Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Abel Tasman

seorang akademisi, aktivis kebudayaan, aktivis antikorupsi Sumatera Barat dan kini menjabat Sekretaris Komisi IV DPRD selengkapnya

Keadilan Pemimpin

OPINI | 22 January 2010 | 10:30 Dibaca: 426   Komentar: 1   0

Barang sipa yang diberi petunjuk oleh Allah,
maka dialah yang mendapat petunjuk, dan
barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu
tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun
yang dapat memberi petunjuk kepadanya…
(QS. 18: 17)

Sebelum Malik al-Asytar ditunjuk sebagai Gubernur Mesir, Khalifah Ali bin Abi Thalib memperingatkannya: “Pemimpin harus sejajar dengan yang dipimpinnya, berusaha memberi penerangan dan meringankan beban yang miskin dan papa. Kehancuran bumi hanya terjadi karena pemimpin sibuk dengan diri sendiri untuk mengumpulkan kekayaan, mengkhawatrirkan keberlangsungan kekuasaan dan mengambil keuntungan dari jabatan mereka.”
Nasehat Ali terhadap Malik tersebut layak menjadi pelajaran bagi para pemimpin di setiap zaman, termasuk para pemimpin hari ini. Dari kalimat bijaksana dan tajam Ali itu terdapat filsafat yang kuat bagaimana seharusnya seorang jadi pemimpin. Dari situ juga dapat dipahami bahwa dalam perspektif Islam, pemimpin itu gaya hidupnya jangan terlalu berbeda jauh dari rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin tak selayaknya bergelimang kemewahan, sementara rakyat dipaksa menikmati kemiskinan.
Menjadi pemimpin itu harus rela bersusah payah untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan dan kemelaratan. Jabatan bukanlah anugrah untuk menikmati hidup mewah, tapi merupakan amanah untuk mengangkat derajat hidup rakyat derita sejarah.
Bersikap adil adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi seorang pemimpin. Keadilan yang benar-benar adil, tidak berstandar ganda , hanya adil terhadap orang-orang terdekat, karib kerabat, atau konglomerat, tapi mesti adil terhadap semua pihak, semua lapisan masyarakat. Amatlah buruk akibatnya bila seorang Muslim tak bersikap adil apalagi seorang pemimpin.
Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang selalu berjuang dan berada di garda terdepan bila rakyat ditindas, dianaiaya dan dizalimi. Sebvagaimana bunyi sebuah hadis, tidak ada dosa yang lebih cepat mendapat balasan kecuali menindas orang lain. Bagi para penindas, apalagi pemimpin yang suka menindas, tak hanya akan menerima hukuman di akhirat, tapi hukuman itu akan langsung diterimanya di dunia, cepat atau lambat.
Begitu pentingnya sifat keadilan mesti melekat pada diri seorang pemimpin, dalam salah satu mazhab Islam (Syi’ah) dikenal sebuah prinsip politik yang barangkali kedengaran musykil: lebih baik dipimpin oleh seorang pemimpin yang adil meskipun dia seorang non-Muslim ketimbang dipimpin seorang Muslim tapi tidak adil dan zalim. Prinsip ini dapat dipahami bahwa kita jangan terpesona hanya karena pemimpin itu melakukan shalat, berpusa dan berhaji. Yang mesti dinilai pada seorang pemimpin adalah, sejauh mana dia telah menjalankan amanah seperti bunyi nasehat Ali bin Abi Thalib di atas.

Kemudian Ali bin Abi Thalib menegaskan, Tuhan Maha Adil, keadilan itu harus mengalir dalam diri seorang manusia. Manusia dituntut adil terhadap Tuhan dan makhluknya. Agar adil kepada Tuhan, manusia dituntut beramal shaleh, bermoral dan memenuhi tujuan penciptaaannya yaitu menyembah Tuhan. Agar adil terhadap makhluk Tuhan, manusia harus memberikan setiap makhluk haknya dan bertindak terhadap makhluk-makhluk itu sesuai dengan hak-hak mereka.
Lebih jauh diingatkan Ali, pengaruh kekuasaan dapat begitu mudah merusak masyarakat, keadilan begitu mudah dibelokkan oleh penguasa yang zalim, menindas dan korup. Rakyat tak mungkin menjadi baik apabila penguasa mereka tidak baik dan tidak adil namun begitu pula sebaliknya, pemimpin sulit menjadi baik apabila mayoritas rakyatnya tidak baik. Bagaimanapun, pemimpin adalah representasi dari mayoritas rakyatnya.
Kepada seorang pemimpin mesti terus dipertanyakan, apakah amanah yang mereka sandang sudah sepenuhnya untuk menyejahterakan rakyat ataukah hanya untuk memuaskan diri mereka akan kenikmatan berkuasa dan abai dengan realitas yang sesungguhnya yang dialami rakyat.
Kepemimpinan dalam Islam adalah suatu syarat mutlak akan keberadaan suatu masyarakat, kaum dan bangsa. Kepemimpinan gunanya adalah untuk menegakkan hukum supaya berjalan dengan seksama, agar terwujud distribusi ekonomi supaya kekayaan tidak hanya berputar pada segelintir orang dan untuk mewujudkan kemajuan masyarakat lewat pendidikan.
Jika pemimpin mampu untuk bertindak adil, rakyat wajib mematuhinya, namun jika pemimpin zalim, rakyat wajib melawannya. Rakyat yang mayoritas baik akan melahirkan seorang pemimpin yang baik pula, begitu pula sebaliknya. Mungkin itulah maksud dari ayat yang dikutip pada awal tulisan di atas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 9 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 9 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 9 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: