Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Paijo Pandupradja

Pengajar di Universitas Jember, pernah menjadi konsultan Proyek SEQIP (Science Education Quality Improvement Project) dan selengkapnya

Konstruksi Konsep Tata Surya untuk SD (1)

OPINI | 24 February 2013 | 15:22 Dibaca: 1339   Komentar: 0   0

Tata surya merupakan materi kelas 6 pada pelajaran IPA SD. Proses pembelajaran Tata Surya agak sulit untuk didemokan menggunakan alat peraga, sehingga SEQIP menawarkan metode simlasi (bermain peran). Siswa diberi peran sebagai matahari, bumi, dan bulan. Alat peraga yang menggambarkan peredaran bumi, matahari, bulan tidak pas bila dirujuk pada konsep yang benar kecuali dibahas terpisah yaitu bumi saja, bulan saja, atau matahari saja. Dengan demikian simulasi adalah pilihan yang tepat. Bagi bapak dan ibu guru yang selama ini kesulitan membelajarkan topik ini mari kita berbagi pengalaman disini.

Pertama kita siapkan Apron dengan gambar matahari, bumi, dan bulan. Pada kesempatan ini kita akan mengkonstruksi beberapa konsep berkait dengan kala rotasi bumi, kala rotasi bulan, kala revolusi bumi dan bulan.

1.Matahari

Matahari adalah bintang sejati, yaitu benda langit yang bisa memancarkan cahaya sendiri. Cahaya matahari sampai ke bumi secara radiasi (tidak perlu medium). Kemudian kita panggil satu anak yang berpostur paling besar untuk berperan menjadi matahari.

2. Kala rotasi bumi

Kita minta kepada siswa yang berbadan paling besar tadi untuk maju dan menjadi matahari sehingga apronĀ  bergambar dan bertuliskan matahari dikalungkan di lehernya. Kemudian satu siswa lagi menjadi bumi dengan memakai apron bumi. Kedua siswa saling berhadapan, pada keadaan diam bapak/ibu guru bertanya kepada siswa bagian mana dari bumi yang terjadi siang hari? Siswa akan menjawab bagian bumi yang menghadap matahari, sehingga konsep siang hari adalah peristiwa terang benderang disebagianĀ  bumi yang menghadap matahari, sedangkan konsep malam hari adalah peristiwa gelap gulita pada bagian bumi yang membelakangi matahari. Bumi ternyata berputar pada porosnya, peristiwa ini disebut rotasi bumi. Tanda kalau bumi berotasi adalah terjadinya siang dan malam. Berapa kala rotasi bumi? 24 jam atau satu hari. Berapa kecepatan bumi berotasi? Mari kita hitung secara sederhana, keliling bumi melalui ekuator adalah 40.000 km, ditempuh selama 24 jam, sehingga kecepatan rotasi bumi adalah sekitar 1,667 km/jam. Ke arah mana bumi berotasi? jawabannya hanya ada dua, searah jarum jam atau berlawanan dengan arah putar jarum jam. Untuk kali ini kedua jawaban tersebut jangan digunakan lebih dahulu, lebih baik dijawab bahwa arah putaran bumi yang benar adalah yang dapat menyebabkan matahari seolah terbit dari timur dan terbenam di barat.

3. Kala revolusi bumi.

Pada kehidupan sehari-hari kita semua menyaksikan seolah-olah bumi tidak bergerak dan mataharinya yang bergerak. Untuk konsep ini bisa diinformasikan bahwa matahari tetap berada di tempatnya sedangkan bumi beredar mengelilingi matahari. Jadi revolusi bumi adalah gerakan bumi mengelilingi matahari. Kala revolusi bumi adalah 365,25 hari (1 tahun). Lintasan bumi mengelilingi matahari berbentuk ellips, sehingga ada jarak terjauh dan terdekat ketika bumi berevolusi. Jarak terjauh disebut uphelium sedangkan jarak terdekat disebut perihelium. Peristiwa rotasi dan revolusi bumi berjalan bersama-sama. Bentuk bumi adalah pepat di kedua kutub, sehingga ketika berevolusi dan berotasi posisi matahari seperti bergerak ke bagian utara bumi dan bagian selatan bumi masing-masing 23,5 derajad. Tanggal-tanggal istimewa untuk peristiwa tersebut adalah: 21 Maret dan 23 September matahari seperti bergerak di ekuator (garis katulistiwa), 21 Juni seolah-olah matahari berada di garis balik utara (23,5 LU), sedangkan tanggal 22 Desember seolah matahari berada di garis balik selatan (23,5 LS).

4. Kala rotasi dan revolusi bulan.

Kita minta siswa yang paling kecil untuk berperan sebagai bulan dengan mengenakan apron bulan. Bulan adalah satelit bumi, berputar pada porosnya dan juga mengelilingi bumi. Kecepatan bulan berotasi sama dengan kecepatan bulan berevolusi yaitu 29,5 hari, sehingga hal inilah yang mengakibatkan “wajah” bulan yang kelihatan dari permukaan bumi selalu sama. Hal inilah yang tidak bisa diperagakan melalui model alat yang dibuat dari bola plastik dan terdiri dari matahari-bumi-bulan, Dengan menggunakan simulasi maka kita bisa meminta kepada siswa untuk meletakkan penggaris menghadap ke depan kemudian dia bergerak mengelilingi bumi sambil tetap menghadap bumi (tahu caranya?). Anak-anak yang lain diminta untuk mengamati arah yang dibentuk oleh penggaris apakah ketika “bulan” berputar mengelilingi bumi berubah arah atau tidak.

Demikian usaha kita untuk membantu siswa belajar Tata Surya. Pembahasan topik ini untuk mengetahui bahwa peredaran bulan dan bumi mengelilingi matahari dijadikan dasar untuk penyusunan almanak (kalender). Menyertakan siswa dalam proses mungkin melelahkan, butuh energi dan waktu lebih banyak. Namun kelelahan itu akan terbayar lunas ketika menyaksikan siswa kita mampu mengkonstruksi sendiri konsep-konsep yang ada pada topik Tata Surya. Anak-anak adalah pemilik masa depan bangsa ini, mari kita bantu mempersiapkan mereka bagi bangsa ini melalui apa yang kita bisa dan apa yang kita punya. Salam semangat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: