Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pak Dasiman

Seorang Warga Negara Indonesia biasa

Pergantian Kurikulum, Manusiawi

OPINI | 07 January 2013 | 05:03 Dibaca: 264   Komentar: 0   0

Saya membaca 2 berita di kompas, dengan judul:

1. Sosialisasi Pertama Kurikulum 2013 di Jambi.

2. Perubahan Kurikulum Agar Dibarengi Kemampuan Guru.

Membuat saya berfikir mengenai kurikulum pendidikan benar-benar telah berganti dan sedang berada dalam tahap sosialisasi segera.

Setidaknya saya sebagai wali/kakak dari adik yang duduk di kelas 2 SD menemui bahwa buku cetak untuk kelas II di sekolah tersebut tidak mencukupi 1buah buku untuk 1 anak. Kekurangan tersebut terjadi untuk semua mata pelajaran di kelas II, untuk kelas yang lain saya tidak tahu. Usut punya usut, ternyata kekurangan jumlah buku disebabkan karena sebelumnya jumlah anak di kelas tersebut hanya setengahnya dari jumlah anak yang duduk di kelas II sekarang. Saya fikir, masuk akal sih…. Akan tetapi, jumlah tersebut juga bukan jumlah tahun kemarin tetapi sudah berlangsung dua tahun yang lalu. Anggaran BOS-nya barangkali tidak mencukupi untuk membeli buku ataukah memang tidak dianggar oleh sekolah, ataukah guru kelas tidak melapor, ataukah guru kelas melapor tetapi tidak ditanggapi? Banyak kemungkinan! Lalu apa hubungannya dengan sosialisasi kurikulum? Saya hanya berharap sangat simpel: kurikulum baru semoga saja ada buku-buku baru yang mencukupi. Otomatis, kurikulum baru telah ikut membawa sekolah adik saya maju (dalam hal ini kelengkapan alat belajar;buku).

Judul kedua mengenai ” perubahan kurikulum agar dibarengi kemampuan guru” sempat mengernyitkan dahi saya untuk membandingkan dengan kurikulum yang sekarang masih berlaku (KTSP). Menurut pandangan bodoh saya, perubahan kurikulum diimbangi SDM yang memadai patut disangsikan tidak ya?Hal tersebut mengingat perubahan kurikulum KBK ke KTSP, beberapa tahun sedikit perubahan terdapat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)-nya dengan dilengkapi kegiatan Eksplorasi, Elaborasi dan Konfirmasi di RPP. Kemudian perubahan terjadi lagi dengan penyertaan Penanaman Nilai-Nilai Karakter di dalam RPP. Kurikulum baru tersebut  (KTSP) faktanya tidak sepenuhnya berhasil dipahami oleh guru-guru sepuh (fakta di lapangan). Tidak dipahami menurut saya bukan berarti sesuatu yang buruk. Menurut saya kalau guru-guru yang sepuh kurang memahami kurikulum KTSP, tetapi berhasil dalam pembelajaran yang baik (diukur dari pencapaian hasil belajar siswa yang baik), maka itu bukan suatu masalah. Karena bagaimanapun, mereka tidak sepenuhnya mengharapkan perubahan kurikulum, tetapi mereka tetap sepenuhnya sungguh-sungguh dalam mengajar. Manusiawi! Dengan bahasa yang lebih sederhana saya ingin mengatakan bahwa kurikulum apapun mungkin tidak terlalu penting dibandingkan dengan hasil belajar, dan kurikulum yang telah lalu bukan berarti buruk bukan?

Tapi saya berfikir positif saja, pergantian kurikulum barangkali akan membawa peningkatan prestasi yang lebih baik lagi bagi semua-semua-semua lembaga pendidikan (sekolah). Toh, hal tersebut memang sudah dianggarkan dan tidak membutuhkan biaya besar kok. Hm….

#Ganti kurikulum lumrah, asal bukan murid kencing berlari. Ckck.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tentang Keaslian Akun Twitter @jokowi_do2 …

Blontank Poer | | 28 January 2015 | 16:12

Kisah Pencari Logam Mulia di Batu Hijau …

Dhanang Dhave | | 28 January 2015 | 09:59

Esensi “Tongsis” …

Fandi Sido | | 28 January 2015 | 10:42

Harta Karun Tanah Papua …

Rico Tude | | 28 January 2015 | 15:14

Ayah Bunda, Ini yang Sebaiknya Dilakukan …

Achmad Suwefi | | 27 January 2015 | 16:56


TRENDING ARTICLES

Aksi Heroik Raja Salman …

Muhammad Armand | 8 jam lalu

Pencalonan BG Bukan Inisiatif Jokowi! …

Elde | 9 jam lalu

Tim 9 Tidak Independen, Hanya Panggung …

Isson Khairul | 12 jam lalu

Inilah Alasan Effendi Simbolon Menunjukan …

Dean Ridone | 13 jam lalu

Jokowi Perlu Contoh Raja Baru Arab Saudi …

Mustafa Kamal | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: