Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Khus Indra

Pecinta Sastra dan Seni | Pengagum pemikiran Friedrich Nietzsche | Pengkritik ulung

Kurikulum 2013, Konsep Bagus, Gurunya?

OPINI | 05 July 2013 | 17:51 Dibaca: 1342   Komentar: 10   6

Polemik perbincangan mengenai hadirnya kurikulum baru yaitu, kurikulum 2013 dalam dunia pendidikan di Indonesia terus mengalami gejolak perdebatan. Di tengah waktu yang cukup mepet pergunjingan pro-kontra terhadap kurikulum ini terus berlanjut. Hal ini terkesan mendadak dan tidak dipersiapkan dengan secara matang. Tapi, apa mau dikata, keinginan Kementerian Pendidikan adalah kurikulum 2013 tetap diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014 nanti. Dalam penerapannya, Kurikulum 2013 ini akan mulai dilaksanakan pada sekolah-sekolah yang terakreditasi A dan yang ditunjuk oleh Kemdikbud.

Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa, kurikulum 2013 memang bagus secara konsep. tetapi yang diharapkan lebih adalah terhadap masalah Implementasinya. Dalam hal konsep, kurikulum 2013 lebih mendekatkan pembelajaran dengan tematik integratif. Dalam hal seperti ini Guru-lah sebagai pemegang Kunci dari Kurikulum ini.

Guru, Kunci Kurikulum 2013

Dengan penampilan yang tergolong baru ini, Kurikulum 2013 mengharuskan seorang murid dapat belajar dengan mengintegrasikan berbagai ilmu yang kemudian disebut sebagai tematik integratif. Dalam hal ini, tentu saja peran yang penting adalah Kapasitas dari seorang Guru dalam mengajarkannya. Meskipun secara konsep Kurikulum 2013 cukup bagus, tetapi apabila secara Implementasi dari seorang Guru kurang dapat menyalurkannya, maka Kurikulum 2013 hanya akan menjadi sekadar konsep saja.Kementrian Pendidikan setidaknya harus mewanti-wanti hal ini. Karena jika tidak, keluaran dari Kurikulum 2013 ini tidak akan memberikan feedback yang disesuaikan.

Patut diapresiasi langkah Kemdikbud dalam mengantisipasi hal ini yaitu dengan mengadakan pelatihan untuk guru-guru tersebut. Tetapi ada yang yang patut disayangkan, pelatihan itu hanya dilakukan dalam kurun waktu hitungan hari saja.  Apakah bisa dengan pelatihan dalam hitungan hari itu, dapat mengubah cara mengajar seorang guru dengan konsep yang baru ini?

Dalam laporan majalah¬†Tempo, Darmaningtyas, anggota Tim Inti Pengembang Kurikulum 2013 berkata,”Para guru akan kesulitan dalam menyampaikan materi, seperti Seorang guru harus dapat mengamalkan ajaran Agama yang dikaitkan dengan Matematika.”

Dalam pemaparannya tersebut, terdapat suatu perasaan ragu-ragu dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 ini. Banyak guru di daerah yang masih bingung terhadap kurikulum ini. Banyak guru yang mengeluh dan merasa sulit untuk menerjemahkan apa yang tercantum dalam kurikulum tersebut ke dalam sesuatu yang practical, apalagi kalau ditambah dengan seorang guru harus dapat mengintegrasikan berbagai ilmu. Tentu saja dengan kualitas guru di daerah-daerah yang merata, akan dapat menimbulkan suatu pemahaman akan pendidikan yang tidak merata dan seimbang.

Bukan hanya guru, tetapi ada hal-hal yang harus diperhatikan lagi adalah mengenai penyusunan buku. Kejadian yang menarik adalah dalam penyusunan buku-buku siswa, seharusnya Kurikulum dulu baru penyusunan buku. Tetapi dalam praktik Kurikulum 2013 ini tidak begitu. Penyusunan buku dibarengi atau bersamaan dengan pembahasan Kurikulum 2013 ini. Cukup konyol dan ironi. Kepala Bidang Pendidikan Dasar Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Erry Utomo berujar hal yang senada,”Keadaan saat ini memang seperti itu, padahal seharusnya Kurikulum dulu, baru bukunya.”

Dari paparannya tersebut, memang terlihat suatu kondisi yang dikebut-kebut dalam penyusunan kurikulum ini dan terkesan tergesa-gesa. Kita tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dan mengapa Kemdikbud seolah-olah memaksakan hadirnya kurikulum 2013 ini. Padahal, jika dilihat banyak aktivis atau LSM masyarakat yang sudah mewanti-wanti agar “Tunda” saja dulu kurikulum ini. Tetapi, waktu sudah mepet, dan M.Nuh tetap bersikukuh agar Kurikulum ini tetap diterapkan pada tahun ajaran baru ini.

Kehadiran yang terkesan dipaksakan memunculkan segelumit persepsi dari publik, yaitu adakah kepentingan politik dalam hal ini?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 7 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 7 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 11 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 14 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 19) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Meninjau Konsistensi kehalalan Produk …

Donny Achmadi | 9 jam lalu

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: