Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Agus Pribadi

Mencoba menghayati kehidupan dan menuliskannya dalam cerita-cerita sederhana. Kunjungi juga tulisan saya di http://aguspribadi1978.blogspot.com selengkapnya

Kurikulum 2013, Apanya yang Berubah? Apanya yang Baru?

OPINI | 18 December 2012 | 22:53 Dibaca: 2944   Komentar: 0   0

Rencana perubahan kurikulum dari Kurikulum 2006 (KTSP) ke Kurikulum 2013 menyisakan pertanyaan. Apakah yang berubah dari Kurikulum 2013 dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya? Dengan kata lain, apa yang baru dari kurikulum 2013?

Masih teringat dari penerapan kurikulum 2004 dan dilanjutkan ke kurikulum 2006. Sangat jelas perubahannya di sini, dari kurikulum sebelumnya.

Kurikulum 2004 dikenal dengan visi Kompetensinya. Bahwa peserta didik bukan sekedar mengetahui tapi dituntut untuk kompeten yakni mengintegrasikan antara sikap, pengetahuan, dan ketrampilan. Selain itu dikenalkan juga CTL atau pembelajaran kontekstual, bahwa pembelajaran harus dikaitkan dengan kondisi lingkungan sekitar agar bermakna.

Kurikulum 2006 menyempurnakan kurikulum sebelumnya, bahwa penyusunan kurikulum menjadi kewenangan sekolah. Sekolah membuat kurikulumnya sendiri berdasarkan karakteristik sekolah masing-masing.

Konsekuensi dari kurikulum berbasis kompetensi dan pembelajaran kontekstual adalah sangat jelas pada praksis pembelajarannya, yakni : siswa membangun dan menemukan sendiri pengetahuan yang didapat, guru sebagai fasilitator. Guru mengaitkan materi pembelajaran dengan keadaan riil di lingkungan sekitar sekolah. Dalam IPA dikenal 3 metode pembelajaran. Diantaranya CL, PBI, dan DI.

Nah, dalam kurikulum 2013 memang ada yang menjadi salah satu visinya yakni berbasis karakter. Pertanyaannya, barukah sesuatu yang dinamakan karakter itu? Jelas karakter sudah ada sejak awal mula ada guru dan pendidikan, bahkan sebelumnya. Tanpa dicantumkan pun guru telah mengajarkan kebaikan kepada siswa, selain pelajaran yang menjadi keahliannya. Sebagai contoh guru IPA. Dalam IPA dikenalkan sikap ilmiah, diantaranya : Jujur, teliti, menghargai pendapat orang lain, tekun, membedakan fakta dan opini, rasa ingin tahu, mencintai lingkungan, dan sebagainya. Bukankah itu penuh dengan muatan karakter?

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa konsekuensi dari kurikulum berbasis karakter pada praksis pembelajarannya? Jika hanya sosialisasi karakter dan tauladan guru, itu bukan sesuatu yang baru. Dari dulu guru sudah mengenalkan karakter dan memberi tauladan sekecil apapun itu. Lantas apanya yang baru?

Selanjutnya Pramuka akan dimasukan dalam kurikulum 2013. Pertanyaannya barukah sesuatu yang bernama Pramuka? Jawabannya jelas tidak. Tanpa dimasukan dalam Kurikulum pun Pramuka sudah maju. Banyak prestasi diukir generasi muda kita melalui Pramuka. Banyak kegiatan yang dilakukan generasi muda kita melalui Pramuka, dan sebagainya.

Yang mungkin ada dari kurikulum 2013 adalah kegelisahan mengenai berbagai hal. Misalnya rencana penghapusan /penggabungan pelajaran IPA dan pelajaran IPS di SD, rencana peniadaan pelajaran TIK dan pelajaran Bahasa Jawa (kalau tidak salah), Rencana pengadaan buku babon mata pelajaran dari pusat, dan sebagainya. Kegelisahan dari para guru, dan komponen pendidikan lainnya, karena mungkin ketidak jelasan mengenai hal itu.

Dalam waktu sebulan terakhir ini guru Bahasa Jawa di Jateng meninggi intensitasnya dalam berkomunikasi, baik melalui pesan singkat, telepon, maupun jejaring sosial di internet. Mereka resah oleh informasi tidak dicantumkannya mata pelajaran Bahasa Jawa dalam draf perubahan kurikulum 2013. Ada sinyalemen mereka bakal kehilangan kesempatan mengajar atau harus alih tugas mengampu mata pelajaran lain. ( Eko Wahyudi, Suara Merdeka, 18/12/12)

Lantas bagaimana selanjutnya?

Mengingat tidak sedikit biaya yang diperlukan, serta konsekuensi lainnya yang boleh jadi akan berakibat kurang baik bila penerapannya tidak tepat. Semoga pembuat kebijakan pendidikan mendengar dan mengakomodir masukan-masukan, termasuk kegelisahan-kegelisahan yang ada di masyarakat berkaitan dengan rencana pemberlakuan kurikulum 2013, untuk kemudian mengambil langkah yang paling tepat. Demi kemaslahatan bersama, seluruh bangsa Indonesia.

Salam Kompasiana!

Banyumas, 18 Desember 2012

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 7 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 10 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Nenek Ingin Sendiri …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Menelusuri Alam Pemikiran Mahatma Gandhi …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Surat Terbuka Kepada Kahyang Ayu Anak …

Abest | 7 jam lalu

Ada Apa di Ternate..? …

Teberatu | 7 jam lalu

Hanya Evan Dimas, Apa Paulo Belum Pantas ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: