Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Victor Hamel

Tinggal di Bali.

Sikap Politis Yesus

REP | 27 December 2009 | 17:44 Dibaca: 316   Komentar: 2   0

- Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan,….( Markus 8:1)
- Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
(Markus 6:41)

Cerita mengenai peristiwa mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang (Markus 6:35-44) dan empat ribu orang (Markus 8:1-10) merupakan sebuah cerita popular di kalangan umat Kristen, yang telah diceritakan sejak masih duduk di bangku sekolah minggu. Ceritanya pasti tentang mukjizat Tuhan Yesus. Tetapi ada sisi yang sering kali terlupakan dalam cerita ini, yaitu posisi massa atau rakyat yang hadir pada saat itu. Kalau membaca teks pertama di atas maka nampaknya jenis massa / rakyat yang hadir adalah dari kelompok kelas menengah ke bawah. Mereka hadir bahkan dalam keadaan lapar (tidak mempunyai makanan).

Situasi ini sangat politis. Biasanya orang dalam keadaan demikian paling mudah untuk di gerakan sebagai sebuah gerakan pemberontakan terhadap kekuasaan yang hegemonik. Dan menurut saya Yesus tahu betul akan keadaan itu. Dalam hal pengumpulan massa /rakyat, Yesus telah berada di ‘atas angin’. Tetapi menarik melihat cerita dalam teks ini, yaitu bahwa percakapan mengenai massa/Rakyat yang besar dan kelaparan itu tidak memiliki korelasi dengan persoalan kekuasaan. Percakapannya malah menjadi sebuah percapakan biasa saja yaitu mengenai masalah perut – makanan.

Namun bagi saya, Yesus bukan tidak memiliki sikap politik pada konteks ini. Justru sikap politik Yesus sangat dinampakan yaitu keberpihakanNya pada massa/rakyat dalam hal menjawab kebutuhan yang sebenarnya dari massa/rakyat tersebut. Bahkan sikap politik itu ditandai dengan membangun sistem ekonomi politik yang sangat pro rakyat. Yesus mengembangakan potensi lokalitas (lima roti dan dua ikan) menjadi sebuah potensi ekonomi politik yang massif yang secara simbolis menentang ekonomi politik kaum kapitalis Romawi dan para agamawan Farisi/Sanhendrin. Jadi dalam cerita ini tindakan memberi makan lima ribu orang oleh Yesus bukan selalu harus ditafsirkan dalam pemahaman mengenai sikap sosial gereja yang cenderung bersifat charity, tetapi baiklah juga memberikan pemaknaan terhadap pembelajaran politik. Pembelajaran politik itu adalah mengenai sikap anti kolonialisme yang pro kapitalis dan sentralistik, dan sebaliknya menjunjung tinggi sikap politik yang pro rakyat dan dengan menjunjung tinggi sistem ekonomi kerakyatan yang menghargai keragaman (potensi lokal yang heterogen dalam simbol lima roti dan dua ikan).

** Gaya berpolitik gereja sebaiknya berada dalam ranah yang dimainkan oleh Yesus: menjawab masalah kekinian dengan mengenal dengan baik konteks dimana gereja berada dan akhirnya membangun sistem ekonomi politik yang berorientasi pada potensi lokalitas (dan yang menghargai heterogenitas), bukan kekuasaan!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Review “Supernova: Gelombang” : Kisah …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Guru Destiani, Menulis dan Menginspirasi …

Adian Saputra | 8 jam lalu

Karya Arek ITATS: Game Tooth Kid “Sang …

Xserver Indonesia | 8 jam lalu

Dua Ribu Rasa …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Guru Menulis Berdiri, Siswa Menulis Berlari …

Muhammad Irsani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: