Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Iwanpiliang

Aktifitas Sosial : Citizen Reporter, Bisnis: Rumah Makan Padang, Eksportir Furniture Heritage, meja dari kayu selengkapnya

Opini: Indonesia Terjangkit Vickynisasi-sasi

OPINI | 12 September 2013 | 12:51 Dibaca: 2432   Komentar: 10   6

TEMPO pekan ini menulis Memoar Jus Badudu, berjudul Gurunya Guru Bahasa Indonesia. Setelah membaca tulisan di majalah itu saya memahat penggalan kalimat, lalu mematrikan ke benak bahwa pengajaran Bahasa Indonesia dan Sastra di sekolah-sekolah telah gagal. Gagal mendidik siswa berbahasa lisan dan tulisan baik dan benar.

Selasa dan Rabu, 11-12 September kemarin saya menjadi fasilitator pelatihan menulis feature, literair, yang diadakan Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) untuk kelompok usaha Astra International Tbk., di Hotel Kinasih, Caringin, Bogor. Kepada peserta berjumlah 12 orang, saya minta panitia membagi fotokopi memoar Jus Badudu itu, dengan harapan mereka kian sadar sangat penting berbahasa tutur dan tulisan benar.

Di setiap menjadi fasilitator, acap saya katakan bahwa bahasa adalah logika. Membenahi logika, termasuk mengajak taat keadah ke pengertian dasar, rajin membuka Kamus Bahasa Indonesia, beli buku Ejaan Yang Baik dan Disempurnakan, dibaca; tidak anggap enteng menulis di menyatakan tempat lalu digabung, padahal harus dipisah seperti: di muka.

Satu kalimat satu pokok pikiran, dan seterusnya. Kalimat bermuatan Subjek Predikat Objek Keterangan (SPOK). Di televisi beberapa kali saya sampaikan jika pembicaraan ngalor-ngidul tentang sesuatu, lalu saya merujuk mari kembali ke SPOK, tidak sebatas ketengan-keterangan, tanpa subjek, tanpa predikat, tanpa objek. Penonton biasanya senang lalu tertawa menyimak ihwal kembali ke SPOK itu.

Hari ini, anak saya mengingatkan akan video di youtube.com. Link berisikan penggalan rekaman wawancara Vicky Prasetyo, suami gagal Sazkia Gotik di sebuah infotaimen. Juga penggalan pidato Vicky di saat menjadi calon Kepala Desa Karang Asih. Untuk rekaman video kedua saya tak paham, hal itu memang betulan atau sebatas dagelan. Saya tanyakan ke beberapa kawan katanya hal itu nyata.

Maka dari dua rekaman itu muncullah kata melekat diingatan; 29 my age, rindu apreasiasi, harmonisisasi, konspirasi kemakmuran, statusisasi, kontroversi hati, kudeta keinginan, mempertakut …Di satu sisi, Vicky kreatif memperkenalkan istilah baru; konspirasi kemakmuran; kudeta keinginan. Akan tetapi membuat hati ini geli lalu perut sakit menahan gelak-tawa, Vicky menggado-gadokan bahasa Indonesia dengan beberapa penggalan kata Bahasa Inggris tidak pas. Seperti penggalan, “Iam from the birthday in Karang Asih…” Mungkin maksudnya I was born dan seterusnya.

Fenomena apa pula ini?

Bagi saya di tengah berita kedelai langka, berita korupsi dan kasus TSK Hambalang sebatas “akan” dituntaskan dan ditahan, lalu penembakan polisi oleh pihak tak jelas, kebosanan publik menyimak langgam pemerintahan SBY, lalu media dan publik seakan tersihir dengan tampilnya Jokowi merakyat, hingga kemana pun Jokowi pergi mendapatkan sambutan, tontotan akan sosok Vicky menjadi menghibur.

Setidaknya ia telah memberi oase bagi kalangan menangah di media sosial untuk ngakak. Hampir sebagian besar status kawan-kawan pemegang Black Berry, menuliskan kata-kata ber-embel-embel: sasi-sasi. Tadinya saya tak paham mengapa semua pada ber-sasi-sasi? O, ternyata terkena wabah virus Vickynisasi.

Maka dari kenyatan terbaru ini, Vickynisasi itu, sejatinyalah  kita semua bisa bercermin, berkaca diri, terutama bagi para pemangku jabatan publik, terlebih pemimpin tertinggi, bangsa dan negara, bahwa kita membangun hingga hari ini sebatas vickynisasi. Boro-boro meng-kanalisasi-kan berbagai kota agar drainasenya baik dan benar.

@iwanpiliang, citizen reporter

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Main ke Jogja, Mari Mampir ke Youthphoria …

Widioke | | 01 November 2014 | 13:09

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

DIY = Do It Yourself, Cara Membuat Teh …

Gitanyali Ratitia | | 01 November 2014 | 17:24

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | | 01 November 2014 | 19:54


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | 8 jam lalu

I Love My Job and I Love My Small Team …

Adolf Isaac Deda | 9 jam lalu

Pemimpin untuk Kepentingan Bersama dan atau …

Adrian Mamahit | 9 jam lalu

Nangkring “Tokoh Bicara”: Bupati …

Kompasiana | 9 jam lalu

Puisi untuk Pergantianmu …

Salimun Abenanza | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: