Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Novran Sulisno

Nama saya Novran Sulisno, Alumni dari SDN 1 Muara Emburung / SDN 17 Rambang Dangku, selengkapnya

Apa dan Siapa yang Dimaksud Mahasiswa ??

REP | 06 January 2013 | 18:08 Dibaca: 950   Komentar: 0   0




Mahasiswa merupakan sebutan dari sebuah identitas pengalihan untuk segolongan orang yang akan menuntut ilmu di dalam dunia kampus baik dalam aspek universitas , akademi maupun sekolah tinggi yang sebelumnya hanya menyandang status sebagai siswa selanjutnya mengalami sebuah peningkatan status sosialnya, yang untuk mendapatkannya perlu sebuah perjuangan, pengorbanan yang tidak mudah, karena memiliki beberapa tahap yang menjadikan calon mahasiswa harus bertarung di ajang kompetensi yang sengit untuk mendapatkan sebuah gelar seorang mahasiswa tersebut, dan ketika seseorang telah menyandang status sebagai mahasiswa, maka harus mengikuti proses karantina dunia kampus dalam rentang waktu antara 4-7 tahun.

Gelar seorang mahasiswa merupakan suatu kebanggaan bagi setiap orang yang menyandangnya, betapa tidak, gelar seorang mahasiswa bukan hanya sebagai status sosial semata, tetapi juga merupakan sebuah gelar yang terakui oleh seluruh lapisan elemen penggerak negara mulai dari buruh, petani, guru, dosen, rektor,birokrat,politisi, pengusaha dll.

Kenniston (rahmawati, 2006) mengatakan bahwa mahasiswa (youth) adalah suatu periode yang disebut dengan “studenthood” yang terjadi hanya pada individu yang memasuki post secondary education dan sebelum masuk kedunia kerja yang menetap.

Visi pelayanan mahasiswa menyebutkan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang sedang mempersiapkan diri dalam keahlian tertentu dalam tingkat pendidikan tinggi.Sosok mahasiswa juga kental dengan nuansa kedinamisan dan sikap kenyataan  objektif, seistematik dan rasional.

Mahasiswa juga mendapatkan kedudukan yang terhormat, diantaranya  ketika proses indonesia merdeka dan proses terjadinya sebuah reformasi, tak dapat di pungkiri bahwa mahasiswalah yang saat itu menjadi tumpuan harapan bangsa, negara,masyarakat, keluarga serta dalam aspek agama sekalipun.

Semuanya juga menyepakati jika mahasiswa memiliki sebutan sebagai agent of change, director of change, creative minority, calon pemimpin bangsa dan lain sebagainya.

Dan sejarah pun telah menjadi saksi tersendiri dari  berbagai perubahan besar dalam persimpangan sejarah negeri  ini, yang senantiasa menempatkan mahasiswa dalam posisi terhormat sebut saja proses  indonesia dalam mencapai kemerdekaan dan proses terjadinya reformasi,seperti yang sudah di sebutkan sebelumnya, tak pelak jika mahasiswalah yang kemudian menjadi tumpuan harapan bangsa, harapan negara, harapan masyarakat, harapan keluarga dan juga harapan agama.

Dan dibalik itu semua , timbul sebuah pertanyaan , mahasiswa seperti apakah yang mampu atau layak menyandang status kebanggaan  tersebut seperti yang  dikemukakan sebelumnya ?

Mungkin kita akan menjawab pertanyaan tersebut dengan kata atau kalimat yang sama, yaitu mahasiswa yang  biasa biasa saja, tidak memiliki jiwa optimisme, tidak suka berjuang, mudah menyerah atau bahkan putus asa, cenderung lesu dan dan tidak ambil pusing  pada proses pengembanga n potensi intelektualnya sendiri,dll.

Ketika seseorang telah resmi menyandang status sebagai mahasiswa,maka dia harus mengikuti segala peraturan, aktivitas, kegiatan, dan berbagai program universitas yang harus diikuti / jalani sebagai kewajiban yang harus diemban oleh setiap mahasiswa.

Dan dalam setiap aktivitas yang kita emban, haruslah memiliki sebuah rencana yang produktif dan efisien, dimana kita harus mampu membagi setiap waktu  untuk menjalankan aktivitas tersebut, karena jika tidak,akan banyak waktu yang terbuang sia sia / tidak bermanfaat.

Sebagai seorang mahasiswa tentun juga  telah mengetahui bahwa proses pembelajaran dalam kegiatan kuliah, berbeda ketika pada saat mengemban status sebagai siswa SMA/SMK /MA dan tingkat pendikan sederajat lain nya, dimana kita dapat melihat bahwa perbandingan persentase proses belajar mengajar cukup signifikan, 75 % di berikan pendidik/guru dan sisanya 25 % siswa sendiri mencari bahan atau belajar sendiri di rumah, sedangkan seorang mahasiswa memiliki tantangan yang cukup menggiurkan, 25 %  di berikan oleh pengajar atau dosen dan sisanya seorang mahasiswa harus mampu mencukupinya dengan mencari bahan materi sendiri untuk menambah pengetahuan dan kemampuan mengenai setiap materi yang diberikan oleh pengajar di universitas tersebut.

Dari perbandingan tersebut kita dapat mengambil beberapa kesimpulan, salah satunya yaitu bahwa proses pembelajaran untuk tingkat mahasiswa sebuah uneversitas memiliki perbedaan yang cukup signifikan di bandingkan spendidikan sebelum masukn ke universitas.

Didalam sebuah universitas, akademi ataupun sekolah tinggi memiliki wadah atau tempat untuk mahasiswanya agar dapat mengembangkan potensi intelektual,sehingga dapat membentuk karakter dari seorang mahasiswa,maka sebuah organisasilah  tempat yang paling tepat untuk bernaung atau berlabuh dalam mendapatkan poin penting tersebut.

Karena tidak semua hal bisa dipelajari di kelas dan laboratorium. Masih banyak hal yang bisa dipelajari di luar kelas, terutama yang hanya bisa dipelajari dalam sebuah organisasi.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya organisasi kemahasiswaan  menyediakan kesempatan pengembangan potensi diri luar biasa dalam berbagai aspek. Misalnya belajar tentang kepemimpinan, manajemen diri, waktu dan keorganisasian, membangun human relation ( jaringan ), keterampilan komunikasi team building, team work dan sebagainya. Yang di zaman sekarang ini sangatlah dibutuhkan bahkan saat mayoritas instasi atas perusahaan baik dalam sector swasta atau pemerintah sangat memperhatikan skill organisasi sebagai syarat penerimaan karyawan baru dan tidak hanya berpatokan pada tingginya nilai indeks prestasi saja. Dan juga bisa dapastikan kemampuan semacam ini hampir tidak didapat para mahasiswa dalam proses belajar yang berlangsung dikelas.

Sebuah organisasi juga sekaligus menjadi laboratorium gratis ajang aplikasi ilmu yang didapat di kelas kuliah dalam proses pembentukan karakter dan pola pikir.

Mahasiswa mempunyai peran penting sebagai agen perubahan (agent of change) bagi tatanan kehidupan yang secara realistis dan logis diterima oleh masyarakat (chaerul.2003)sejalan dengan pendapat tersebut Kartono(rahmawati, 2006) menyebutkan bahwa mahasiswa merupakan anggota masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tertentu antara lain :

1). Mempunyai kemampuan dan kesempatan unntuk belajar di perguruan tinggi sehingga dapat digolongkan sebagai kaum intelegensia.

2). Mahasiswa diharapkan nantinya dapat bertindak sebagai pemimpin masyarakat ataupun dalam dunia kerja.

3). Mahasiswa diharapkan dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses modernisasi.

4). Mahasiswa diharapkan dapat memasuki dunia kerja sebagai tenaga yang berkualitas dan profesional.

Ditinjau dari kepribadian individu mahasiswa merupakan suatu kelompok individu yang mengalami proses menjadi orang dewasa yang dipersiapkan atau mempersiapkan diri dalam sebuah perguruan tinggi dengan keahlian tertentu.

Mahasiswa juga dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat.

Karena mahasiswa belum terpengaruh oleh kepentingan- kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb.

Berdasarkan berbagai potensi dan kesaempatan yang di miliki oleh mahasiswa, tidak sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan diri sendiri tanpa memberikan sebuah kontribusi terhadap bangsa dan negaranya.

Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, buka pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyrakat.

Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi dan posisi mahasiswa untuk menentukan arah pergerkan perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut.


1)peran mahasiswa

A. Mahasiswa sebagai “Iron Stock”

Mahasiswa dapat menjadi iron stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi- generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupan aset , cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu dindai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus- menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Lantas sekarang apa yang kita bisa lakukan dalam memenuhi peran iron stock tersebut ? jawabannya tak lain adalah dengan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumya.


B. Mahasiswa Sebagai “Guardian of  Value”.

Mahasiswa sebagai Guardian of Value berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga nilai-nilai di masyarakat lalu sekarang pertanyaannya adalah, “Nilai seperti apakah yang harus dijaga ??”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus melihat mahasiswa sebagai insa akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam materi kebenaran. Kita harus memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa diwajibkan menjaganya.dari sebuah penjelasan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Guardian of Value adalah penyampai dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh berdasarkan watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebenaran ilmiah.


C. Mahasiswa  Sebagai  “Agent of Change”.

Mahasiswa sebagai Agebt of Change artinya adalah mahsiswa sebagai agen dari suatu perubahan. “kenapa harus ada perubahan ??”. untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pandang kondisi bangsa saat ini jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit – penyakit masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari para pejabat – pejabat atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya. Sudah seharusnyalah kita melakukan perubahan terhadap hal ini.     Lalu alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita diam. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap benar.

perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan.. pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal – hal bersifat materialistik seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat kapitalis, internet akan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya menyatakan bahwa ideologi atau nilaisebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampak nya kita harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahan  yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk mewujudkan hal – hal tersebut.

Sudah jelas kenapa perubahan  itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa ini.


2). Fungsi Mahasiswa

Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M.Hatta yaitu membentuk manusia susila dan demokrat yang

a) Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat.

b) Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan.

c) Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat.

Berdasarkan pemikiran M. Hatta tersebut, dapat kitasederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu : memiliki sense of crisis dan selalu mengembangkan dirinya. Insan akademis harus memiliki senseof crisis yaitu peka dan kritis terhadap masalah – masalah yang terjadi disekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran – pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi – solusi yang tapat untuk menyelesaikannya..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Seleksi CPNS 2014 Dibuka dan Diselingi …

Pebriano Bagindo | | 21 August 2014 | 05:00

Menanti Keputusan MK …

Wisnu Aj | | 21 August 2014 | 02:20

Senja Kala Pesepeda di Yogyakarta …

Yusticia Arif | | 21 August 2014 | 09:02

[Proyek Buku] Catatan Warga Indonesia di 10 …

Kompasiana | | 12 August 2014 | 23:19


TRENDING ARTICLES

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 3 jam lalu

Dapur Umum di Benak Saya …

Itno Itoyo | 14 jam lalu

Bonsai MK dan KPU, Berharap Rakyat Cueki …

Sa3oaji | 15 jam lalu

Menunggu Aksi Kenegarawanan Hatta Rajasa …

Giens | 16 jam lalu

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: