Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aniza Ambarwati

Aku hanya manusia yang mudah jatuh cinta pada yang kubaca.

PGSD: Tidak Layak Dipandang Sebelah Mata

OPINI | 16 November 2012 | 22:08 Dibaca: 2195   Komentar: 8   0

Ketika ada yang bertanya “kuliah jurusan apa?” atau kita sendiri yang memberikan pernyataan “kuliah di PGSD”, pasti akan terlihat berbagai macam ekspresi dari penanya. Pendidikan Guru Sekolah Dasar, mungkin bagi sebagian (kebanyakan) orang masih dipandang sebagai jurusan “kerdil”, karena labelnya guru Sekolah Dasar. Sayang sekali mind set kebanyakan orang sudah salah kaprah mengenai profesi guru SD. Kebanyakan orang, tidak hanya orang awam, bahkan mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan pun masih memandang sebelah mata profesi guru SD. Pemahaman yang salah kaprah “mudah kok menjadi guru SD, pelajarannya masih dasar”. Padahal, menjadi guru SD tdak semudah itu, tidak semudah perkataan orang-orang.

Ketika awal-awal masuk kuliah, seorang guru SMP saya datang dan ngobrol dengan orang tua saya, saya hanya menemui sebentar kemudian mendengarkan percakapan mereka. Ada pertanyaan dari guru saya yang membuat saya cukup “kasihan” terhadap pemikiran ibu guru saya. “oh, yang gampang ya masuk PGSD” kata beliau. Wowww, maaf salah besar anda mengatakan mudah untuk  masuk PGSD. Di Universitas-universitas yang menyediakan jurusan kependidikan, PGSD menjadi jurusan yang memiliki peminat terbanyak sejak tahun 2009 yang lalu sampai sekarang. Bahkan di kampus saya, nilai tertinggi ujian masuk universitas dikuasai oleh mahasiswa jurusan PGSD, jadi maaf kalo IN PUT kami lebih unggul dan hal ini pun akan mempengaruhi out put guru SD dimasa mendatang, generasi kami adalah generasi unggul. Kemudian saya teringat pernyataan kakak sepupu saya, “kalo PGSD berarti yang dipelajari pelajarannya yang dasar-dasar kan”. Saya rasa ini pemikiran sebagian besar orang. Dan dengan tegas saya membantah. Apa mungkin seorang guru bisa menjadikan siswanya menjadi seorang genius jika ilmu yang dimiliki gurunya dangkal? Apakah jika siswa SD belajar 1+1 lantas gurunnya hanya belajar itu? Saya sarankan bagi siapapun yang masih berikir demkian, hapus memori itu sebelum membaca lanjutan tulisan ini lalu mengibarkan bendera putih, tanda menyerah.

Pertama tentang persaingan memperebutkan kursi mahasiswa PGSD, seperti yang sudah saya katakan diatas PGSD menjadi jurusan dengan peminat terbanyak di universitas-unversitas kependidikan. Tahun 2010 angkatan saya, dari sekitar 10.000 peminat, hanya tersedia 400 kursi. Lihat perbandiangannya 1: 25, perbandingan yang fantastis!

Saya yang tidak begitu suka dengan exact harus menelan lagi exact, karena guru SD harus menguasi semua mapel. Saat itu saya pikir IPA atau Matematikanya tidak mungkin sesulit SMA. Tapi apa yang saya hadapi adalah saya harus membuka ingatan saya di bangku SMA terhadap kedua mata pelajaran tersebut. Saya yang berasal dari jurusa IPS harus menggali pelajaran IPA SMA, dimana saya hanya sempat mengenyamnya ketika di kelas X. Dan rasanya cukup membebani harus mengejar ketertinggalan, bagai berlari dalam kincir yang terus berputar. Yang saya rasakan juga tidak berbeeda jauh dengan mereka yang dulu di SMA mengambil jurusan IPA kemudian mereka harus menelan pelajaran IPS.

Bukan hanya konsep dari setiap mapel, tapi bagaimana kita bisa mengajarkan konsep kepada siswa. Dengan beragai macam alat peraga, mahasiswa PGSD dituntut kreativitasnya bagaimana mengajarkan konsep kepada siswa SD yang masih dalam tahap berpikir konkrit. Membawa sesuatu yang abstrak kedalam kenyataan yang bisa mereka lihat dan pahami dengan mudah. Mengenai rumus matematika, seorang guru tidak boleh membuat siswa pandai menghafal rumus tapi ia wajib membuat siswa memahami asal usul rumus sehingga mereka tidak hanya hafal tapi paham dan rumus-rumus matematika akan tersimpan dalam long term memory. Contohnya, dalam mengajarkan rumus volume bangun datar, seorang guru harus membuat alat peraga yang terbuat dari kumpulan balok-balok kecil dan sebuah bangun datar transparan. Melalui alat peraga terseut guru harus bisa menanamkan asal usul suatu rumus.

Pembuatan media pembelajaran sekarang haruslah inovatif dengan memanfaatkan kecangihan tekbologi. media pembelajaran berbasis power point maupun flash, atau video pembelajaran yang digarap sendiri mulai dari rancangan, pelaku video, proses rekaman gambar, pengedita dan finishing. seperti membuat fim bukan? ya disinilah skill kami benar-benar dituntut untuk bisa mengikuti itu semua.

Kalian pasti tahu bahwa guru SD harus menguasai seluruh mata pelajaran, bisa dibayangkan betapa sulitnya melakukan itu. tidak berlebihan bukan jika dikatakan bahwa guru SD adalah manusia mutitalent. :D Mungkin bidang studi seperti exact, sosial tidak begitu sulit dikuasi asal mau belajar, tapi pernahkan kalian berpikir tentang mata pelajaran kesenian yang jelas membutuhkan bakat. Seni musik, seni rupa dan seni tari. Semester kemarin tepatnya, mata kuliah tersebut menjadi tantangan tersendiri, tapi tidak untuk seni rupa karena kebetulan saya memang suka seni rupa. Sedangkan seni musik dan tari menjadi momok dalam hidup saya disemester itu. Mari kita mulai dengan seni musik. Bagi mereka yang memiliki bakat musik pasti tidak akan terbebani, berbeda dengan orang yang buta musik. Kami yang kebanyakan buta musik, apalagi alat musik, menyanyi dengan tepat nada saja sulit sekali. Tapi kami dituntut untuk bisa membuat sebuah pertunjukan musik ansamble yang kreatif, group paduan suara yang berkualitas, menjadi komposer lagu anak, memahami nada, menyanyi dengan nada yang tepat supaya ketika mejadi guru kelak bisa mengajarkan itu semua kepada siswa. Kemudian seni tari, jelas dosen saya mengatakan kalian harus bisa menjadi koreografer, dancer, baik individu maupun kelompok, tari tradisional dan modern, membuat pertunjukan besar, membat tari kreasi. Sempat terblesit dalam pikiran saya, memangnya kami kuliah jurusan seni tari harus di dikte dengan tuntutan membebani tersebut. Tapi setelah dipikir memang benar, kalo gurunya tidak digembleng sejak dini bagaimana nanti ketika menjadi guru? Pada akhirnya tuntutan yang mendidik kami.

Kalo kebanyakan orang mengangap profesi dokter, polisi, pengacara, dan sederet profesi bergensi lainnya lebih bermartabat di banding guru SD, saya berani bilang orang tersebut tidak tahu diri. Ketika mereka sudah bisa duduk di posisi penting tersebut, ingatkah mereka siapa yang mengajari mereka berhitung pertama kali hingga bisa menjadi fisikawan, ilmuan, dokter dll. Siapa yang pertama kali megajari mereka membaca hingga mereka bisa mejadi pejabat, siapa yang mengajari menulis untuk pertama kalinya hingga mereka bisa menjadi sastrawan kalau bukan guru SD. Mereka lupa siapa yang mengajari baris berbaris sebelum masuk kelas, mengingatkan mereka untuk belajar dan mengejar cita-cita, memperkenalkan cita-cita indah di masa depan. Bahkan guru SD ingatannya jauh lebih bagus ketimbang mereka yang menduduki profesi terhormat sekalipun. Ketika banyak orang memandang sebelah mata seorang guru SD, padahal guru SD mereka masih ingat masa kecil mereka. Seperti yang belum lama saya lakukan ketika observasi di SD saya dulu, sudah 8 tahun berlalu tapi mereka masih mengingat saya. Betapa baiknya ingatan mereka!

Penanaman  kepribadian seorang anak sebenarnya tertanam sejak mereka kecil (diluar keluarga), terutama pada jenjang sekolah dasar. Inilah tanggung jawab seorang guru sekolah dasar, penanaman nilai dan norma sejak dini. Apapun yang diajarkan oleh guru SD pasti akan terbawa sampai mereka dewasa kelak, karena pendidikan pada masa-masa tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan mereka kelak. Jika yang ditanamkan baik, pasti hasilnya baik dan sebaliknya. Contoh kecil saja, ketika guru salah menanamkan pemahaman bahwa apel berwarna merah maka pemahaman tersebut akan terbawa sampai mereka besar, padahal tidak semua apel berwarna merah,  ada yang hijau.

Mungkin sebagian besar orang berpikir mudah mengelola kelas di SD. Justru ini jauh lebih susah dari yang dibayangkan. Dunia anak-anak yang apa adanya, dunia bermain dan penuh khayalan, aktif. Ketika meminta mereka untuk duduk tenang dalam kelas memperhatikan pelajaran tidak semudah menyuruh anak SMP dan SMA yang pikrannya sudah nalar. Tidak ada kelas yang isinya anak SD, keadaannya tenang. Mereka tetap tidak akan bisa diam dalam waktu yang lama, jika kelas diam maka justru dipertanyakan ada apa dengan kels tersebut, jika begitu mudahkan melakukan pengelolaan dalam kelas dengan siswa SD?

Lihatlah betapa besarnya tanggung jawab seorang guru SD, proses menjadi guru SD pun tidak mudah. Jika guru bidang studiy hanya dituntut menguasai satu mapel, maka betapa cerdasnya seorang guru SD dengan segala tuntutannya. Karena itulah, ketika ada orang yang memandang sebelah mata profesi atau calon profesi kita, jangan pernah malu dan tetaplah bangga pada pilihan kita. Katakan pada mereka “ingatlah kita semua pernah duduk dibangku Sekolah Dasar, dan ingatlah guru-guru SD yang pernah mendidik kita”. Jangan pernah memandang sebelah mata profesi maupun calon profesi kami. Kami yang kelak mendidik putra-putri bangsa generasi mendatang, keturunan kalian.

Semangat untuk guru-guru Indonesia…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Cara Cerdas Meredam Gejolak Warga Atas …

Kang Miftah | | 21 November 2014 | 15:37

Spritualisme di Balik Pelantikan Ahok …

Daniel H.t. | | 21 November 2014 | 11:25

Anak Jokowi ke Toko Buku Pakai Masker …

Niken Satyawati | | 21 November 2014 | 13:12

Ini Dia Nama Maskot Kompasiana! …

Kompasiana | | 17 November 2014 | 20:50


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 4 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 7 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 7 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: