Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Zul Hendri Nov

saya sangat ingin menjadi make of change untuk indonesia, melakukan perubahan untuk keluarga,agama dan bangsa selengkapnya

Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah: Perbedaan Itu Indah

OPINI | 08 July 2013 | 17:56 Dibaca: 1858   Komentar: 3   1

Setiap tahun-nya kita dipusingkan oleh perbedaan pendapat yang sangat kental terasa dalam penetapan awal ramadhan,syawal dan tanggal-tanggal besar lainya dibulan hijriah. perdebatan yang terjadi tidak lain dan tidak bukan dikarenakan karena perbedaan persepsi dalam mengkonsumsi kepercayaan. Perbedaan yang sering terjadi antara pihak muhammadiyah dan nahdatul ulama di negeri ini. dua wadah besar yang menjadi kutub bagi masyarakat indonesia untuk di ikuti dalam menjalankan aktifitas kegamaan seperti puasa,hari raya idul fitri, idul adha dan banyak hal mengenai hari-hari besar dalam ajaran islam.

Perbedaan diantara keduanya sering kali menimbulkan pertanyaan yang besar bagi masyarakat yang awam terhadap perbedaan dan perdebatan tersebut. Dan berbagai komentarpun datang, ada yang mengatakan bahwasanya islam kok terpecah belah, ada yang mengatakan antara salah satu dari muhammadiyah atau NU yang benar dan adapula  yang mengatakan perbedaan itu biasa dan wajar karena tidak semua kita memiliki persepsi dan pandangan yang sama. Terlepas dari komentar tersebut tentu saja kita juga ingin tau dan menggali apakah antara perbedaan ini ada yang benar dan salahnya atau kedua ini sama-sama benar?

Perbedaan penetapan tanggal biasanya terjadi awal ramadhan dan awal syawal keduanya sebetulnya tidak ada yang salah dan menurut penulis sama-sama benar tergantung dari Innamal A’amalu Binniati (niat dalm menjalankan) yang salah adalah ketika kita tidak menjalankan ibadah tersebut. Disini penulis meilhat Hanya tafsir kajian yang digunakan saja yang berbeda untuk menetapkanya. Biasanya muhammadiyah menggunakan metode hisab rukiyah (melihat penampakan bulan atau hilal baik digunakan menggunakan mata telanjang ataupun teropong penunjang) dan NU menggunakan metode rukiyatul hilal (yaitu perhitungan menggunakan alat ukur baik secara astronomis dan perhitungan metamatikanya). Tentu saja kedua pemegang metode ini memiliki landasan dan hadit’s masing-masing dalam memperkuat pendapat mereka dan jika dikaji terus tidak akan menui siapa yang benar karena tentu dari setiap mereka akan berusaha mempertahankan pendapat mereka masing-masing.

Namun disini kita tidak mengkaji perdebatan hadit’s tersebut karena kita disini hanya melihat antara perdebatan tersebut menuai persepsi yang membuat bingung masyarakat sebenarnya siapa yang mesti di ikuti untuk hal ini dalam memulai awal ramadhan,syawal dan tanggal-tanggal besar lainya di tahun hijriah.Kalau penulis boleh analogikan seperti mata uang logam yang mempunyai dua sisi dimana antara sisi gambar (muhamadiyah) dan angka (NU). Keduanya saling memiliki kesamaan dan tujuan dan pada hakikatnya sama untuk digunakan sebagai alat tukar (ibadah).  Didalam ilmu psikologinya perbedaan persepsi itu wajar karena setiap kita memiliki satu pandangan yang berbada. namun bagaimana kita memilah dan meyakini mana yang paling mendekati kebenaran yang kita ambil. Dalam perbedaan ini seharusnya kita bisa lebih arif dan bijaksana dalam menyikapinya dan tidak saling menjatuhkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Karena Secara garis besar keduanya adalah benar semuanya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan dari apa yang kita anut dan pahami.

Merujuk dari al quran menyatakan:

“jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.(QS. Huud [11] : 118)”

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.

(QS. Asy Syuura [42] : 10)

Dari ayat diatas dapat kita simpulkan bahwasanya jika allah s.w.t berkehendak tehadap kita dalam perbedaan kita maka allah akan menyatukan kita dan jikalau perbedaan tersebut kita bingung dan sulit menentukan arah didalamnya maka cukuplah kita kembali berserah diri kepada allah s.w.t karena kebenaran itu hanyalah miliki allah s.w.t

Penulis menggambarkan sesungguhnya sebuah keberagaman itu adalah rahmat yang mana diantara perbedaan tersebut kita dapat saling menemukan sesuatu yang baru didalam perbedaan itu dan dengan perbedaan itu jugalah kita bisa besar yang dibutuhkan adalah bagaimana kita bisa bijaksana dan arif dalam menyikapi perbedaan tersebut supaya tidak terjadi perselisihan. Karena kebenara itu hanyalah milik allah s.w.t semata.

by     : zul hendri nov

mahasiswa ilmu politik

motto   : think big, local do and action now

kader mahasiswa islam (HMI) cabang padang

Tags: awalpuasa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 5 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 13 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 13 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 13 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: