Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Apakah Asal Padang Pasti Orang Minang?

OPINI | 08 January 2013 | 11:07 Dibaca: 819   Komentar: 0   5

Minang identik dengan Islam. Itu pasti. Tapi apakah bila asal Padang pasti orang Minang? Ini tidak harus! Tapi kalau tinggal di Padang itu pasti.

Seperti bila ada yang menyebut motor Honda. Bisa saja itu bukan artinya benar-benar motor itu mereknya Honda. Bisa jadi malah mereknya Yamaha. Tapi kalau yang dimaksud motor Honda itu adalah sepeda motor ya itu pasti.

Disinopsis film ‘Cinta Tapi Beda’ yang saya kutip dari id.wikipedia ditulis:

[Diana, gadis asal Padang. Perempuan
berparas sangat Indonesia, mahasiswa
jurusan seni tari. Ia tinggal bersama om dan
tantenya di Jakarta. Keluarga Diana penganut
Katolik taat.]

Sontak film karya sutradara Hanung Bramantyo itu menuai kontroversi dan protes sebagian masyarakat Minang dan hendak menuntut secara hukum.

Hanung dianggap teledor dan memprovokasi. Dianggap ngawur dengan ‘menciptakan’ orang Minang beragama Katolik.

Padahal tidak. Ini penjelasan Hanung yang dikutip PadangMedia.com. dari akun Twitternya.

“Orang tua Diana tinggal di Padang. Soal suku tidak dibahas. Kita tahu Minang adalah Islam. Maka kita tidak sebut spesifik Diana asli Minang. Tapi bahwa ortu Diana tinggal di Padang iya.”

Menurut saya justru para pemrotes yang teledor dengan memaksakan kehendak bahwa seseorang yang asal Padang harus orang Minang.

Bisa saja orang asal Padang itu bersuku lain. Tidak harus suku Minang. Ini hanya masalah persepsi saja atau sesat pikir.

Apalagi banyak yang tanpa tahu permasalahan dan belum nonton filmnya langsung mengeluarkan hujatan. Langsung menuduh Hanung menghina orang Minang.

Kita sering kali terprovokasi oleh keadaan bukan karena orang lain. Tetapi sesungguhnya oleh persepsi kita yang salah dan emosi yang tak terkendali.

Herannya, justru kita mencari-cari kambing hitam sebagai biang provokasi. Andaikan saja, kita sedikit mau mengunakan akal sehat menanggapi atau melihat persoalan. Tentu kita akan menemukan kebenarannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: