Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Konsultan Perpustakaan

Konsultan Perpustakaan

Anggaran Perpustakaan Sekolah, Apa dan Bagaimana?

OPINI | 07 March 2013 | 11:37 Dibaca: 736   Komentar: 0   0

Banyak yang belum mengetahui bagaimana pelaksanaan anggaran di perpustakaan sekolah. Sekolah yang telah memiliki perpustakaan, kondisinya sangat memprihatinkan karena minim atau tidak adanya anggaran khusus untuk pengembangan perpustakaan. Perpustakaan sekolah dianggap “apa adanya”. Yang penting “ada”. Yang penting ada ruangannya, ada raknya, ada bukunya, dan ada pustakawannya. Tanpa anggaran, apakah perpustakaan masih bisa hidup? Jawabnya: “Masih, tapi….”.

UU Perpustakaan 43/2007 khususnya Pasal 23 ayat 6 menyatakan bahwa sekolah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan.  Pedoman Perpustakaan Sekolah yang diadopsi oleh Perpustakaan Nasional RI dari Ikatan Perpustakaan Internasional [IFLA] juga menyebutkan bahwa anggaran material perpustakaan sekolah paling sedikit adalah 5% untuk biaya per murid dalam sistim persekolahan, tidak termasuk untuk belanja gaji dan upah, pengeluaran pendidikan khusus, anggaran transportasi serta perbaikan gedung dan sarana lain.

Untuk menjamin agar perpustakaan memperoleh bagian yang adil dari anggaran sekolah, butir-butir berikut penting untuk diketahui:

  1. memahami proses penganggaran sekolah
  2. menyadari jadwal siklus anggaran
  3. mengenal siapa yang menjadi tenaga penting
  4. memastikan bahwa segala kebutuhan perpustakaan teridentifikasi.

Dalam merencanankan anggaran perpustakaan sekolah, komponen rencana anggarannya mencakup:

  1. biaya pengadaan sumberdaya baru (misalnya, buku, terbitan berkala/majalah dan bahan terekam/tidak tercetak); biaya keperluan promosi (misalnya, poster)
  2. biaya pengadaan alat tulis kantor (ATK) dan keperluan administrasi
  3. biaya berbagai aktivitas pameran dan promosi
  4. biaya penggunaan teknologi komunikasi dan informasi (ICT), biaya perangkat lunak dan lisensi, jika keperluan tersebut belum termasuk di dalam biaya teknologi dan komunikasi informasi umum di sekolah.

Dari pemaparan diatas, peran pustakawan dalam memperjuangkan anggaran perpustakaan sangatlah penting. Kita telah mengetahui bahwa begitu banyak kegiatan di perpustakaan yang memerlukan anggaran untuk kelancaran kegiatan tersebut. Pustakawan dapat menggunakan landasan diatas untuk mengajukan anggaran perpustakaan. Melalui komunikasi yang baik dengan ditunjang oleh pengetahuan dan keterampilan pustakawan yang mumpuni, saya optimis bahwa manajemen akan mempertimbangkan pengajuan anggaran yang dibutuhkan oleh perpustakaan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 9 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 13 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 15 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: