleh Kaisar Ta Hao.  Sangat besar kekuasaan kaisar — negerinya makmur dengan hasil panen pertanian, dan penerimaan upeti dari seantero jajahannya. Sayangnya kemakmuran itu tidak diimbangi dengan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.  Kaisar Ta Hao seakan lupa diri, dia mabok dengan citranya dan pengabdian para menterinya yang korup……….”

“………. Ada pula Raja Miao Chuang yang sangat merindukan kelahiran putera mahkota. Demikian besar hasratnya terhadap kelahiran putera mahkota, hingga tidak memperhatikan pemerintahan — hingga para menterinya pun bersimaharaja-lela melakukan ketidak adilan, korupsi dan pemerintahan pun morat marit.  Ia seharusnya bersyukur telah dilimpahi tiga orang puteri…………”

“……….Dua puteri Sang Raja Miao Chuang ternyata tidak  memperoleh suami-suami yang  berbakat dan pantas untuk menjadi putera mahkota. Tinggal-lah harapan pada puteri Miao Siang, si bungsu.  Tetapi Sang puteri  ditakdirkan tidak mencita-citakan  hidup keduniawian. Ia ingin menjadi orang suci yang mengabdikan dirinya kepada manusia yang sengsara dan memohonkan belas kasih dari Sang Pencipta.

Maka Sang Raja sangat kecewa………”

“………..Sang puteri tetap pada pendiriannya, akan menjadi orang suci.  Maka ia pergi berguru ke berbagai Vihara mempelajari Keng (Sutera) ke-agamaan, Ia rajin bersemadhi — mensucikan rohaninya.  Segala upaya Raja Miao Chuang untuk membujuk puteri Miao Siang tidak berhasil merubah tekad suci Sang Puteri.  Walaupun ia tidak mau merubah cita-citanya , tetapi Sang Puteri tidak pernah mendurhakai sang ayahnya.  Ia .  Ia tetap bertekad mencapai kesempurnaan………..”.  Setelah melewati berbagai cobaan dan kesengsaraan duniawi — keluarga kerajaan Miao Chuang  turut selamat menjadi Po Sat yang mendapat tugas melaksanakan misi welas asih bagi manusia di dunia……….”

“……….Perbuatan terpuji Miao Siang telah berhasil menebus semua dosa yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Sekaligus telah mengetuk hati Giok Tee untuk menurunkan firman : Menganugrahkan gelar Po Sat yang welas asih, menjadi penolong siapa saja yang sedang menghadapi kesulitan, sekaligus sebagai Dewi Pelindung Manusia. Daerah tempat ia bersemayam adalah di Lay Hay  (Laut Selatan) dan Pulau Pu To.

Miao Siang telah menjelma menjadi Kuan She Yin Pu Sa ( Dewi Kwan Im), yang merupakan ikon pemeluk Buddhisme…………”

Ratna menutup buku Hikayat Dewi Kwan Im yang telah berulang kali dibacanya — terus terang yang sangat mengesankan di hatinya, bahwa Sang Dewi tidak pernah berbuat durhaka kepada Sang Ayah, walaupun ayahnya demikian kejam mewujudkan ambisinya terhadap si bungsu —- mengambang air mata Ratna Chandraningrat mengenang almarhum ayahnya yang telah membina dirinya, hari depannya, kariernya dengan dukungan yang terus mengalir, sampai ajal menjeput di akhir hayatnya.

Walau pun musim hujan, ada mendung di malam ini — tetapi sekali-kali temaram bulan purnama membias di antara cabang pohon di rumah Ratna Chandraningrat, yang asri dan rimbun secara alamiah. Penuh kasih alam yang menjadi pengejawantahan Kasih Allah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 9 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 9 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 10 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 8 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 9 jam lalu

Rinni Wulandari Lebih Melesat… …

Raynadi Salam | 9 jam lalu

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: