Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Farah Diena Rahmania

writing and photography are my sweet escape to be a reporter. I love journalism!

Yang Dibutuhkan Pelajar Indonesia

OPINI | 06 January 2013 | 22:49 Dibaca: 364   Komentar: 0   1

Jika mendengar kata ‘Apresiasi’, kita akan membayangkan akan terhargainya usaha atau sebuah pencapaian. Inilah yang harus kita sadari akan peran pemerintah atau lembaga keilmuan mengenai penghargaan atas karya atau prestasi para pelajar di Indonesia. Saya cukup heran ketika melihat seorang anak berprestasi yang mampu membuat sebuah inovasi, tetapi tidak diekspos atau dengan kata lain muncul ke permukaan. Namun, lain halnya dengan seorang penyanyi atau artis yang begitu digempar-gemparkan, yang menurut saya tidak memberikan manfaat apa-apa terhadap satu sama lain.

Dalam kasus seperti ini, saya melihat adanya dua tujuan para pelajar untuk masa depannya. Namun, tujuan pokok mereka terbilang sama, yaitu menjadi orang yang berlimpah kekayaannya. Golongan pertama, mereka yang terbentuk sebagai individu yang bekerja keras, tentunya akan menempuh jalur pendidikan untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas diri mereka. Kemudian golongan kedua, mereka memilih dunia selebrita atau dunia hiburan sebagai jalur menuju kesuksesannya.

Kehidupan yang begitu lekat dengan hura-hura akan membentuk suatu mindset bahwa hidup ini hanya untuk mencari kesenangan. Padahal pada hakikatnya manusia tentu saja tidak bisa hidup dengan hal ini. Para pelajar yang sudah mempunyai cita-cita tinggi akan fokus untuk mencapainya. Namun, mereka sering menghadapi kendala yang sama, yaitu masalah keuangan. Anak dengan prestasi dan tingkat kecerdasan yang tinggi dapat lahir dari keluarga mana saja. Baik kaya atau miskin.

Mirisnya, meski begitu kekurangan, kadang pemerintah tutup mata akan hal itu. Para pelajar dengan semnagat dan kemauan yang tinggi sudah banyak yang menghentikan impian karena terbentur masalah ekonomi. Mereka berujung pada ngamen di jalan, menjadi buruh kerja, dan sebagainya.

Peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam hal ini. Andai kata pemerintah lebih membina dan menolong para pelajar yang mengalami kendala, maka hal seperti ini tidak akan terjadi. Bagi saya, pemerintah kurang terjun langsung untuk masalah pendidikan, padahal generasi muda adalah penerus bangsa ini. Mungkin kalimat tersebut sudah sangat sering terdengar oleh kita. Namun sayangnya, hal ini tidak pernah benar-benar diresapi maknanya oleh kita.

Alangkah indahnya jika pendidikan di negeri ini menjadi sedikit lebih murah atau bahkan gratis. Lemahnya semangat dan daya juang para pelajar sekarang ini karena ketidakpastian akan masa depan mereka. Banyaknya pengangguran dan gaji UMR yang rendah, akhirnya membuat para pelajar seperti kehilangan arah.

Menurut pandangan saya, jaminan akan masa depan yang cemerlang akan menumbuhkan semangat dan tujuan yang konkret untuk setiap para pelajar. Bayangkan jika mereka dididik sejak dini akan pentinganya suatu kemajuan negeri dan ditumbuhkan rasa kecintaannya pada tanah air, saya yakin bangsa ini akan dipimpin oleh para pemimpin yang bijaksana.

Langkah konkretnya adalah dengan memberikan bantuan seperti bantuan dana, pelatihan, dan sebagainya. Mungkin cara ini sudah banyak dilakukan, tetapi bagi saya manfaatnya kurang begitu nyata. Beantuan dana dipersulit, pelatihan memasang tarif, dan biaya pendidikan terus melambung tinggi. Namun sedihnya lagi, bagi mereka yang mampu justru menghabiskan uangnya untuk kesenangan yang tidak terlalu penting dan bukan untuk pendidikan.

Menumbuhkan semangat kompetitif terhadap pelajar atau mahasiswa harus dilihat dari motivasi mereka masing-masing. Motivasi diperlukan agar setiap individu dapat secara maksimal mengembangkan dirinya. Namun, setiap individu mempunyai keinginan dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan arahan yang jelas akan masa depan mereka. Sebagian dari mereka ingin bekerja, sebagian ingin melanjutkan studinya, dan sebagian lagi tidak tahu melanjutkan ke mana. Dengan memberikan jaminan akan masa depan para pelajar, maka mereka akan lebih semangat untuk meraih cita-citanya.

Menurut saya, beasiswa berupa uang selama masa studi, beasiswa ke luar negeri, dan jaminan pekerjaan merupakan hal yang dapat menumbuhkan semangat kompetitif yang sehat untuk meraih prestasi yang maksimal. Bisa dikatakan hal tersebut merupakan apresiasi untuk mereka. Asalkan ada timbal balik (feedback) dari para pelajar, yaitu berupa prestasi.

Dengan demikian, diperlukan adanya kerjasama antara pemerintah atau lembaga keilmuan dengan para pelajar. Sebagian besar mental para pelajar bersifat malas, oleh karena itu mau tidak mau mereka harus dijanjikan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan semangatnya, contohnya seperti yang sudah saya sebutkan. Hubungan timbal balik yang kita harapkan dapat menjadi hal yang positif dan dapat memajukan pertumbuhan bangsa ini. Saya juga berharap Indonesia menjadi negeri yang memiliki pemimpin dan rakyat yang bijaksana, sehingga tercipta suatu kesinambungan dalam membangun negeri ini. Semoga saja.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 20 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 22 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 23 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 23 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 December 2014 07:59


Subscribe and Follow Kompasiana: