Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Iwanpiliang

Aktifitas Sosial : Citizen Reporter, Bisnis: Rumah Makan Padang, Eksportir Furniture Heritage, meja dari kayu selengkapnya

Opini: Indonesia Terjangkit Vickynisasi-sasi

OPINI | 12 September 2013 | 12:51 Dibaca: 2460   Komentar: 10   6

TEMPO pekan ini menulis Memoar Jus Badudu, berjudul Gurunya Guru Bahasa Indonesia. Setelah membaca tulisan di majalah itu saya memahat penggalan kalimat, lalu mematrikan ke benak bahwa pengajaran Bahasa Indonesia dan Sastra di sekolah-sekolah telah gagal. Gagal mendidik siswa berbahasa lisan dan tulisan baik dan benar.

Selasa dan Rabu, 11-12 September kemarin saya menjadi fasilitator pelatihan menulis feature, literair, yang diadakan Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) untuk kelompok usaha Astra International Tbk., di Hotel Kinasih, Caringin, Bogor. Kepada peserta berjumlah 12 orang, saya minta panitia membagi fotokopi memoar Jus Badudu itu, dengan harapan mereka kian sadar sangat penting berbahasa tutur dan tulisan benar.

Di setiap menjadi fasilitator, acap saya katakan bahwa bahasa adalah logika. Membenahi logika, termasuk mengajak taat keadah ke pengertian dasar, rajin membuka Kamus Bahasa Indonesia, beli buku Ejaan Yang Baik dan Disempurnakan, dibaca; tidak anggap enteng menulis di menyatakan tempat lalu digabung, padahal harus dipisah seperti: di muka.

Satu kalimat satu pokok pikiran, dan seterusnya. Kalimat bermuatan Subjek Predikat Objek Keterangan (SPOK). Di televisi beberapa kali saya sampaikan jika pembicaraan ngalor-ngidul tentang sesuatu, lalu saya merujuk mari kembali ke SPOK, tidak sebatas ketengan-keterangan, tanpa subjek, tanpa predikat, tanpa objek. Penonton biasanya senang lalu tertawa menyimak ihwal kembali ke SPOK itu.

Hari ini, anak saya mengingatkan akan video di youtube.com. Link berisikan penggalan rekaman wawancara Vicky Prasetyo, suami gagal Sazkia Gotik di sebuah infotaimen. Juga penggalan pidato Vicky di saat menjadi calon Kepala Desa Karang Asih. Untuk rekaman video kedua saya tak paham, hal itu memang betulan atau sebatas dagelan. Saya tanyakan ke beberapa kawan katanya hal itu nyata.

Maka dari dua rekaman itu muncullah kata melekat diingatan; 29 my age, rindu apreasiasi, harmonisisasi, konspirasi kemakmuran, statusisasi, kontroversi hati, kudeta keinginan, mempertakut …Di satu sisi, Vicky kreatif memperkenalkan istilah baru; konspirasi kemakmuran; kudeta keinginan. Akan tetapi membuat hati ini geli lalu perut sakit menahan gelak-tawa, Vicky menggado-gadokan bahasa Indonesia dengan beberapa penggalan kata Bahasa Inggris tidak pas. Seperti penggalan, “Iam from the birthday in Karang Asih…” Mungkin maksudnya I was born dan seterusnya.

Fenomena apa pula ini?

Bagi saya di tengah berita kedelai langka, berita korupsi dan kasus TSK Hambalang sebatas “akan” dituntaskan dan ditahan, lalu penembakan polisi oleh pihak tak jelas, kebosanan publik menyimak langgam pemerintahan SBY, lalu media dan publik seakan tersihir dengan tampilnya Jokowi merakyat, hingga kemana pun Jokowi pergi mendapatkan sambutan, tontotan akan sosok Vicky menjadi menghibur.

Setidaknya ia telah memberi oase bagi kalangan menangah di media sosial untuk ngakak. Hampir sebagian besar status kawan-kawan pemegang Black Berry, menuliskan kata-kata ber-embel-embel: sasi-sasi. Tadinya saya tak paham mengapa semua pada ber-sasi-sasi? O, ternyata terkena wabah virus Vickynisasi.

Maka dari kenyatan terbaru ini, Vickynisasi itu, sejatinyalah  kita semua bisa bercermin, berkaca diri, terutama bagi para pemangku jabatan publik, terlebih pemimpin tertinggi, bangsa dan negara, bahwa kita membangun hingga hari ini sebatas vickynisasi. Boro-boro meng-kanalisasi-kan berbagai kota agar drainasenya baik dan benar.

@iwanpiliang, citizen reporter

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Beginilah, Bila Sesama Tunanetra Saling …

Gapey Sandy | | 23 May 2015 | 07:51

Kisah Penghapusan Skripsi di Perguruan …

Muhammad Armand | | 23 May 2015 | 07:07

Kompasiana Seminar Nasional: Harapan serta …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 15:58

Keyboard Komputer yang Kita Pakai …

Herman R. Soetisna | | 23 May 2015 | 05:55

Blog Competition: Kotaku Kota Cerdas! …

Kompasiana | | 27 April 2015 | 01:52


TRENDING ARTICLES

Favorit Bule, PSK Eksotis Indonesia dibayar …

Riana Dewie | 4 jam lalu

Dihantui Rasa Bersalah ,Tehnisi QZ8501 Bunuh …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Deadline FIFA Seminggu Lagi, PSSI justru …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Belajar dari Jokowi memilih 9 Wanita …

Imam Kodri | 6 jam lalu

Jokowi Merekrut Orang Gila Agar Bisa Tetap …

Ahmad Maulana S | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: