Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Moh. Hariyaditl

Guru Matematika SMA Tunas Luhur Paiton Probolinggo Ingin menciptakan pembelajaran matematika yang Kreatif, inovatif dan Humanis selengkapnya

Aku Dikejar Target oleh Kurikulum 2013

OPINI | 08 September 2013 | 14:43 Dibaca: 189   Komentar: 1   0

Setelah mencermati rasionalisasi kurikulum 2013, kami berfikir kembali memang perbedaan yang mencolok dengan kurikulum lama atau KTSP adalah siswa cenderung dituntuk mencermati materi yang ada berdasarkan kontektual yang ada disekitar siswa, dengan siswa adalah pelaku untuk mengembangkan diri dengan difasilitasi oleh guru.

Masalah implementasi kurikulum 2013 ini memang masih dilemma, sebelum akhir semester 2 kemarin kami pernah mengundang dari Puskur untuk memberikan gambaran tentang kurikulum 2013. Sekolah Kami bukan merupakan pilot projek tetapi kami mengajukan diri yang disetujui oleh diknas kabupaten untuk melaksanakan kurikulum 2013 dengan biaya mandiri. Pihak sekolah dan yayasan serta komite sekolah kami sepakat untuk melaksanakan kurikulum 2013 itu dengan mandiri. Dari PUSKUR ada kata yang kurang memuaskan yaitu yang ditunjuk atau pilot projek aja masih santai kok sekolah bapak sudah griduh, SK Dirjen Pendididkan tentang Kurikulum aja belum ditanda tangani kok bapak ibu sudah melaksanakan, seumpama nanti tidak jadi gimana? ……. Kami sudah agak bimbang dengan pernyataan itu. Kasek Kurikulum sudah memetakan secara rijit tentang jadwal pembagian tugas mengajar sesuai dengan kurikulum 2013 ketika mendengan bahasa seperti itu langsung Galau… Wal Hasil setelah workshop dengan pemateri dari pusat ini tidak ada kejelasan sekolah kami, apakah mundur atau maju alias melaksanakan kurikulum 2013.

Hari H, tahun ajaran baru sudah sampai tepatnya tanggal 15 Juli 2013. Karena selama liburan tidak ada kejelasan maka kami belum membuat perangkat pembelajaran untuk kurikulum 2013. Kepala sekolah memberi batasan 1 minggu untuk membuat perangkat pembelajaran sebisanya sesuai dengan konteks kurikulum 2013. Dan kami membuat sebisanya pas saya adalah guru kelas X, buka belum ada karena bukan pilot projek dan kami terpaksa meminjam sekolah tetangga untuk mengkopi buku siswa. Itulah yang kami buat acuan dalam pembelajaran sampai sekarang. SEHINGGA DALAM SATU MINGGU SEMUA PERANGKAT HARUS SELESAI dan di tanda tangani oleh kepala sekolah. Lumayan harus mengfokuskan membuatnya. Ohhh Kurikulum 2013, semoga membawa masa depan menjadi lebih baik.

Mengenai penilaian Scientific terdiri dari mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran yang merupakan kegiatan yang ada dalam tiap pembelajaran kita sedangkan penilaian autentik (autentics assessment ) merupakan penilaian yang mengarah pada sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang ini juga agak membuat guru harus ektra dalam mengajar karena guru harus mengetahui tiap siswa agar siswa bisa mengukur penilaian autentik itu.

Untuk penilaian sikap itu hasil dari semua kegiatan pembelajaran yang kita amati tidak pada waktu belajar saja. Kalo kami dalam pembelajaran sendiri diawal kami sampaikan sikap apa saja ƔªϞƍ akan lakukan pada materi itu, dan juga pada waktu sesi penutupan kita sampaikan hasil sikapnya sehingga penanaman sikap ƔªϞƍ diulang-ulang dan siswa langsung mempraktekkan dalam sekala kelas maka nantinya di harapkan dalam kehidupannya terbiasa juga melasanakan sikap tersebut, begitu juga penilaian pengetahuan dan ketrampilan siswa.

Dengan berbagai argument atau pendapat yang ada, menurut kami kurikulum apapun bukankah hal yang menjadikan kita masalah utama, sebenarnya yang kita inginkan adalah siswa yang mengerti dan memahami konsep hidup mereka nantinya, dengan bermodalkan pengalaman yang mereka terima dibangku sekolah ini adalah modal awal untuk mereka gunakan nantinya untuk dirinya, keluarganya dan bangsa. Yang membuat atau yang mengatur kurikulum adalah kebijakan yang kadang dalam pelaksanakan tergantung siapa dan dimana implementasi itu terlaksanakan, sehingga kami/saya sendiri guru pelajaran lebih praktis gimana siswa mengerti makna hidupnya dan menguasai materi buat masa depannya.

Salam sukses untuk mengemban amanah bangsa, dengan prioritas siswa adalah calon generasi yang akan datang yang nantinya akan memimpin bangsa ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 12 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 14 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: