Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Bernadetta

Mahasiswa Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang bercita - cita menjadi seorang Violis ^_^)/ Belajar selengkapnya

Agama Budha

REP | 01 January 2013 | 09:28 Dibaca: 6209   Komentar: 0   5

Kalau ada teman - teman yang sedang bingung untuk membuat makalah mengenai agama budha, teman- teman bisa baca tulisan dibawah ini.

khususnya buat teman - teman yang mendapat tugas mata kuliah Antropologi Religi, bisa baca juga nih :D

tapi sumbernya juga diambil dari buku dan sumber internet yang lainnya . selamat membaca .

PENDAHULUAN

Agama budha disebut mempunyai pengaruh besar di Indonesia sebab agama budha merupakan agama yang paling awal tersebar di Indonesia setelah agama hindhu. Agama budha muncul sekitar abad ke 6 SM,sebagai reaksi terhadap agama hindu yang dianggap terlalu kaku. Istilah budha berarti “budhh” yang artinya bangkit, dan kata kerja “bujjhati” yang berarti memperoleh pencerahan. Budha membebaskan orang-orang dari apa yan g disebut kebencian (dosa), serakah (lobha), dan kegelapan (moha). Agama ini bertolak dari tata susila yang harus dilaksanakan agar manusia terbebas dari lingkaran sangsara sebagaimana yang dilakukan oleh Sang Buddha.

PERJALANAN AGAMA BUDDHA

Pada abad sebelum Masehi, setelah Sang Buddha wafat, terdapat banyak perbedaan diantara para bhiksu. Para bhiksu terpecah menjadi 2 golongan, antara golongan yang ingin tetap mempertahankan ajaran buddha murni dan golongan yang ingin merubah ajaran buddha. Golongan murni menamakan diri mereka sebagai Theravada dan kaum yang ingin mengadakan perubahan menamakan diri mereka sebagai Mahasangika atau lebih terkenal dengan aliran “Mahayana”.

Agama buddha berkembang pesat pada masa Raja Asoka, dan mulai banyak dibangun tugu “piyadasi” atau tugu perikemanusiaan. Dalam pasamuan ketiga tersusun kitab Abdhidharma Pitaka yang merupakan bagian dari Tripitaka. Pada masa itu pula, penyebaran agama buddha dikembangkan oleh Raja Asoka hingga Mesir, Yunani, dan Asia Tenggara. Sang Pangeran Mahinda menyebarkan agama buddha ke Srilanka yang hingga saat ini menjadi pusat agama buddha.

Setelah Raja Asoka meninggal, aliran Theravada terpisah dengan aliran Mahayana.

Pada abad ke-7 M, agama buddha mengalami kemunduran karena serangan Bangsa Hun Putih dan bangkitnya Hindhu Brahmana. Di Indonesia sendiri, agama budha sudah menyebar pada abad ke-5, dan pada abad ke-7 Musafir I’Tsing mengabarkan terdapat kerajaan Sriwijaya yang menganut aliran Theravada, sedangkan di Jawa berdirinya Candi Borobudur di masa Samaratungga menjadi tanda bahwa aliran Mahayana lebih dominan di Jawa.

PENDIRI DAN PENYEBAR AGAMA BUDHA

Agama budha didirikan oleh putra mahkota Raja Sudhona dari Nepal yang bernama Sidharta. Saat berumur 29 thun ia memulai perjalanan sebagai pertapa. Awalnya ia berguru pada 2 orang brahmana, akan tetapi ia tidak puas atas ilmunya sehingga ia memutuskan untuk bertapa, dan akhirnya memperoleh 5 murid yang mengikuti jejaknya sebagai pertapa. Pada malam Waisak,ia melakukan meditasi san mendapat 4 ilmu tinggi yaitu: Pubbenivasanussati, Dibacakkhu, Cuti Upapana, Asvakkhyanana

Dengan pengetahuan tersebut ia mendapat penerangan yang disebut “empat kasunyatan mulia” yaitu Penderitaan, Sumber Penderitaan, Lenyapnya Penderitaan dan Delapan Cara Lenyapnya Penderitaan. Dengan pencapaian itu, Sidharta Gautama telah menjadi buddha pada usia 35 tahun. Bhaluka dan Tapusa adalah pengikut pertamanya, setelah itu ia menyebarkan dharmanya pada kelima bekas muridnya. Sejak peristiwa itu, Sidharta Gautama menyebarkan ajarannya ke seluruh India yang dikenal dengan 4 Kebajikan-Kebenaran, bahwa:

· Kehidupan Manusia pada dasarnya tidak bahagia

· Sebab bahagia adalah karena terbelenggu nafsu

· Hawa nafsu dapat ditiadakan dengan ajaran budha yaitu”nirwana”

· Menimbang, berpikir, berbuat, mencari nafkah, berusaha, mengingat serta meditasi yang benar

Selama 45 tahun sang Budha menyebarkan ajarannya dan ia wafat pada usia 80 tahun di Kusiwara.

KITAB KITAB AGAMA BUDHA

Sumber utama ajaran-ajaran Budha ialah kitab Tripitaka (Tri : tiga, Pitaka : keranjang). Sesungguhnya kitab ini berisi kumpulan ceramah, keterangan, perumpamaan dan percakapan Budha dengan para murid dan pengikutnya. Jadi kitab Tripitaka itu bukan saja memuat perkataan budha sendiri, melainkan juga memuat perkataan dan pendapat dari para muridnya. Oleh para muridnya ajaran-ajaran keagamaan itu kemudian dipilah menjadi tiga kelompok utama yang disebut “Vitaka Pitaka” , “Sutra Pitaka” , dan “Abidharma Pitaka”.

1. Kitab Vinaya Pitaka.

Kitab ini berisi peraturan-peraturan bagi para bhikku dan bhikkhuni yang dibagi lagi dalam tiga kitab, yaitu “Sutra Vibanga” , “Khandaka” , dan “Paravira”.

· Sutra Vibanga. Kitab ini berisi peraturan-peraturan yang mencakup delapan jenis pelanggaran, yang diantaranya ada empat jenis pelanggaran yang dapat berakibat seorang bhikku dan bhikkuni dikeuarkan dari sangha.

· Khandaka. Kitab ini berisi peraturan-peraturan dan uraian-uraian tentang upacara panahbisan bhikkhu atau bhikkhuni. Anatara lain dikatakan tentang tata tertib penerimaan bhikkhu dan lainnya serta pelanggaran-pelanggarannya. Dalam kitab ini diuraikan juga tentang pasamuan agung pertama di Rajagraha dan pesamuan agung di Vesali.

· Parivara. Kitab ini berisi ringkasan dan pengelompokan peraturan vinaya yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipakai dalam pengajaran dan pelaksanaan ujian.

2. Sutta Pittaka

Sutta Pitaka terdiri atas lima ‘kumpulan’ (nikâya) atau buku, yaitu :

· Dîgha Nikâya. Merupakan buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 34 Sutta panjang, dan terbagi menjadi tiga vagga : Sîlakkhandhavagga, Mahâvagga dan Pâtikavagga. Beberapa di antara sutta-sutta yang terkenal ialah : Brahmajâla Sutta (yang memuat 62 macam pandangan salah), Samannaphala Sutta (menguraikan buah kehidupan seorang petapa), Sigâlovâda Sutta (memuat patokan-patokan yang penting bagi kehidupan sehari-sehari umat berumah tangga), Mahâsatipatthâna Sutta (memuat secara lengkap tuntunan untuk meditasi Pandangan Terang, Vipassanâ), Mahâparinibbâna Sutta (kisah mengenai hari-hari terakhir Sang Buddha Gotama).

· Majjhima Nikâya. Merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat kotbah-kotbah menengah. Buku ini terdiri atas tiga bagian (pannâsa); dua pannâsa pertama terdiri atas 50 sutta dan pannâsa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152 sutta. Beberapa sutta di antaranya ialah : Ratthapâla Sutta, Vâsettha Sutta, Angulimâla Sutta, Ânâpânasati Sutta, Kâyagatasati Sutta dan sebagainya.

· Anguttara Nikâya. Merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka, yang terbagi atas sebelas nipâta (bagian) dan meliputi 9.557 sutta. Sutta-sutta disusun menurut urutan bernomor, untuk memudahkan pengingatan.

· Samyutta Nikâya. Merupakan buku keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta. Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.

· Khuddaka Nikâya, merupakan buku kelima dari Sutta Pitaka yang terdiri atas kumpulan lima belas kitab, yaitu :

a. Khuddakapâtha, berisi empat teks : Saranattâya, Dasasikkhapâda, Dvattimsakâra, Kumârapañha, dan lima sutta : Mangala, Ratana, Tirokudda, Nidhikanda dan Metta Sutta.

b. Dhammapada, terdiri atas 423 syair yang dibagi menjadi dua puluh enam vagga. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

c. Udâna, merupakan kumpulan delapan puluh sutta, yang terbagi menjadi delapan vagga. Kitab ini memuat ucapan-ucapan Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan.

d. Itivuttaka, berisi 110 sutta, yang masing-masing dimulai dengan kata-kata : vuttam hetam bhagavâ (demikianlah sabda Sang Bhagavâ).

e. Sutta Nipâta, terdiri atas lima vagga : Uraga, Cûla, Mahâ, Atthaka dan Pârâyana Vagga. Empat vagga pertama terdiri atas 54 prosa berirama, sedang vagga kelima terdiri atas enam belas sutta.

f. Vimânavatthu, menerangkan keagungan dari bermacam-macam alam deva, yang diperoleh melalui perbuatan-perbuatan berjasa.

g. Petavatthu, merupakan kumpulan cerita mengenai orang-orang yang lahir di alam Peta akibat dari perbuatan-perbuatan tidak baik.

h. Theragâthâ, kumpulan syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang Buddha. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang diucapkan oleh para Thera atas Pembebasan yang telah dicapai.

i. Therigâthâ, buku yang serupa dengan Theragâthâ yang merupakan kumpulan dari ucapan para Theri semasa hidup Sang Buddha.

j. Jâtaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu.

k. Niddesa, terbagi menjadi dua buku : Culla-Niddesa dan Mahâ-Niddesa. Culla-Niddesa berisi komentar atas Khaggavisâna Sutta yang terdapat dalam Pârâyana Vagga dari Sutta Nipâta; sedang Mahâ-Niddesa menguraikan enam belas sutta yang terdapat dalam Atthaka Vagga dari Sutta Nipâta.

l. Patisambhidâmagga, berisi uraian skolastik tentang jalan untuk mencapai pengetahuan suci. Buku ini terdiri atas tiga vagga : Mahâvagga, Yuganaddhavagga dan Paññâvagga, tiap-tiap vagga berisi sepuluh topik (kathâ).

m. Apadâna, berisi riwayat hidup dari 547 bhikkhu, dan riwayat hidup dari 40 bhikkhuni, yang semuanya hidup pada masa Sang Buddha.

n. Buddhavamsa, terdiri atas syair-syair yang menceritakan kehidupan dari dua puluh lima Buddha, dan Buddha Gotama adalah yang paling akhir.

o. Cariyâpitaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu dalam bentuk syair, terutama menerangkan tentang 10 pâramî yang dijalankan oleh Beliau sebelum mencapai Penerangan Sempurna, dan tiap-tiap cerita disebut Cariyâ.

3. Abhidamma Pitaka.

Kitab Abhidhamma Pitaka berisi uraian filsafat Buddha Dhamma yang disusun secara analitis dan mencakup berbagai bidang, seperti : ilmu jiwa, logika, etika dan metafisika. Kitab ini terdiri atas tujuh buah buku (pakarana), yaitu :

· Dhammasangani, terutama menguraikan etika dilihat dari sudut pandangan ilmu jiwa.

· Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi delapan bab (vibhanga), dan masing-masing bab mempunyai tiga bagian : Suttantabhâjaniya, Abhidhannabhâjaniya dan Pññâpucchaka atau daftar pertanyaan-pertanyaan.

· Dhâtukatha, terutama membicarakan mengenai unsur-unsur batin. Buku ini terbagi menjadi empat belas bagian.

· Puggalapaññatti, menguraikan mengenai jenis-jenis watak manusia (puggala), yang dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai dengan sepuluh, sepserti sistim dalan Kitab Anguttara Nikâya.

· Kathâvatthu, terdiri atas dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan-percakapan (kathâ) dan sanggahan terhadap pandangan-pandangan salah yang dikemukakan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika.

· Yamaka, terbagi menjadi sepuluh bab (yang disebut Yamaka) : Mûla, Khandha, Âyatana, Dhâtu, Sacca, Sankhârâ, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya.

· Patthana, menerangkan mengenai “sebab-sebab” yang berkenaan dengan dua puluh empat Paccaya (hubungan-hubungan antara batin dan jasmani).

Gaya bahasa dalam Kitab Abhidhamma Pitaka bersifat sangat teknis dan analitis, berbeda dengan gaya bahasa dalam Kitab Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka yang bersifat naratif, sederhana dan mudah dimengerti oleh umum. Pada dewasa ini bagian dari Tipitaka yang telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam bahasa Indonesia baru Kitab Dhammapada dan beberapa Sutta dari Dîgha Nikâya.

AJARAN AGAMA BUDHA

Dari latar belakang sejarah bagaimana terjadinya sidharta gautama jadi budha, maka ajaran agama budha tidak bertolak dari ajaran ketuhanan, melainkan berdasarkan kenyataan kenyataan hidup. Pada umumnya ajaran agama budha berlandaskan atas lima pokok, yaitu :

· Tri ratna (budha – dharma – sangha)

· Catur arya satyani dan hasta arya marga

· Hukum karma dan tumimbal lahir

· Tilakhana yaitu tiga corak umum yang terdiri dari antya anatman dan dukkha

· Hukum pratya samuppada yaitu hukum sebab akibat yg saling bertautan

1. Ajaran Ketuhanan Theravada

Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini, dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.
Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh.

Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).

2. Ajaran Ketuhanan Mahayana

Dalam pemahaman konsep Ketuhanan Mahayana, Tuhan dipahami melalui konsep Trikarya dan Adi Budha. Sebagaimana dikemukakan tokoh utamanya Asvagosha dalam abad pertama masehi bahwa ada hierarki antara para Budha dan Bodhisatwa. Hal mana dikarenakan pada mulanya ada perbedaan pendapat sebagai berikut :

· Staviravada, beranggapan bahwa para budha adalah manusia yang telah mencapai pencerahan. Ajaran ini dianut Theravada.

· Mahasanghika, beranggapan bahwa para budha adalah makhluk yang luar biasa.

· Sarvastivada, beranggapan bahwa para budha adalah makhluk yang suci.

Karena terdapat perbedaan-perbedaan terutama ajaran sarastivada mengajukan konsepsi trikarya yang dikembangkan lebih lanjut menjadi mahayana. Menurut mahayana budha gautama perkembangan ajaran budha sendiri bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri, melainkan mata rantai dari deretan para budha yang ada.

Namun antara budha yang satu dengan yang lain itu berbeda-beda, oleh karena budha itu mempunyai tiga aspek :

· Inti dari dharma itu sendiri yang tidak terbayangkan

· Kemampuan yang tidak terbatas dan tidak bermaniffestasi sebagai tubuh pengganti kebudhaan yang diagungkan

· Bermanifestasi. Yakni kebudhaan yang berwujud duniawi sakyamuni budha dan budah dunia yang lain.

a. Doktrin Trikarya. Berdasarkan tiga aspek tersebut maka muncul doktrin trikarya atau “tiga tubuh budha” yang merupakan “dharmakarya”, “sambhogakaya”, “nirmanakaya”, yang mempunyai arti penting dalam ajaran mahayana.

- Dharmakaya. Budha digambatkan sebagai bentuk tubuh dengan pengetahuan sempurna, yang merupakan permulaan dan tidak berbentuk dan yang benar-benar bebas dari segala kekeliruan atau kegelapan. Jadi dharmakaya merupakan sumber dharma atau sumber kesunyatan sebagai hakikat yang hakiki tanpa bentuk dan warna. Namun ia berada dimana-mana dan dapat menciptakan dirinya sendiri dalam segala bentuk. Dengan demikian dharmakaya dapat dipandang sebagai “yang mutlak” atau Tuhan. Maka dalam aliran tanrayana, dharmakaya itu sembah sebagai sang adi budha.

- Sambogakhaya. Artinya adalah “tubuh rahmat” yakni suatu transedent dari budha yang tidak dapat diteeliti dengan akal karena hanya dapat dirasakan melalui kerohanian. Ia adalah manifestasi dari “yang mutlak” sebagai kenyataan yang lebih tinggi dari kebendaan yang berfungsi sebagai pembantu kelepasan manusia dan berkeduduknan sebagai :

- Guru-guru para bodhisatwa yang dari masa kemasa dikumpulkan untuk memberi pengajaran dasar tentang samsara dan nirwana.

- Para penguasa surga yang merupakan idaman para penganut agama budha sebgai tempat dilahirkan kembali.

- Bapak rohani dari para nirmanakaya yang karena kasih sayang kepada semua yang ada diproyeksikan ke dunia melalui meditasi.

- Nirmanakaya. Nirmanakaya merupakan wujud yang dimanifestasikan sebagai tubuh yang digunakan budha untuk menyatakan diri di dunia dalam wujud tubuh manusia untuk mengajar manusia. Sebagaimana manusia mengalami proses perubahan tetapi mereka memiliki karakter dan kemampuan suprnatural. Mereka ini bertugas mengajarkan dharma (kebenaran) yangtelah diformulasikan di dunia. Mereka adalah penunjuk jalan kebebasan tanpa kekuasaan untuk mempersingkat jalan yang ditempuh seseorang. Jadi nirmanakaya adalah “budha dunia” yang mengtajarkan dharma dari masa kemasa, mereka ada lima orang yaitu konogamana, kakusandha, kassapa, gautama dan maitreya.

b. Doktrin Adi Budha di Indonesia. Sebagaimana dalam dharmakaya mengenai hakikat dan inti kenyataan dari agama tentang budha yang primordial yang erat hubungannyadengan pengertian adi budha dan oleh aliran tanrayana ia disembah sebagai Tuhan. Maka ia dikenalkan kembali pada taun 1964 oleh bhikku ashin jinarakkhita di Indonesia. Hal ini telah dikuatkan oleh dirjen bimbingan masayarakat hindhu dan budha departemen agama republik indonesia pada tahun 1973. Sehingga para penganut budha mahayana di Indonesia menganggap sang hyang adi budha sebagai Tuhan yang maha esa, yang juga disebut swaayambu lokananta (pelindung dunia) yang berkedudukan di nirwana dan anista buwana yaitu alam diatas segala alam semesta. Manifestasinya sebagai puncak “catya” (bagian puncak stupa). Pencitraan sang hyang abadi hanya bisa diraih oleh mereka yang telah mencapai ‘samayak sambodi’, kesadaran tertinggi.

Diatas kelima dhayani budha yan memancarkan bodhisatwa dan manusia budha itu yang tertinggi adalah adi budha atau Tuhan yang maha esa. Hubungan antara dhiyani budha, bodhisatwa dan budha dunia itu erat sekali dan tidak terpisahkan satu sama lain. Menurut kepercayaan mahayana ada lima djayani budha. Bodhisatva dan manusia budha dengan masing-masing pengikutnya menempati salah satu penjuru dunia sesuai dengan arah mata angin dan salah satu daripadanya berada dititik tengah atau pusatnya. Mereka bertugas dalam salah satu masa yang terbagi lima masa dan untuk masa sekarang ini yang bertanggung jawab adalah amita, bodhisatvabalokatisvara dan budha gautama.

c. Ajaran Tentang Alam. Seluruh alamsemesta inimenurrut ajaran budha disebut ‘sankatha dharma’ yaitu ciptaan yang timbul dari seba-sebab yang terdahulu dan sifatnya tidak kekal (sankhara). Iadikatakan sankhaeta dharma karena adanya tidak mutlak ia timbul berubah dan lenyap. Jadi alam semesta ini selalu menjadi(lahir) dan berubah dari suatu keadaan menjadi keadaan yang lainyanh berurutan. Dengan demikian sifat alam semesta itu ‘anicca atau anitya’ selalu dukkha (berubah) dan tidak sebagaimana atta atauatman (jiwa). Menurut ajaran agama budha, alam (loka0itu dapat dibedakan dalamtiga kelompok yaitu;sankharaloka, sattaloka, dan okasaloka.

- Shankharaloka

- Sattaloka

- Kamaloka

- Rupaloka

- Arupaloka

- Okasaloka. Alam ini adalah alam tempat dimana terdapat kehidupan makhluk:

- Alam bumi sebagai tempat kehidupan manusia dan benda-benda lain

- Alam dewa sebagai tempat kehidupan dewa

- Alam neraka sebagai tempat makhluk rendahyang menderita

- Dharma yang mengatur alam. Hukum yang mengatur alam dapat dibedakan dalam lima kelompok yaitu :

- Utuniyama

- Bijaniyama

- Karmaniyama

- Cittamiyama

- Dharmaniyama

d. Ajaran tentang manusia. Oleh karena titik tolak ajaran budha bukan dari kenyakinan adanya Tuhan(yang mutlak), tetapi pada kenyataan-kenyataan yang dihadapi manusia ssehari-hari, maka dalam ajaran agama ini manusia mempunyai tempat khusus, karena manusia merupakan unsur yang dominan dalam keseluruhan ajaran keagammannya. Sebagaimana yang diuraikan dalam “trilakhana” ada 3 corak yang umum dalam membicarakan tentang manusia, yaitu :

- Catur arya satyani (4 kesunyatan)

- Hukum karma (hukum sebab akibat)

- Tumimbal lahir (kelahiran kembali)

Kemudian manusia dalam ajaran budha merupakan kesatuan kelompok energi fisik dan mental yang terus bergerak yang disebut “punchakhanda” yang mempunyai beberapa kegemaran, yaitu:

1) Rupakhanda. Kegemaran terhadap wujud/bentuk yang dapat diserap dan dibayangkan dengan panca indra (didengar,dilihat,dirasa,dicium dan disentuh).

2) Wedana khanda. Kegemaran terhadap perasaan dalam hubungan panca indra dengan dunia luar seperti timbulnya rasa senang,susah dsb.

3) Sannakhanda. Kegemaran penyerapan terhadap intensitaas indra dalam menanggapi rangsanagn yang datang dari luar seperti bentuk suara, bau, cita rasa, sentuhan dan pikiran.

4) Sankharakhanda. Kegemaran terhadap bentuk-bentuk pikiran yang sampai 50 macam banyaknya yang timbul dari kegiatan mantal.

5) Vinnanakhanda. Kegemaran terhadap kesadaran, reaksi atau jawaban berdasarkan salah satu dari keenam indra dengan objeknya.misal kesadaran mata (cakkhuvinana) adalah untuk melihat benda-benda yang disadari baik, buruk atau netral.

Pancakhanda tersebut saling berkaitan satu sama lain. Kelimanya dapat diringkas menjadi dua, yaitu “nama” dan “rupa”. Nama kumpulan dari perasaan, pikiran, penyerapan dan unsur rohaniah. Sedangkan rupa adalah bersifat jasmaniah yang terdiri dari tanah, air api dan udara/hawa. Jadi manusia itu merupakan kumpulan dari lima “khanda” tanda adanya atma atau roh. Sebagaimana diajarkan dalam catur arya satyani hakikat dukkha ada 3:

- Dukkha sebagai dukha-dukha. Yaitu penderitaan biasa yang dialami. Misal : peristiwa lahir, usia tua, berpisah dari sesuatu yang dicintai dsb.

- Dukkha sebagai viparmadukkha. Yaitu akibat terjadinya perubahan-perubaha(fisik, mental dll).

- Dukkha sebagai sankharadukkha. Yaitu akibat kebergantungan yang satu sama lain.

Ada 3 akar dari kejahatan (akusala): Lobha yaitu tamak, Moha yaitu kegelapan, Dosa yaitu kebencian.

Terhentinya dukkha manusia yang disebut dukkha nirodha berarti nirwana. Jadi nirwana itu berarti padamnya kehausan (tanhakaya), tidak saling bergantung (asankhata), hapusnya keinginan (viroga), terhentinya dukkha(niroda). Dengan demikian, nirwana itu adalah akhir dari proses yang terjadi dalam diri manusia, yang dapat dibedakan sebagai berikut:

· Nirwana sama dengan dharmakaya yang berarti bersih dari kecemasan

· Uphadhisesa nirwana yang berarti walaupun sudah bebas dari pengaruh rintangan namun masih ada hambatan kebendaan

· Anuphaadhiesa nirwana yang berarti kebebasan sempurna dari segala rintangan

· Nirwana yaitu tingkat yang tertinggi yang berarti penyerahan mutlak yang mendatangkan kebaikan terhadap orang lain

e. Ajaran menuju nirwana

Tujuan akhir umat budha dalam hidup dan sesudah mati adalah nirwana, untuk itu umat budha harus memahami “HASTA ARYA MARGA” yaitu delapan jalur sikap dan perilaku untuk membebaskan diri dari dukkha. Kasunyatan ini juga merupakan “majjhima pattipada” yaitu jalan tengah diantara dua hal yang ekstrim yaitu:

· Mencari kebahagiaan dengan mengikutihawa nafsu yang rendah.

· Mencari kebahagiaan dengan menyiksa dir dalam berbagai cara.

Dari 8 jalur perilaku untuk mencapai nirwana tersebut dapat dibagi dalam 3 kelompok ajaran yaitu :

· Sila. Ialah ajaran kesusilaan yang didasarkan atas cinta dan welas kasih kepada semua makhluk. Termsauk dalam sila ini ada 3 jalur:

o Sammavaca : berbicara benar

o Sammakamanta : berbuat yang benar

o Sammaajiva : bermatapencaharian yang benar

Tujuan ajaran ini adalah untuk mengembangkan perilaku yang seimbang dan bahagia baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain disekitarnya.

· Samadi. Ialah ajaran disiplin mental yang meliputi 3 unsur:

o Sammavayama:bedaya upaya benar

o Sammasati : menaruh perhatia yang benar

o Samma samadhi: berkonsentrasi yang benar

· Panna. Ialah ajaran kebijaksanaan yang luhur yang terdiri dari dua unsur:

o Sammadithi :berpengertian yang benar

o Sammasankappa :berfikiran yang benar

Kedelapan perilaku utama yang terdir dari 8 unsur tersebut secara keseluruhan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus dikembangkan bersama-sama yang seimbang. Oleh karena “sila” adalah landasan “semadi” dan “semadi” adalah landasan “panna”. Jika pana berkembang maka “sila” dan “semadi” akan menjadi lebih mantab, maka jika “panna” sudah sempurna “sila” bukan lagi sebagai “sikkha” (latihan), melainkan akan terwujud dengan wajarnya.

Dalam kehidupan umat budha sehari-hari kedelapan jalur tersebut adalah dasar dan pedoman hidupnya yang dijabarkan dalam konsep pancasila, hasta sila dasasila dan patrimokka sila.

1. Pancasila. Yaitu lima sila yang harus dipertahankan umat budha dalam kehidupan sehari-hari:

a. Tidak akan menganiaya / membunuh

b. Tidaka akan mengambil .memiliki sesuatu yang bukan haknya

c. Akan melaksanakan hidup susila

d. Tidak serong, tidak berzina, tidak berdusta, tidak menipu atau memfitnah

e. Menjauhi percakapan yang tidak berguna dan harus berkata benar

2. Hasta sila. 8 janji para umat budha(orang awam) agar menjauhi perbuatan yang terlarang:

a. Tidak akan menganiaya/membunuh

b. Tidak akan mengambil / memiliki sesuatu yang bukan haknya

c. Tidak akan berzina

d. Tidak berdusta ,tidak menipu, tidak menfitnah dan menjauhi percakapan yang tidak berguna

e. Menjauhi miras, makanan yang memabukkan / merusak kesadaran

f. Tidak akan makan setelah pukul 12

g. Tidak menari, menyanyi, main musik, melihat pertunjukkan , tidak memakai wewangian, perhiasan dsb

h. Tidak akan memakai tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah

3. Dasasila. Yaitu 10 janji bagi para bhikkhu dan samnera, yaitu janji untuk tidak melakukan perbuatan sebagaimana dalam “hasta sila” sampai nomor 6 diatas dan yang nomor 7 dipecah menjadi 2 sehingga menjadi:

a. Tidak akan menari, menyanyi, bermain musik danmelihat pertunjukkan hanya untuk memuaskan indra saja

b. Tidak akan memakai wangian,bungaan, minyak rambut dan perhiasan bersolek laninnya

c. Tidak akan memakai tempat dudk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah

d. Tidak akan menerima emas dan perak untuk dimiliki

4. Patimokha sila, yaitu sila utama dan paling tinggi bagi para bhikku dan bhikkhuni yang telah menerima penahbisan(upasampada) berupa 227 peraturan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berperilaku dalammelaksanankan hasta arya marga tersebut mak aumat budha akan mencapai nirwana.

SANGHA DAN UPACARA

Agama Budha lebih mengutamakan penganutnya untuk berbuat (karma) membebaskan diri masing-masing dari dukkha untuk mencapai nirwana. Umat Budha tidak memerlukan upacara persembahan atau pemujaan kepada para Dewa (Tuhan) tetapi mereka cukup melakukan Hasta Arya Marga. Dilihat dari segi kelembagaan umat Budha dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu:

1. Kelompok Sangha Atau Kelompok Wihara (Biara)

Kelompok Sangha terdiri dari para bhikkhu, bhikkhuni, samanera, dan samaneri. Mereka menjalani kehidupan suci untuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan serta tidak melaksanakan hidup berkeluarga. Yang dimaksud dengan Sangha menurut ajaran agama Budha ialah Pasamuan dari makhluk-makhluk suci yang disebut ‘Arya Punggala’ yaitu mereka yang sudah mencapai buah kehidupan beragama yang ditandai dengan kesatuan pandangan yang bersih dengan sila yang sempurna.

a. Tingkat kesucian yang mereka capai itu mulai dari:

Ø Sotapatti

Tingkat pertama ini adalah di mana seseorang masih harus menjelma tujuh kali lagi sebelum sampai nirwana. Pada tingkat ini seseorang masih harus berusaha mematahkan belenggu ‘kemayaan’ Akunya (Sakkayaditthi), keragu-raguan (vicikiccha), dan ketahayulan (silabataparamasa) sebelum mereka dapat meningkat ke tingkat kedua yaitu Sakadagami.

Ø Sakadagami

Tingkat kedua ini adalah di mana seseorang itu harus menjelma sekali lagi sebelum mencapai nirwana. Ia harus dapat membangkitkan ‘kundalini’ sebelum naik ke tingkat ketiga ‘Anagami’

Ø Anagami

Tingkat ketiga kesucian ini adalah dimana seseorang tidak perlu lagi menjelma untuk mencapai nirwana, namun ia harus mematahkan belenggu ‘kamaraga’ (kecintaan indrawi), ‘pategha’ (kemarahan atau kebencian).

Ø Arahat

Tingkat keempat kesucian ini di mana seseorang itu harus mematahkan belenggu sebagai berikut:

- Keinginan untuk hidup dalam ruparaga (bentuk)

- Keinginan untuk hidup arupara (tanpa bentuk)

- Kecongkakan (mano)

- Kegoncangan batin (udaccha)

- Kekurangan kebijaksanaan (avijja)

Selain empat tingkatan diatas menurut agama Budha masih ada tingkatan ‘Asekha’ atau orang yang sempurna (sabbanu) yang tidak perlu belajar lagi di bumi ini, di antaranya Sidharta Gautama yang telah mencapai tingkat kebudhaan tanpa harus belajar atau berguru kepada orang lain.

b. Kedudukan sangha

Ø Sangha itu tidak berkewajiban apapun terhadap umat Budha yang sifatnya lahiriah. Namun ada hubungan rohaniah di mana para anggota Sangha merupakan:

- Teladan cara hidup yang suci

- Menyampaikan dharma atas permintaan umat

- Membantu umat Budha dengan nasihat atau penerangan batin dalam suka dan duka.

Sebaliknya dari umat Budha lainnya para anggota Sangha patut menerima pemberian (ahu neyyo), tempat berteduh (pahuneyyo), persembahan (dokkineyyo), penghormatan (anjali karananiyo) dan sebagai tempat menanam jasa yang tidak ada taranya di dunia (anuttaram panna khettam lokassaa)

Ø Sangha tidak dapat dipisahkan dari dharma dan Budha, oleh karena ketiganya adalah ‘Triratna’ yang membentuk kesatuan tunggal dan merupakan manifestasi dari tiga asas dari Yang Mutlak di dunia. Hubungan ketiga unsur itu adalah:

- Budha sebagai bulan purnama

- Dharma sebagai sinar yang menerangi dunia

- Sangha sebagai dunia yang bahagia menerima sinat itu.

c. Cara menjadi bhikkhu

Seseorang yang memasuki persaudaraan para bhikkhu atau bhikkhuni, untuk pertama kalinya akan menerima ‘jubah kuning’. Ia tidak langsung diterima sepenuhnya sebagai bhikkhu atau bikkhuni melainkan terlebih dahulu menjadi calon atau ‘samanera’ dengan menepati sepuluh janji (dasa sila), tekun mempelajari dharma, dan menggunakan waktu luangnya untuk perenungan suci di bawah asuhan seorang bhikkhu atau bhikkhuni sebagai gurunya (acarya) yang dipilihnya sendiri. Setelah selesai melakukan kesemuanya itu, barulah ia diterima sepenuhnya menjadi bhikkhu dalam suatu upacara ‘upasampada’ (penahbisan) yang dihadiri para sesepuh atau para Thera. Jika ia wanita maka pentahbisannya dilakukan dua kali, pertama oleh bhikkuni dan kemudian oleh bhikkhu sangha. Setelah itu barulah ia menjadi Bhikkhu atau Bhikkhuni.

Sesudah menjadi Bhikkhu atau Bhikkhuni maka ia harus menjalani hidup bersih dan suci sebagaimana ditentukan dalam ‘Vinaya Pitaka’ yaitu melaksanakan 227 peraturan yang antara lain:

- Peraturan tata tertib lahiriah

- Peraturan cara penggunaan pakaian, makanan dan kebutuhan hidup lainnya.

- Cara menanggulangi nafsu keinginan dan rangsangan batin

- Cara memperoleh pengetahuan batin yang luhur untuk penyempurnaan diri.

Selama masa lima tahun pertama sebagai Bhikkhu atau Bhikkhunu ia masih dalam ikatan keguruan, setelah lebih dari 10 tahun ia sudah sebagai Thera.

2. Kelompok awam budha

Terdiri dari orang-orang yang telah mengakui Sang Budha sebagai pemimpin dan gurunya, mengakui dan meyakini kebenaran ajaran Budha serta berusaha dengan sungguh melaksanakan ajarannya. Mereka yang mengakui keagamaan Budha ini disebut Upasaka dan Upasaki. Pengakuan terhadap agama Budha dinyatakan dengan niat dan tekad untuyk berlindung kepada Budha, Dharma dan Sangha dengan mengucapkan ‘Trisarana’.

Dilihat dari tingkatan pemahaman seseorang terhadap ajaran Budha dan tanggung jawab keagamaannya , maka kelompok masyarakat Budha awam ini dapat dibedakan sebagai berikut:

- Upasaka dan Upasaki yang benar-benar awam keagamaannya

- Yang disebut Bala Anupandita, Anu Pandita dan Pandita adalah mereka yang menjalankan tugas sebagai penyebar dharma dan bergabung dalam organisasi umat Budha.

- Maha Upasaka, ialah para Pandita yang mengurus administrasi dan soal-soal teknis.

- Maha Pandita adalah para pandita yang mengurus khusus masalah keagamaan

- Anagarika adalah orang awam Budha yang diakui memilii pengetahuan dan kemampuan dalam mengamalkan ajaran Budha Gautama.

3. Upacara agama budha

Bagi kelompok Budha awwami yang berlaku adalah

- Mengucapkan mantera-mantera dari dalam ktab suci

- Mengikuti ceramah atau wejangan keagamaan

- Menghaturkan sesajian yang bermanfaat bagi umat Budha

Tujuannya adalah untuk lebih memperkuat jiwa dan kepercayaan pada diri sendiri agar semakin tebal keyakinan. Dari macam-macam upacara umat Budha terkandung beberapa prinsip, yaitu :

- Untuk menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Triratna

- Untuk memperkuat keyakinan

- Untuk membina keadaan batin yang luhur

- Untuk mengulang dan merenungkan kembali khotbah-khotbah Sang Budha

- Untuk melakukan anumodhana atau membagi perbuatan baik kepada orang lain.

a. Hari-hari raya Budha

Hari-hari raya agama Budha adalah :

· Hari Raya Waisak, hari raya ini jatuh pada bulan purnama sidhi, bulan mei-juni, untuk memperingati tiga kejadian penting yaitu :

- Saat kelahiran Sidharta Gautama

- Saat Sang Petapa Sidharta mencapai pencerahan

- Saat Sang Budha Gautama wafat dan mencapai nirwana

· Hari Raya Asadha, hari raya ini jatuh pada bulan purnama sidhi, bulan juli-agustus, untuk memperingati hari ketika Sang Budha mengajar dharma yang pertama kali kepada kelima muridnya yang disebut ‘pemutaran roda dharma’. Bagi para Bhikku ini adalah hari dimulainya menetap disatu tempat tertentu selama tiga bulan selama musim hujan.

· Hari Raya Kathina, dirayakan tiga bulan setelah hari Asadha sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para bhikku yang telah melaksanakan vassa.

· Hari Raya Magha Puja, jatuh pada bulan purnama februari-maret untuk memperingati dua kejadian penting, yaitu:

- Berkumpulnya 1250 orang Arahat di wihara Veluvana dikota Rajagraha untuk menghormati Sang Budha, setelah mereka kembali dari tugas menyebar dharma

- Tahun terakhir kehidupan sang Budha sewaktu ia di Cetiya Pavala (Vesali) setelah memberi khotbah Inddipadadarma kepada muridnya lalu membuat keputusan untuk meninggalkan dunia tiga bulan kemudian.

b. Upacara perkawinan

Menurut keputusan Sangha Agung Indonesia di Lembah Cipandawa tahun 1978 dinyatakan bahwa perkawinan sebaiknya dilaksanakan di Wihara atau Cetya, atau jika tidak ada dihadapan altar suci Sang Budha atau Bodhisatva dengan terlebih dahulu Altar itu diresmikan dengan memanjat Paritta-Paritta Vandana, Trisarana, Pancasila dan Puja. Kemudian yang berhak untuk melaksanakan upacara perkawinan ialah Pandita agama Budha mulai dari Upasaka Balu Anu Pandita, Upasaka Anu Pandita, Upasaka Pandita dan Maha Pandita.

c. Upacara kematian

Upacara dipimpin oleh seorang Pengacara atau Pemimpin Upacara dengan pelaksanaan sebagai berikut :

- Untuk pemberkahan jenazah disediakan satu gelas air putih bersih.

- Pemimpin upacara membawa 2 atau 4 atau 6 batang dupa yang diikuti beberapa peserta mengadakan prosesi mengelilingi jenazah hingga tiga kali.

- Selesai prosesi baru dimulai membaca paritta-paritta dengan tenang dan tenteram, serta selalu mengikuti pemimpin, jangan mendahului pemimpin upacara.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 13 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 13 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: