Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Adefadli

lahir dan besar di tepi karangmumus. sungai di kota kayu, Samarinda, yang kini kian menghitam. selengkapnya

#Kurikulum2013: Menebak Generasi Masa Depan

OPINI | 27 February 2013 | 05:15 Dibaca: 180   Komentar: 2   0

Bisa jadi benar, bahwa Pemerintah Indonesia hari ini ingin agar generasi mendatang merupakan generasi emas di tahun 2045. Sekitar 32 tahun mendatang. Lulusan perguruan tinggi yang diharapkan adalah mereka yang memang benar-benar berkualitas, kreatif, inovatif, punya kedisiplinan, percaya pada kepercayaannya, hingga menjadi sangat faktual dan logis.

Juli 2013 adalah awal bermulanya #Kurikulum2013 secara bertahap. Kelas I, IV, VII dan X akan mencicipi kurikulum baru tersebut. Buku-buku akan disediakan oleh Pemerintah Pusat, sehingga kabarnya buku tersebut akan dapat terus berlaku dari tahun ke tahun. Dan Guru hanya tinggal mengajarkan apa yang ada di dalam buku, dan berdasarkan hasil training, seandainya mereka sempat mengikutinya.

Diluar bacaan terkait diduga adanya indikasi melakukan penyelewengan biaya penyiapan #Kurikulum2013 serta begitu banyaknya keterburu-buruan yang dilakukan, maka banyak pihak mempercayai bahwa permasalhaan utama dari pelaksanaan kurikulum sebelumnya adalah kualitas guru. Guru yang telah diupgrade tingkat pendidikannya sesuai dengan prasyarat sebagai guru, pun dipandang masih belum mencukupi untuk memenuhi kualifikasi guru yang dibutuhkan secara merata di seluruh wilayah negeri ini. Belum lagi, kualitas dasar guru yang dihasilkan berada pada level terendah, dibandingkan dengan kualitas lulusan di bidang pekerjaan lainnya.

Bahwa hasil dari TIMSS Science 2007, TIMSS-Sains 2011, TIMSS-Matematika 2011, PIRLS 2011 dan PISA 2009 yang menunjukkan siswa di Indonesia belum mampu melampaui beberapa negara lain di ASEAN, yang menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran (baik kurikulum hingga satuan pembelajaran, serta tenaga pengajar) belum menjawab kebutuhan masa depan dan kulitas yang diharapkan, telah menjadi dasar perubahan #Kurikulum2013 ini. Namun kemudian, justru menimbulkan berbagai pertanyaan ketika menyentuh bacaan pada titik Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang diharapkan dimiliki oleh setiap peserta didik.

Dari sekian banyak kegelisahan tersebut, ada satu kegelisahan yang penting bagi kedaulatan negeri ini. “Generasi masa depan adalah generasi yang tidak kritis dan tumpul dalam menganalisis,” begitu ujar seorang staff lembaga penyusun kurikulum di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. “Kita akan kehilangan kedaulatan sumberdaya alam kita. Generasi yang dihasilkan adalah seperti robot, yang tidak akan mampu menguasai teknologi. Hanya menjadi pekerja,” lanjutnya. Kegelisahan beliau ini bisa jadi tak meresahkan juga bagi orang tua siswa, ataupun bagi aktivis organisasi non pemerintah yang memiliki proyek terkait sumberdaya alam. Karena bisa jadi kegelisahan itu hanyalah sebuah kegelisahan dari pihak yang tak dilibatkan dalam proses perubahan kurikulum yang sedang berlangsung.

Namun, bila ditelisik lebih dalam, Kurikulum Pendidikan di Indonesia memang telah mengarahkan anak negeri ini sebagai bangsa pekerja, bukan sebagai pihak yang memiliki kedaulatan utuh atas kekayaan alam dan negaranya. Mulai dari metoda pembelajaran, kualitas pengajar, hingga substansi pembelajaran, diarahkan untuk takluk pada kepentingan negara industri. Menyediakan bahan baku, pekerja murah dan melepaskan kendali kedaulatan pada modal. Dan kemudian, peta jalan tersebut disempurnakan dengan #Kurikulum2013, yang hanya akan melahirkan robot-robot tak berintelektual, sebagai generasi yang hanya akan menjadi pekerja tanpa kata, atau lebih tegasnya sebagai budak-budak kelompok bermodal.

Sementara proses pendidikan di berbagai negara terus berupaya membangun daya kritis, kreatif, inovatif, serta berbasis pada kelokalan, Indonesia justru memilih jalan yang menjauhkan itu semua. #Kurikulum2013 yang kembali sentralistis menunjukkan bahwa pemerintah pusat masih enggan untuk memberlakukan otonomi secara utuh. Bahasa lokal yang ditiadakan ruangnya sebagai bagian dari identitas budaya, hingga dilakukannya integrasi pembelajaran ilmu alam dan ilmu sosial-budaya kedalam mata pembelajaran bahasa dan lainnya, yang menghilangkan pengetahuan dasar dalam berpikir.

Pun ketika dibedah lebih mendalam, ada banyak Kompetensi Dasar yang sangat dipaksakan ada, dikarenakan ketidakbenaran dalam merumuskan Kompetensi Inti. Ditambah dengan rumus-rumus instan yang disajikan, hingga kemudian para pencipta tak akan lahir lagi di sekolah-sekolah negeri. Pada akhirnya, mereka yang bersekolah di sekolah”luar” negerilah yang akan menguasai negeri ini, dimana mereka adalah kaum-kaum berpunya, termasuk para pekerja organisasi non pemerintah yang selama ini meneriakkan kedaulatan negara ini.

Pemahaman terhadap keberagaman pun akan diputus, dengan pemusatan kembali kurikulum, yang sebelumnya pada KTSP 2006 telah diberikan. Segala bahasa lokal, apalagi budaya materi maupun budaya tanah, akan menghilang secara perlahan, karena sekolah-sekolah hanya akan tahu apa yang ada di Jakarta dan sebagian tanah Jawa. Selebihnya, Bhinneka Tunggal Ika hanya akan pada pita yang masih dipegang oleh Burung Garuda pada kakinya.

Generasi Masa Depan negeri ini memang benar-benar generasi emas. Bukan bagi bangsa ini, apalagi untuk kejayaan nusantara. Namun bagi negara industri dan kelompok pemodal. Mereka adalah emas-emas yang mau digaji rendah, bekerja pada level terendah, dan terus “dijajah”. Hanya uang yang dipikirkan, tak penting lagi untuk berbincang dengan kawan sejawat, untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan negeri ini. Dan bisa jadi, pada waktunya negeri ini menjadi tiada, karena ketiadaan anak bangsa yang memahami secara utuh sejarah negerinya.

#Kurikulum2013 tak lama lagi akan berjalan. Belum jelas kapan guru-guru akan memperoleh pelatihan yang dijanjikan, seperti halnya janji untuk melatih seluruh guru tentang KTSP 2006 yang tak pernah dituntaskan. Anggaran Negara akan digunakan untuk menghasilkan emas-emas yang hanya akan larut di sungai, lalu ke laut dan entah kemana. Generasi masa depan negeri ini adalah sebuah generasi suram, yang akan menghilangkan Indonesia dalam sebuah catatan sejarah berputarnya bumi.

Mari terus tidak peduli dengan #Kurikulum2013, karena itu tak akan berarti apa-apa bagi kalian dan anak-anak kalian!


dari artikel yang sudah diposting di blog Ade Fadli. 2013. #Kurikulum2013 : Menebak Generasi Masa Depan. http://timpakul.web.id/kurikulum2013-menebak-generasi-masa-depan.html (dikutip tanggal 26 February 2013)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghitung Peluang Jokowi …

Goenawan | | 16 April 2014 | 04:38

Hamil Ikut UN, Boleh? …

Khoeri Abdul Muid | | 15 April 2014 | 21:42

Mengapa Pembunuhan Kennedy Tak Pernah …

Mas Isharyanto | | 16 April 2014 | 06:25

Menilik Macan Putih, Pahlawan Superhero …

Rokhmah Nurhayati S... | | 15 April 2014 | 21:51

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Yess, Jokowi Berani Menantang 10 Partai …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Inikah Pemimpin yang Kalian Inginkan? …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

The Jakarta Post, The Washington Post dan …

Ira Oemar | 18 jam lalu

Nama Jokowi Muncul di Soal UN, Pencitraan? …

Pical Gadi | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: