Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pak Kyai, Apa Hukum Memakan Bekicot?

OPINI | 14 September 2012 | 15:30 Dibaca: 2174   Komentar: 16   7

Menurut seorang nenek langganan saya yang bercerita mengenai bekicot, dikisahkan bahwa bekicot itu dibawa oleh tentara jepang sebagai bahan persediaan makanan, tetapi ketika di indonesia mereka menemukan kerbau dan ternyata kerbau lebih enak dari bekicot disamping itu indonesia makanannya melimpah ruah akhirnya persediaan bekicot yang begitu banyaknnya dibuang dimana-mana.

Kali ini aku kelas 2 madrasah ibtidaiyah (MI), dan pelajaran kali ini adalah fiqih. Ketika itu sang guru dan juga kyai didesa sedang menerangkan makanan halal dan haram. Sampai pada kalimat “segala sesuatu yang menjijikkan itu haram”. lalu ada seorang siswi yang bertanya “bagaimana dengan bekicot?”. Sang guru terdiam sejenak, ”hukum sendiri adalah segala sesuatu yang menjijikkan, tetapi saya tidak berani mengatakan halal atau haram, patokannya adalah segala sesuatu yang menjijikkan”. dalam hati saya terus bertanya, kenapa seorang kyai tidak berani mengatakan haram saja atau halal, dari beberapa ungkapan yang dilakukan terus-menerus sang kyai lebih condong agar tidak memakannya, namun tidak berani mengeluarkan pendapat.

Seperti yang kita tahu perasaan seseorang itu tiada standartnya begitu pula ketika melihat bekicot, ada orang yang merasa jijik namun ada juga orang yang tidak jijik dan memakannya dengan lahap. karena tidak jelas sang kyai hanya mengatakan “sebaiknya dihindari saja karena samar-samar, toh masih banyak makanan yang jelas dan enak”. Setelah pelajaran selesai, masih saja ada yang mengganjal dihati, biasanya sih aku  tanyakan pada anak pak kyai yaitu guru ngaji saya, tapi hehe kembali namanya manusia, lupa.

Setelah bertahun-tahun jawaban itu akhirnya muncul, mengapa sang kyai yang menurutku sangat pintar tetapi takut mengatakan halal atau haram pada bekicot, padahal beliau adalah imam di masjid yang setiap omongannya selalu dipandang oleh masyarakat.  Sedang Hukum makan bekicot sendiri masih dipertentangkan ada yang mengharamkan dengan dalil bahwa itu menjijikkan sedangkan ada yang tidak mengharamkan karena standart jijik setiap orang itu berbeda. Ada dalil yang mengharamkan dan ada pendapat yang menghalalkan tetapi sang kyai tetap tidak memilih dan berani mengatakan.

jadi yang mengganjal dihatiku bukanlah hukum makan bekicot tetapi mengapa sang kyai tidak berani, padahal beliau adalah orang yang pandai dalam hal agama menurutku.

Sampailah saya sedikit mengetahui tentang mandzab. Arti mandzab sendiri adalah jalan, sehingga para kyai dahulu ketika melihat perbedaan dan mempermudah menerangkan pada muridnya bahwa jalan kita memang berbeda, tetapi tujuan kita sama. Semisal dari surabaya ke jakarta ada yang naik pesawat, ada yang naik bus, kereta,  kapal laut, dan ada pula yang nekat mengemudi sendiri naik mobil atau motor.

Walau tujuannya sama tetapi belum tentu yang naik pesawat tidak terjatuh dijalan dan belum tentu yang naik bus tidak tergelincir kejurang, tetapi bisa juga terjadi yang naik bus, pesawat, kereta api, kapal laut semuanya sampai pada tujuan karena mematuhi rambu lalu lintas dan pengemudi yang handal dan kondisi transportasi yang baik. Begitu pula dengan penumpang, ada penumpang yang taat pada intruksi sopir ada pula yang seenaknya naik di atas gerbong dan terkena papan reklame jatuh deh.

Mandzab sendiri adalah suatu solusi mengatasi perpecahan di masa lalu, karena setelah Rasulullah meninggal orang kesuliatan memahami penafsiran, bahkan ada yang mencoba menafsirkan sendiri-sendiri sehingga di buatlah standart.Maka untuk menggali hukum-hukum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist seorang Ulama melakukan ijtihad yang sayaratnya adalah

1. Baligh

2. Berakal (Memiliki malakah untuk memahami).

3. Memiliki IQ yang tinggi (syadid fahmi)

4. Memahami dalil `aqly (bara`ah ashliah).

5. Memahami loghat arab dan ilmu arabiyah (loghat, nahu, saraf, badi`, bayan, ma`any, `arudh, qawafy dll)

6. Memahami ayat atau hadis yang bekenaan  dengan hukum.

7. Mengusai serta ahli dalam memraktekkan   qawaid-qawaid syara`

8. Mengenal nasikh dan mansukh.

9. Mengetahui masalah-masalah ijmak.

10. Memahami ushul fiqh.

11. Mengetahui asbabun nuzul dan asbabul wurud.

12. Mengetahui syarat mutawatir dan ahad, shahih dan dhaif dan keadaan perawi.

13. Mengusai kaifiah nadhar.

Karena begitu beratnya syarat seseorang ber-ijtihad maka tidak semua orang mampu bahkan untuk zaman sekarang para ulama cenderung mengatakan tidak ada yang mampu, namun jika Allah SWT berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Oleh karena itu kita lebih mengenal 4 mandzab besar yaitu Mandzab  hanafi, mandzab maliki, mandzab syafi’i dan manzab hanbali. 4 mandzab ini tersohor karena para muridnya pandai membukukan setiap fatwa dari guru-guru mereka.

Sehingga, manusia didunia terbagi kepada dua kelompok, yaitu pandai (alim) dan awam. Yang dimaksud dengan orang pandai (alim) dalam diskursus pemahaman bermazhab adalah orang-orang yang telah memiliki kemampuan menggali hukum dari Al Quran dan Hadis yang dinamakan sebagai Mujtahid. Sedangkan orang yang awam adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk itu disebut sebagai Muqallid. Keadaan mereka mengikuti para imam Mujtahid dinamakan dengan taqlid.

Karena itu sebagai orang awam kita di ibaratkan sebagai penumpang, kita tidak perlu memiliki SIM, tidak perlu belajar mengemudi, tidak perlu menghafal jalan, tidak perlu mengetahui rambu-rambu lalu lintas, tinggal duduk memetuhi instruksi dari sopir sampailah pada tujuan.

Namun apabila kita memaksa ingin menggali sendiri hukum dalam Al-Qur’an dan Al-hadist, maka waktu yang dibutuhkan tidak hanya setahun dua tahun karena begitu banyaknya syarat ijtihad disamping itu hasilnya pun tidak memuaskan. Sedang yang paling dikhawatirkan adalah jika kita mengemudi sendiri dan membuat jalan sendiri bisa jadi tujuan tidak didapat, tersesat ia. Jika tersesat sendiri mungkin tidak begitu masalah yang parah adalah jika tersesat kemudian membawa rombongan banyak orang.

Oleh karena itu di zaman sekarang fatwa lebih keluar dari organisasi bukan pada seseorang karena organisasi terdidiri beberapa orang yang nanti bisa berdiskusi menentukan hukum yang disebut ‘ijma.

Mungkin kita mengatakan diri kita tidak bermandzab, tetapi dalam prakteknya kita bermandzab. Suatu contoh di indonesia banyak memakai celana dengan kain melewati mata kaki maka ini cenderung bermandzab syafi’i sedang ada orang yang memakai celana dengan kain di atas mata kaki dan memang ada dalil dari mandzabnya. Karena kedua belah pihak memiliki dalil maka untuk yang bercelana melebihi mata kaki tidak usahlah menghina yang celana di atas mata kaki mengatakan, kurang kain, kebanjiran, aliran aneh. Begitu pula yang bercelana di atas mata kaki tidak usahlah mengatakan Neraka bagi yang bercelana di bawah mata kaki, seperti semula jalan kita berbeda tetapi tujuan kita sama.

Yah, akhirnya terjawab sudah setelah bertahun-tahun pertanyaan itu, walau dimataku sang kyai sangat pandai ternyata beliau juga menyadari hanya seorang awam di dalam mandzab yang takut menyesatkan orang atas perkataannya.

https://www.facebook.com/notes/abu-mudi/wajibkah-kita-bermazhab/330696827019163

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 10 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 12 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 12 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 13 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Subsidi BBM: Menguntungkan atau Malah …

Ian Wong | 9 jam lalu

Dua Oknum Anggota POLRI Terancam Hukum …

Imam Muhayat | 9 jam lalu

Mengenal Lebih Dekat Pendidikan Luar Biasa …

Nanadya Rachma | 9 jam lalu

Resensi: Yesus dan Wong Cilik …

Rinto Pangaribuan | 9 jam lalu

Tepatkah Memutuskan Jurusan di Kelas X? …

Cucum Suminar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: