Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Fransisca

Saya, seorang perempuan biasa yang sedang belajar menulis. Menulis apa? Apa saja yang saya rasa selengkapnya

Membantu Anak Kelas Satu SD Belajar

HL | 21 March 2013 | 09:33 Dibaca: 11305   Komentar: 14   6

Horee,..anakku diterima di SD favorit!   Setelah dua tahun menempuh pendidikan di Taman Kanak-Kanak dan menjalani tes masuk SD yang lumayan ajaib untuk anak seusianya, patut disyukuri bila anak kita diterima di SD favorit pilihan orang tuanya.

Betapa tidak. Saat ini untuk masuk SD saja banyak sekolah, rata-rata sekolah swasta favorit, yang mensyaratkan tes masuk SD.

Yang biasanya diuji adalah kemampuan membaca, menulis, dan test psikologi untuk menilai kemandirian anak dan kemampuan anak dalam menerima instruksi atau bahan pengajaran.  Untuk sekolah berbasis agama, misalnya sekolah Islam seperti sekolah anakku, maka ada syarat bahwa calon murid harus hafal beberapa surat-surat pendek dalam Alquran.   Nah, karena anakku juga sekolah di TK Islam, hafalan surat Alquran sudah banyak diajarkan, sehingga tidak terlalu sulit untuk materi tersebut.

Dulu saya sempat bertanya-tanya, mengapa tes masuk SD begitu kompleksnya?   Sekolah mensyaratkan bahwa calon murid kelas 1 SD sudah harus bisa baca, tulis dan berhitung sederhana.   Padahal kurikulum PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tidak mewajibkan pengajaran calistung pada murid-murid PAUD.   Memang disadari bahwa ada kesenjangan kurikulum antara PAUD dan SD.   Ternyata, saya baru menyadari bahwa materi pelajaran kelas 1 SD sudah sangat kompleks. Pelajaran wajib hanya enam mata pelajaran (mapel), tetapi ada lima mapel muatan lokal.  Seluruhnya ada sebelas mata pelajaran, untuk kelas satu SD.  Hebat sekali  anak sekarang.

Sudah demikian, masih ditambah lagi dengan kompleksnya pembahasan materi berikut soal-soalnya dalam buku pelajaran.  Dan kompleksitas materi ini tidak hanya satu mapel, tapi banyak!  Pantas saja sebelum masuk SD, anak sudah harus bisa baca tulis, lha pelajaran yang harus dipahami sudah demikian kompleks dan bikin pusing!  Anak sudah tak sempat lagi belajar membaca, karena begitu masuk kelas satu, anak sudah dituntut untuk bisa memahami bahan bacaannya, supaya bisa mengerjakan soal dan ulangan.  Bukan hanya membaca, tetapi murid harus paham.

Tak terbayangkan betapa jauhnya perbedaan kurikulum SD ketika zaman saya dulu.  Setiap hari saya hanya membaca ini budi-ini ibu budi-ini bapak budi-ini wati-ini iwan.   Sekarang si Budi, Wati, dan Iwan sudah berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan kosakata yang canggih untuk anak kelas satu!

Coba saja lihat contoh soal-soal pelajaran kelas 1 SD seperti ini:

  1. PKN (dulu kita kenal dengan PMP): Apakah yang dimaksud dengan hak? Apa sajakah hak anak? Apa yang dimaksud dengan tata tertib? (Nah lho, apa coba?)
  2. IPA: Apa yang dimaksud dengan energi? Sebutkan dua kegunaan energi angin! Apa perbedaan bentuk gerak antara komidi putar dan sepeda becak? (seriously, soal-soal ini ada dalam buku pelajaran Nindi, anak saya #pingsan)
  3. IPS: Apa artinya hidup rukun? Bagaimana bila terjadi perbedaan pendapat di dalam keluarga? (Apakah maksudnya anak harus mengatasi perbedaan pendapat kalau misalnya itu terjadi? Kadang-kadang  orang dewasa aja tidak bisa mengatasi perbedaan pendapat, apalagi anak-anak ya.)

Seandainya anda membaca contoh pertanyaan di atas,  apakah bisa menjelaskan ke anak dengan cepat apabila kita yang ditanya?  Saya saja mengernyitkan kening begitu membaca pertanyaan-pertanyaan sejenis di buku teks.  Lebih pening lagi ketika anak saya minta penjelasan.

Kadang dan sering kali saya berpikir, mengapa penyusun kurikulum di Kemendiknas mendesain kurikulum kelas satu SD semacam ini.  Apakah mereka memahami kemampuan belajar dan psikologi anak kelas satu yang rata-rata baru berumur 6-7 tahun?  Masa-masa itu seharusnya banyak diisi dengan bermain.  Tentu saja anak tetap harus diberikan pelajaran,  namun alangkah baiknya jika pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan sesuai usia mereka.  Anak akan lebih mudah meresapi bahan ajar bila  diajarkan sambil bermain dan mengenalkan lingkungannya.   Namun bila ingin menerapkan metode pembelajaran yang menyenangkan bagi anak seperti itu,  saya rasa tidak akan tercapai bila kurikulum mereka padatnya seperti saat ini.

Lagian, apa yang mau dicapai oleh Kemendiknas dengan membebani otak anak kelas satu dengan pelajaran yang demikian ruwet?

Tetapi bagaimanapun juga kurikulum adalam kurikulum.  Sebagai orangtua, mau tidak mau kita mengalah pada kurikulum.   Mau teriak-teriak pun tidak mungkin mengubah kurikulum yang sudah berjalan.  Mungkin nanti ya, tahun ajaran baru katanya Kemendiknas mau mengurangi mata pelajaran.  Semoga saja itu bukan sekedar isu.   Jujur saja, semua orang tua juga ingin anak mereka bisa mendapat nilai yang baik di sekolah dan berprestasi, seberat apapun beban pelajarannya.   Nah sekarang, bagaimana membantu anak supaya bisa memahami pelajarannya dengan baik?

Sebagai orangtua, pasti kita wajib mendampingi anak belajar dan membantunya saat dibutuhkan. Kalau tidak sempat mengajar karena baik ayah ataupun ibu sibuk bekerja, ada orang tua yang memasukkan anak ke bimbel untuk mendapatkan pengajaran tambahan.  Tidak mengapa, yang penting anak bisa dibantu untuk memahami pelajaran yang dirasanya sulit.

Selain mendampingi anak belajar, saya dan ibu-ibu orangtua teman sekelas membentuk grup Blackberry Messenger (bbm) untuk saling tukar info dan berkomunikasi.   Saat ini anggota grup ada 22 ibu, total murid di kelas anakku ada 30,  jadi lumayan banyak juga anggota grup ini.

Grup  ini sangat berguna terutama untuk ibu bekerja, karena ada teman di grup yang saling mengingatkan jika ada tugas, PR, kuis, dan sebagainya.  Di grup ini kita juga saling tukar saran dan tips untuk membantu anak belajar secara efektif.

Di grup ini kita juga saling tukar saran dan tips untuk mengajari anak memahami pelajaran tertentu, atau sekedar menyiasati mood anak yang berubah-ubah, padahal sedang musim ulangan.  Bagi saya, komunikasi antar ibu-ibu di grup ini bermanfaat sekali.

Sebagai orang tua, kadang aku sedih juga lihat begitu banyak yang harus dipelajari oleh anakku, padahal mestinya dalam masa-masa ini ia masih harus banyak bermain.   Sedapat mungkin harus diusahakan agar anak tetap senang dan menikmati proses belajar. Jangan sampai ia menganggap sekolah sebagai beban. Bila ia nyaman dengan lingkungan sekolah, tentunya lambat laun ia punya keinginan sendiri untuk mau belajar dan berusaha untuk mandiri.

Nah, mungkin aku bisa bagikan beberapa tips agar putra-putri kita yang baru kelas 1 SD bisa mengikuti pelajaran sekaligus menikmati masa-masa bermain sebagai anak-anak, seperti ini:

  1. Orang tua ikut mempelajari buku cetak pelajaran.   Biasanya, di awal bab atau di bagian pendahuluan ditekankan apa tujuan pengajaran tiap bab. Misalnya di Bab 1 IPS, tujuan pengajarannya adalah mengenali diri sendiri dan keluarga.  Dalam percakapan sehari-hari di rumah, hal ini bisa kita ajarkan ke anak sambil bermain atau mendongeng.
  2. Pada saat menemani anak belajar, coba tanyakan pertanyaan yang bersifat open question seperti: “Kakak, tadi pagi, Bu Guru mengajari apa tentang energi?”  Jawaban anak akan mengindikasikan apakah ia sudah paham atau belum tentang pelajaran tersebut, bukan sekedar menghafal.   Bantu anak untuk memahami pelajaran yang sulit.
  3. Jangan biasakan anak untuk  menghafal, tapi usahakan agar ia memahami inti materi pelajaran.
  4. Seringkali anak menanyakan pertanyaan yang kita sendiri bingung menjawabnya, seperti “Mama, apa sih arti ‘bependapat’?”  Ajarkan ia untuk memahami arti ‘berpendapat’ dengan contoh atau bermain peran.   Bermain peran akan lebih menyenangkan dengan mainan boneka atau robot-robotan milik anak.   Contoh nilai-nilai yang bisa diajarkan dengan cara bermain peran misalnya adalah tolong menolong, gotong royong, dan sebagainya. Beri contoh, dan ajarkan anak melakukannya.
  5. Cara terbaik untuk mendidik adalah memberi teladan. Pada prinsipnya, inti pelajaran kelas satu SD adalah mengenalkan anak pada kebiasaan hidup sehari-hari.  Maka itu, saya amati pembahasan topik antara mata pelajaran IPA, IPS dan PKN saling bersinggungan.   Ajarkan dan berilah contoh anak untuk membersihkan meja belajar dan merapikan tempat tidurnya sendiri.   Bila anak telah melakukannya, setidaknya ia telah belajar tiga hal: melakukan kewajiban sebagai anak, yaitu membantu ibu (ada di pelajaran PKN), hidup sehat (ada di pelajaran IPA), dan menjaga lingkungan rumah (dibahas di pelajaran IPS). Jangan lupa, kita juga harus menjaga kebersihan kamar tidur kita sendiri, kalau tidak ingin diledek oleh anak kita nanti :)
  6. Usahakan suasana belajar menyenangkan. Berikan penerangan yang cukup serta hiasan-hiasan lucu untuk meja belajarnya.
  7. Berikan jeda setelah belajar selama 30 menit, karena untuk anak seumur itu, waktu maksimalnya untuk berkonsentrasi ya 30 menit itu.
  8. Berilah penghargaan bila anak telah memahami pelajaran tertentu yang dianggapnya sulit. Misalnya setelah belajar ia boleh membaca komik kesayangannya, atau membuatkan camilan kesukaannya. Contohnya kalau aku, aku ijinkan anakku bbm dengan kakak sepupunya bila ia sudah selesai belajar.

Nah, demikian beberapa sharing dan tips sederhana yang bisa aku bagikan.   Walaupun aku sudah menerapkan sendiri tips-tips di atas, tetap saja saat musim ulangan, aku tidak lepas juga dari kekhawatiran.   Galau apakah anak bisa mengerjakan soal ulangan atau tidak.  Namanya juga seorang ibu.  Kalau sudah demikian, berdoa pada Tuhan-lah jawabannya.   Segala usaha, apalagi untuk kebaikan anak kita, pasti harus diawali dan diakhiri dengan doa. Jangan lupa berdoa bersama anak sebelum mulai belajar, agar anak juga lebih tenang.   Untuk pembaca yang memiliki putra-putri yang duduk di kelas satu SD seperti saya, semoga postingan ini ada manfaatnya, walaupun sedikit :p

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Rahasia Mantan …

Witri Prasetyo Aji | 7 jam lalu

Kompasiana …

Siti Nur Hasanah | 7 jam lalu

Menelusuri Pusat Keramaian Pusat Kota Malang …

Muhammad Azamuddin ... | 8 jam lalu

Perawatan Penyakit pada Sistem Pernapasan …

Meli Yunita Agustin | 8 jam lalu

Dari Pameran Foto Arsip …

Ade Aryana Uli Pan... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: