Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Persembahan Seorang Janda

OPINI | 07 January 2010 | 15:41 Dibaca: 963   Komentar: 9   0

Minggu ini, saya mendapatkan pertanyaan menarik  ” Seandainya, ada dua orang yang memberikan persembahan kepada Tuhan. Yang pertama, seorang yang kaya raya. Ia menyumbang banyak uang ke bait Allah. Yang kedua, seorang janda miskin dan ia hanya memberi sedikit uang. Malahan ia memberikan koin terakhir yang ia punya. Lalu persembahan mana yang diterima Tuhan?”

“Sang janda” jawab saya. Teman saya tersenyum. Bukan tanpa alasan jawaban itu terlontar dari bibir saya. Jawaban ini adalah proses perenungan cukup lama.  Ada beberapa hal penting yang perlu kita sadari. Yang pertama, Tuhan melihat bahwa persembahan yang berarti adalah ketika kita  memberi dalam kekurangan, bukan kelebihan.

Saat  seseorang berdiri keadaan yang mapan dan berlimpah secara finansial, menyumbang pun menjadi sesuatu yang mudah dilakukan. Sedangkan, satu sisi ada banyak orang yang pas-pasan, namun ia menyumbang dengan kesungguhan hati. Hal itu kerap sulit dilakukan. Namun, itulah sumbangan  yang sangat berarti buat Tuhan.

Artinya, Tuhan tidak memandang pemberian seseorang itu dalam bentuk nominal dan kuantitas, namun kesungguhan hatinya untuk membantu sesama yang berkekurangan. Tuhan melihat hati yang ikhlas.

Lalu,  pertanyaan selanjutnya, “Kenapa Janda?” Kaum  janda memiliki historis yang panjang berkaitan dengan pencitraan. Janda sering dilekatkan pada konotasi buruk dalam pandangan masyarakat. Meski nilai peradaban kuno telah bergeser, kesan janda masih belum mendapatkan tempat layak dalam masyarakat kita. Banyaknya santunan yang mendahulukan janda, setidaknya mengindikasikan bahwa, seorang perempuan tanpa suami (baik sudah bercerai ataupun ditinggal mati) mengindikasikan “kaum yang lemah dan tidak mampu”

Selain itu, beribu-ribu tahun lamanya, janda memiliki arti yang miring, artinya janda masuk dalam kelas yang tidak akan dianggap. Sekarang pun, makna janda seolah tidak berubah, dengan adanya label-label ‘janda kembang’, untuk menjelaskan janda yang masih muda dan cantik, serta idola se-RT. Sementara itu, tidak pernah ada istilah, ‘duda kembang’.  Janda masuk dalam kategori kaum terpinggirkan atau kaum kedua, yaitu pihak yang tertindas

Namun melalui peristiwa Janda, Tuhan lebih melihat persembahan dari kaum yang tertindas, yang mungkin selama ini dianggap kecil. Beberapa orang masih beranggapan, kaum miskin tidak mampu membawa mahar yang begitu mahal. Namun, melalui perenungan ini, pesan apakah yang dapat kita tangkap?

Saya percaya bahwa, persembahan di mana pun kita berikan, baik di tempat ibadah, kegiatan amal dan kemanusiaan begitu penting dan memiliki nilai yang berarti. Satu sisi,  perlu disadari bahwa pemberian dalam bentuk fisik tidak selamanya tepat.

Ada banyak mereka yang menyumbang hanya untuk sebagai ajang pamer. Tujuannya, untuk menunjukkan status sosial yang mereka sandang dan gila pujian. Pernah suatu kali, teman saya yang memiliki bisnis  sering membelikan kaos-kaos cantik kepada teman-temannya seharga Rp 300 ribu. Buat saya ukuran itu cukup mahal. Namun ia senantiasa memberikan kaos tersebut dengan senang hati, bahkan ketika saya tidak meminta, dia tanpa segan-segan membelikannya dan mengirimnya pada saya. Lalu tindakan itu juga dilakukan pada teman-teman saya yang lainnya.

Bukan tidak menghargainya, saya hanya berusaha mengingatkan dia bahwa pemberian itu terlampau mubazir karena ia kerap melakukannya berulang-ulang pada orang-orang terdekat, mulai dari sepatu bermerek, tas, parfum dan lain sebagainya.  Bagai gula yang dirubung semut, semua teman mendekatinya karena ingin kecipratan barang-barang mewah. Artinya, tidak ada ketulusan. Pemberian ini pun menjadi ajangnya untuk mendapatkan pengakuan tersendiri dalam dunia  pergaulan.

Selain itu, pemberian mubazir tentunya bisa kita lihat pada cara pemerintah memberikan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT)  sekitar Rp 300 ribu pada rakyat miskin. Cara ini tidak efisien untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan bangsa Indonesia.

Menurut informasi www.antara.co.id edisi 26/05/2008, bahwa Sekitar Rp43,8 miliar dana bantuan langsung tunai (BLT) telah diterima oleh 146.286 rumah tangga sasaran (RTS) di 10 kota, sejak Sabtu (24/5) hingga Senin (26/5) pukul 10.00 WIB. Bukan jumlah yang sedikit bukan?

Lalu apa manfaatnya sekarang?  uang yang disebar begitu saja ke berbagai kota akan habis sesaat dan selanjutnya, si penerimanya akan gigit jari, dan tidak tau besok harus meminta pada siapa lagi?

Seandainya saja, jumlah uang yang besar itu dapat disalurkan untuk pemberdayaan masyarakat perdesaan. Misalnya dengan membangun sektor perindustrian. Masyarakat pun dibekali keterampilan pelatihan,  bisnisnya pun diolah secara serius. Dengan begitu,  masyarakat akan bangkit secara mentalitas dan perekonomian kerakyatan akan meningkat.

Dana yang besar itu, tentunya bisa dipakai  untuk membangun sebuah komoditi bisnis atau memanfaatkan kekayaan alam yang anda untuk diolah, dimana masyarakat diberikan pelatihan. Selain itu dana bisa dialokasikan untuk membeli barang-barang penunjang usaha. Plus, mencarikan juga pasarnya dan jalan penyaluran produk.  Bukan tidak mungkin, hal ini dapat menyelamatkan perekonomian nasional serta menyerap tenaga kerja.

Selanjutnya, hal ini akan membuat masyarakat sejahtera dengan cara yang mandiri. Secara moral, masyarakat  memiliki penghargaan tersendiri dengan bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Nah, menurut saya itu salah satu contoh pemberian mubazir dalam ranah nasional. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Menyoal memberi sepertinya kita harus belajar dari seorang janda. Ada banyak dari kita pun yang sering menyumbang karena sekedar menjalankan perintah agama. Kita masih mengadopsi pemikiran lama bahwa, menyumbang adalah rutinitas yang wajib dan sebagai agenda tahunan. Apalagi menyumbang besar-besaran kerap getol dilakukan ketika hari raya. Bukan tidak setuju! Namun, seringkali pemberian yang kita lakukan hambar dan tanpa makna.

Barangkali banyak dari kita pun seringkali mengartikan, dengan memberi dalam jumlah besar, berarti kita mendapat jatah kursi surga sebesar-besarnya.  Hal ini mengindikasian bahwa, dibalik sumbangan, ada timbal balik yang kita harapkan. Ada udang dibalik batu.

Hal ini mengingatkan saya pada pemberian bantuan dari beberapa orang yang saya kenal.  Suatu saat ada orang butuh pekerjaan.  Teman saya Joni (bukan nama sebenarnya) membantu orang tersebut untuk bekerja di perusahaannya. Namun joni membuat syarat, kalau  orang tersebut harus mau masuk dalam agama yang dianut Joni.

Itu bukanlah sebuah pemberian bantuan yang diinginkan Tuhan,  karena ada tidak ada cinta didalamnya. Cinta pada dasarnya itu memberi dengan tulus, tanpa embel-embel mengharapkan sesuatu. Cinta yang murni adalah cinta tanpa syarat.

Lalu, sebagai sesuatu yang begitu kecil di hadapan Tuhan, apa persembahan yang Ia minta dari manusia? Sebagai seorang karyawan, apa yang Tuhan inginkan dari saya? Apa persembahan yang pantas untuk saya bawa?

saya teringat peristiwa Abraham yang menyerahkan Iskak pada Tuhan. Saat itu, Abraham bertanya pada Tuhan, “Apa yang Tuhan minta dari saya?” Tuhan pun meminta Abraham menyembelih Iskak sebagai kurban. Abraham pun menyetujuinya. Walau akhirnya, Tuhan benar-benar tidak menginginkan hal itu. Toh, Iskak diganti dengan hewan.

Sebenarnya Tuhan ingin melihat sejauh mana kepatuhan Abraham sebagai hamba Tuhan. Kita tahu, pada dasarnya, kedekatan yang paling esensial adalah hubungan antara orangtua dan anak. Bisa dibayangkan hancurnya perasaan orangtua ketika harus kehilangan anaknya.

Melalui Abraham dan Iskak, persembahan yang Tuhan inginkan adalah kerelaan suatu hati. Kalaupun Tuhan ingin mengambil sesuatu yang berharga dalam kehidupan manusia, Tuhan silakan ambil. Kita selayaknya tetap bersyukur. Itulah makna sebuah persembahan sesungguhnya.

Keiklasan dan kepasrahan, serta penyerahan diri secara total kepada Tuhan adalah persembahan terpenting dalam hidup kita.  Persembahan adalah sebuah menyerahkan segala permasalahan kepada Tuhan, termasuk bagaimana kita harus bekerja agar ikhtiar kita berguna bagi khalayak.

Seringkali kita terjebak pada rutinitas akan pekerjaan, dimana tuntutan untuk masuk ke dalam kehidupan serba luxury begitu menggiurkan. Bagai candu kita terus mengejarnya, sehingga kita sering tidak puas akan uang dan jabatan yang kita raih. Kita lupa bahwa, kedua hal itu bukan segalanya. Kita pun tidak tahu bahwa, tujuan kita bekerja sebenarnya untuk memuliakan kebesaran nama-Nya.

Saya sering berdecak kagum pada nama-nama besar dunia, seperti Mother Theresa, Mahatma Ghandi, Mohammad Yunus, Gus Dur, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang ditinggikan karena kerendahan hatinya. Bahwa mereka tinggal sesuai jamannya. Mereka hidup dalam ketidakadilan. Lalu, mereka memulainya dengan memikirkan nasib rakyat kecil.

Jadi mari kita bertanya, “Buat apa kita lahir ke dunia ini?”Dalam hati saya terus mencari jawaban itu dan berdoa, “ya Tuhan terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”

Semoga tulisan ini menguatkan teman-teman. Biarlah tulisan ini menjadi berkat, pelepas dahaga, dan menghibur kita di tengah situasi bangsa yang terporak poranda ini. Mohon saran, dan maaf apabila menyinggung perasaan Anda. Pada dasarnya, artikel ini ditulis dengan cinta.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: