Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pong Sahidy

pong sahidy. orang jombang: ada ijo ada abang.

Melatih Guru Meniupkan “Ruh” Kehidupan

OPINI | 16 July 2013 | 01:30 Dibaca: 312   Komentar: 3   2

Di awal tahun pelajaran baru 2013 / 2014 kita ucapkan selamat datang kurikulum 2013. Selamat datang pula grand design baru model pembelajaran yang menginspirasi dan membebaskan. Kepada para guru dan siswa selamat menyongsong gilang gemilang cahaya pendidikan yang menerangi gelap.

Harapan baru layak disandangkan pada kurikulum 2013 selama perubahan paradigma dan mindset guru berubah. Substansi kurikulum 2013 menuntut perubahan mindset dari guru-robot menjadi guru-manusia. Guru-robot adalah guru tanpa ruh, tanpa nyawa, tanpa kehidupan. Guru-robot menjadi mesin pembunuh harkat kehidupan yang bersemayam dalam diri siswa. Siswa menjadi deretan angka-angka kognitif yang terbelah menjadi anak pintar dan anak bodoh.

Guru-manusia adalah guru yang meniupkan “ruh” kehidupan. Siswa bukan sekedar deret hitung nilai kognitif. Siswa adalah manusia, hamba Tuhan, yang dibekali potensi hidup. Guru-manusia berikhtiar menghidupkan potensi dan harkat hidup yang bersemayam dalam diri setiap siswa. Cakrawala potensi itu dibuka oleh guru-manusia di dalam kelas pembelajaran. Pendidik dan yang dididik adalah mitra dalam kafilah perjalanan menuju manusia bermartabat di hadapan Tuhan.

Semua itu dapat terwujud dengan meluruhkan ego bahwa guru bukan satu-satunya pusat pengetahuan. Guru-manusia sungguh insan berendah hati: ia tidak menjadikan dirinya pusat ilmu dan pengetahuan. Sepenuhnya ia sadar bahwa dirinya adalah kepanjangan tangan Tuhan yang menyalurkan ilmu-Nya. Sedangkan ilmu Tuhan bertebaran dimana saja: ruang kelas, perpustakaan, kebun, lapangan, hutan, sungai, gunung, pasar, terminal. Tumbuh-tumbuhan, jangkrik, tanah, air, dan semua ciptaan Tuhan dimanfaatkan menjadi media pembelajaran.

Mengubah dan menghasilkan mindset guru seperti itu tidak mudah. Bukan dengan pelatihan 5 x 24 jam lantas tiba-tiba mindset jutaan guru Indonesia berubah. Dibutuhkan belajar seumur hidup agar guru menjadi mitra kafilah bersama siswanya menuju rumah cahaya Tuhan.

Jadi, yang dibutuhkan bukan sekedar keterampilan teknis menyusun RPP, evaluasi, dan bahan ajar. Lebih dari itu: kesuksesan implementasi kurikulum 2013 bergantung pada sejauh mana stamina pemerintah dan guru melakoni jalan panjang menerapkan substansi pendidikan yang memanusiakan manusia.

Sikap kritis harus tetap ditujukan pada pemerintah agar tidak berhenti dan merasa cukup membekali guru dengan keterampilan teknis. Apapun kurikulumnya, selama itu kurikulum untuk memanusiakan manusia, hanya 20 % keterampilan teknik yang dibutuhkan. Sisanya, 80% keberhasilan implementasi kurikulum dipengaruhi oleh bangunan mindset guru yang menginspirasi siswa dalam proses pembelajaran.

Jika stamina belajar para guru loyo, niscaya pendidikan nasional akan mengalami mati suri. Laa yamuutu wa laa yahya. Mati tidak, hidup pun tidak. []

Pong Sahidy

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 20 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: