Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ka_pe_i Ii B

Forum Bahasa dalam Menghadapi Tantangan Zaman

Analisis Pemakian Bahasa dalam Media Cetak atau Koran

OPINI | 21 March 2013 | 06:58 Dibaca: 322   Komentar: 0   0

Oleh: Nurfitriani

Dewasa ini, banyak sekali media yang beredar di masyarakat. Mulai dari media visual, berupa televisi dengan berbagai macam acara yang disajikan oleh setiap stasiunnya. Radio yang tidak mau kalah, juga menyajikan berbagai informasi dan hiburan yang dikemas sedemikian rupa sehingga tidak ditinggalkan oleh penikmatnya. Dan satu lagi yang tidak ketinggalan ialah media cetak, yang sudah berbagai macam jenisnya seperti, koran, majalah, tabloid dan sebagainya.

Saat ini, koran terbilang sudah banyak ditinggalkan oleh pembacanya, karena sudah banyak elektronic book atau yang biasa disebut e-book dan juga sudah menjamurnya media berita online yang dapat diakses dengan mudah lewat telepon genggam yang terbilang lebih praktis daripada koran dan media cetak lainnya. Walaupun seperti itu tidak dapat dipungkiri, sampai sekarang, koran tetap menjadi bahan bacaan wajib bagi para pecintanya yang tidak dapat digantikan oleh media online macam apapun.

Bahasa yang digunakan dalam koran pastilah menggunakan bahasa yang lazim dalam penulisan jurnalistik. Yaitu, dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti oleh berbagai aspek masyarakat, tidak bertele-tele dan tidak membuat pembacanya bingung dengan redaksi kalimat yang digunakan.

Objek yang akan dianalisis dalam tulisan ini ialah bahasa yang digunakan dalam sebuah halaman koran yang membahas tentang fotografi  ”Harian KOMPAS”  yang memiliki judul “Memahami “Bocor” dalam Fotografi”. Bahasa yang digunakan di dalam halaman ini menggunakan bahasa jurnalistik dan beberapa istilah fotografi. Tidak diragukan lagi, karena KOMPAS merupakan sebuah harian berita yang sudah besar, sehingga kesalahan-kesalahan dalam bahasanya akan sulit untuk ditemui. Tetapi kembali lagi kepembahasan tentang bahasa yang digunakan dalam tips fotografi ini. Didalamnya kita akan menemui kata-kata yang harus memiliki arti yang lebih diperjelas, karena kata-kata tersebut akan berbeda arti jika mengartikannya menggunakan bahasa Indonesia yang sebenaranya bukan menggunakan istilah dalam fotografi. Misal, di dalam fotografi kata “bocor” mengartikan ketidaksempurnaan, sedangkan dalam bahasa indonesia “bocor” mengartikan berlubang sehingga air bisa masuk. Selain itu, di kolom ini akan ditemui juga kata “tidak nyambung” yang mengartikan sesuatu benda yang seharusnya tidak pada pada tempat itu (objek foto).

Begitulah, bahasa yang biasanya digunakan dalam pembahasan tips fotografi di harian KOMPAS. Setiap istilah yang janggal tidak dapat dimengerti masyarakat awam akan fotografi tetapi memiliki penjelasan lebih lanjut setelahnya. Dan mamang seperti itulah seharusnya, agar sekaligus memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat pembacanya tentang bahasa yang digunakan dalam fotografi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 11 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 15 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: