Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ilmu Dasar Pendorong Kemajuan Inovasi dan Kreativitas Sebuah Bangsa

OPINI | 10 February 2013 | 21:02    Dibaca: 237   Komentar: 0   0

Betapa kita sangat merasakan kurangnya kreativitas dan inovasi yang muncul untuk menjawab tantangan yang muncul di tengah masyarakat.  Kreativitas dan inovasi seolah selalu terlambat di bandingkan dengan kecepatan masalah- masalah yang silih berganti  muncul dalam masyarakat. Siapa yang harus yang bertanggung jawab ?  Apakah ini indikator “kegagalan dan atau kurang fokusnya pendidikan” dalam mengembangakn potensi anak didik dalam menemukan jati dirinya…

Kalau kita cermati dalam aspek pendidikan hal tersebut sebenarnya berakar kepada masalah  pendidikan hanya berorientasi kepada aspek “de jure bahkan melupakan aspek de facto’.

Aspek De jure hanya berorientasi kepada aspek legalitas, mahasiswa mampu menyelesaikan kuliah di kampus dengan nilai baik, menyelesaikan kuliah samapai 144 SKS untuk S-1 tepat waktu delapan semester tetapi saynag belum mempunyai karakter yang matang untuk menjadi sbg sarjana, bahkan gamang mau memasuki dunia kerja. Apakah ini indikasi potensi diri sebagai aspek De facto terabaikan dalam proses pendidikan kita secara umum.

Padahal aspek de Facto adalah sisi lain dari proses pendidikan selain aspek de jure. Aspek ini akan sangat menentukan belum atau sudahkah seorang peserta didik menemukan jati dirinya sehingga dia menjadi individu yang punya kepercayaan diri yang kuat dan siap memasuki dunia kerja.

Dunia kerja sangat membutuhkan pribadi-pribadi yang cepat beradapatasi dengan perubahan dan kemajuan yang terjadi. Sehingga pribadi yang punya karakter  kuat dan kemampuan berinovasi dan berkreasi sangat menentukan dirinya mampu mengakselerasi perubahan yang terjadi. Inovasi dan Kreativitas akan menjadi variabel yang penting  dalam memenangkan kompetisi dalam setiap pengembangan produk.

Produk-produk dan derivatnya akan sangat bergantung dari tahapan proses pengembangan produk tersebut dimulai. Kalau proses hulu dikuasai melalui riset dan pengembangan ilmu dasarnya yang kuat, maka proses inovasi dan kreativitas akan mampu dikembangkan menjadi produk unggulan yang mampu menjawab permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Bahkan mampu mengangkat martabat bangsa kita dalam percaturan secara global.  Contohnya riset dasar tentang pemanfaatan senyawa metabolit sekunder dalam aspek pertanian, kesehatan , lingkungan dan industri. Indonesia sebagai salah satu negara “mega biodiversity” akan menjadi leading untuk menjawab permasalahan masa mendatang seperti krisis energi, pangan dan lingkungan.

Maka riset-riset dasar yang multi dan interdisipliner akan sangat menentukan kemandirian dan kepercayaan diri sebagai anak bangsa melalui pendidikan yang unggul dan punya keunggulan kompetitif. Sehingga outcome pendidikan yang dihasilkan tidak hanya menghasilkan sarjana dari aspek de jure tapi yang tidak kalah pentingnya adalah aspek de facto yaitu pribadi yang punya kepercayaan diri yang kuat berkarakter keindonesiaan.

Semoga pemerintah semakin memperhatikan pentingnya riset-risaet dasar yang akan menjadi fondassi inovasi dan kreativitas anak bangsa yang unggul di masa mendatang, semoga

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kegigihan Anik Sriwatiah Berdayakan Mantan …

Hadi Santoso | | 30 May 2015 | 17:29

Ayo Jalan-jalan ke Lapangan Banteng Jakarta! …

Amirsyah | | 30 May 2015 | 16:31

Mini Market Tanpa Miras, Kita Lihat …

Kompasiana | | 30 May 2015 | 18:33

Fenomena Gelombang Panas, Saatnya …

Alifiano Rezka Adi | | 30 May 2015 | 18:04

Sambutlah: Kompasiana Baru 2015 yang Lebih …

Kompasiana | | 20 May 2015 | 19:02


TRENDING ARTICLES

Menpora & PSSI, Silahkan Menikmati …

Djarwopapua | 5 jam lalu

Kesamaan Sepp Blatter dan PSSI: Jokowi Tak …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Ini Alasan Wapres JK Membela Budi Waseso …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Gagasan Khilaf Khilafah …

Iqbal Kholidi | 13 jam lalu

Salah Membaca Gestur, Calon Doktor Itu …

Muhammad Armand | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: