Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Victor Hamel

Tinggal di Bali.

Yesus Sang Naturalis: Meredakan Angin Taufan

OPINI | 29 December 2009 | 19:00 Dibaca: 878   Komentar: 4   1

(39) Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali….(41) Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Markus 4:39, 41)

Pemahaman tentang kuasa Yesus meredakan angin ribut telah menjadi cerita populer di kalangan umat Kristiani apalagi di kalangan anak-anak sekolah minggu. Cerita ini selalu ditujukan kepada kuasa Tuhan Yesus atas taufan yang sangat dahsyat yang menyebabkan ombak besar sehingga perahu Yesus dan murid-muridnya hampir tenggelam. “Untunglah”– demikian sering dikatakan guru sekolah minggu kepada anak-anak sekolah minggu – ada Tuhan Yesus yang berkuasa atas angin taufan yang besar itu. Dan ending dari cerita ini sangat menyenangkan hati, angin diam, Tuhan Yesus berkuasa dan murid-murid selamat.

Namun demikian jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah teks ini dihubungkan dengan bagaimana Yesus melakukan komunikasi dengan angin taufan dan danau itu, seperti dituliskan dalam teks Injil: “ ..Ia pun bangun menghardik angin itu dan berkata kepada danau: Diam! Tenanglah!”. Tak penting apakah Yesus marah terhadap angin dan danau, tetapi satu hal yang penting adalah bahwa Yesus telah membangun sebuah komunikasi verbal terhadap angin taufan dan danau. Apakah Yesus menjadi orang yang aneh karena berbicara dengan angin dan danau? Jika pertanyaan ini ini ada dalam pikiran kita, sebenarnya kita sama dengan murid-murid yang bertanya “Siapakah gerangan orang ini sehingga angin dan danau pun taat kepada Nya”? Mungkin kita saat ini dengan mudah akan menjawab karena Yesus berkuasa atas isi dunia ini. Ini tentu jawaban klasik karena kita sudah tahu pasti Yesus berkuasa atas semua ciptaan. Tetapi ide tentang Yesus yang berkomunikasi dengan angin dan danau adalah sebuah makna yang jauh lebih penting juga untuk dipahami. Komunikasi Yesus dengan angin dan danau ini tidak usah harus dipahami dalam kaca mata mistis. Tetapi baiklah hal ini dipahami dalam pemahaman bahwa manusia dan alam ciptaan adalah sebuah karya cipta yang komunikatif. Makna karya cipta yang komunikatif antara manusia dan alam semesta adalah sebuah karya cipta yang saling membangun, menguatkan, mendamaikan, menumbuhkan dan memberi makna saling memperbaiki. Dengan demikian manusia tidak saja diharapkan memiliki komunikasi yang efektif dengan sesama manusia tetapi juga dengan alam ciptaan lainnya. Kehilangan komunikasi antara manusia dan alam ciptaan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan alamiah dalam bumi ini. Kerusakan alam, penebangan pohon yang berlebihan, abrasi pantai, eksploitasi alam yang berlebihan, dsb., dan kemudian mengakibatkan bencana-bencana alam, sebaiknya juga dilihat dalam konteks hilangnya komunikasi manusia dan alam semesta.

Jadi, cerita Yesus mendiamkan angin taufan dan ombak di danau bukan saja cerita yang memberitakan akan makna kuasa Yesus – itu benar – tetapi juga sebuah cerita yang menegur kita untuk kembali pada hakekat kita yang semula bahwa manusia dan alam semesta adalah sebuah karya cipta yang komunikatif dalam keutuhan ciptaan-Nya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 17 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 17 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 18 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 18 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: