Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Yulita M

Mahasiswa di Asian University for Women. Lahir di Kendal, pindah ke Solo, terdampar di Chittagong, Bangladesh. selengkapnya

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

REP | 12 September 2012 | 18:49 Dibaca: 13950   Komentar: 0   1

www.mozaikpena.blogspot.com

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

PADA SEKOLAH BERASRAMA (BOARDING SCHOOL)

DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 SURAKARTA

Karya Tulis ini disusun untuk berpartisipasi dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Fakultas Psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Tahun 2012

Disusun oleh:

Yulita Muspitasari

PROGAM KHUSUS (PK)

MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 SURAKARTA

MEI 2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam Yang telah mengatur keseimbangan jagad raya ini, serta telah memberikan pelajaran kepada manusia dengan kekuatan- Nya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan wahyu kepada manusia.

Dengan segala keterbatasan waktu dan pikiran, akhirnya Karya Tulis ini berhasil terselesaikan. Karya Tulis ini disusun untuk berpartisipasi dalam lomba Karya Tulis Ilmiah Fakultas Psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Tahun 2012. Serta sebagai sarana pembelajaran diri di bidang tulis menulis.  Tentunya Karya tulis ini masih banyak kekurangan di dalamnya, karena sesungguhnya tak ada gading yang tak retak.

Dalam kesempatan ini, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut andil atas tersusunnya karya tulis ini, semoga menjadi amal yang baik dan mendapat balasan di sisi Allah SWT.

Surakarta,  25  Mei  2012

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………..          i

Daftar Isi………………………………………………………………          ii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang………………………………………….          1

B. Rumusan Masalah………………………………………           2

C. Tujuan …………………..……………………………….           2

D. Manfaat Makalah .……………………………………..           2

E. Ruang Lingkup…………………………………………          3

F. Metode Penulisan………………………………………          3

BAB II PEMBAHASAN

A. Al-Qur’an dan ilmu kedokteran…………………………    4

B. Ilmu kedokteran pada zaman keemasan islam………….         6

C. Hilangnya ilmu kedokteran dari dunia islam……………             17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………      19

B. Saran……………….……………………………………       19

Daftar Pustaka………………………………………………………………………. 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, pembahasan mengenai pendidikan karakter atau pendidikan yang berbasis pada pembangunan karakter siswa menjadi wacana yang ramai dibicarakan di dunia pendidikan maupun di kalangan masyarakat umumnya. Kebutuhan akan pendidikan yang dapat melahirkan manusia Indonesia sangat dirasakan karena degradasi moral yang terus menerus terjadi pada generasi bangsa ini dan nyaris membawa bangsa ini pada kehancuran. Budaya korupsi yang seakan telah mengakar pada kehidupan bangsa ini mulai dari tingkat kampung hingga pejabat tinggi negara, penyalahgunaan dan peredaran narkoba yang semakin menggurita, tawuran antar pelajar dan berbagai kejahatan yang telah menghilangkan rasa aman setiap warga, merupakan bukti nyata akan degradasi moral generasi bangsa ini.

Jika diteliti lebih lanjut, pendidikan karakter merupakan lagu lama yang diputar kembali. Dulu, pendidikan karakter pernah diterapkan dengan nama pendidikan budi pekerti di sekolah-sekolah. Salah satu lembaga pendidikan yang sejak dulu dan hingga saat ini masih menanamkan pendidikan karakter adalah pondok pesantren. Para santri diajarkan untuk bersikap mandiri, tasamuh, ta’awun dan lain sebagainya sebagai perwujudan pendidikan karakter tersebut. Para santri tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara materi namun juga aplikasinya.

Dengan menyadari pentingnya pendidikan karakter, pendidikan pondok pesantren banyak diterapkan dalam pendidikan  di sekolah berbasis asrama (boarding school). Hal ini dapat memupuk kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari karena siswa dapat belajar hidup mandiri di asrama. Asrama juga menjadi simulasi kehidupan bermasyarakat dimana anggotanya sangat heterogen. Sekolah berbasis asrama mempunyai misi untuk menerapkan pendidikan karakter secara kaffah. Sebab dalam sekolah berasrama kehidupan siswa lebih terpantau sehingga diharapkan penanaman pendidikan karakter lebih kondusif.

Namun demikian , masih banyak siswa yang tinggal diasrama belum dapat mencapai misi yang dicanangkan. Hal ini menimbulkan kerancuan tentang efektifitas pendidikan karakter  di sekolah dengan sistem boarding school.  Oleh kerena itu, implementasi pendidikan karakter pada sekolah berasrama (boarding school) sangat menarik untuk diteliti. Dan penelitian ini akan mengambil obyek MAN 1 Surakarta yang  juga menerapkan pola pendidikan berasrama (boarding shool).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut :

1. Sejauh mana efektivitas implementasi pendidikan karakter di Program Boarding School MAN 1 Surakarta?

2. Apa kendala yang dihadapi dalam menerapkan pendidikan karakter di Program Boarding School MAN 1 Surakarta?

C. Tujuan Makalah

Secara umum makalah ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui efektivitas implementasi pendidikan karakter di Program Boarding School MAN 1 Surakarta.

2. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam menerapkan pendidikan karakter di Program Boarding School MAN 1 Surakarta.

Secara khusus, makalah ini ditulis untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diselenggarakan oleh fakultas Psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.

D. Manfaat Makalah

Penelitian ini diharapkan dapat :

1. memberi manfaat bagi dunia pendidikan khususnya dalam bidang pengembangan pendidikan yang berbasis karakter.

2. memberi sumbangan bagi khazanah kepustakaan khususnya di bidang pendidikan.

3. memberikan dorongan kepada para pelajar mapun akademisi untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pendiidkan berbasis karekter.

BAB II

KERANGKA  TEORI DAN METODOLOGI

A. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan karakter.  Pendidikan menurut  Ki Hajar Dewantara adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani agar dapat memajukan kehidupan yang selaras dengan alam dan masyarakatnya[1]. Sedangkan karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Menurut T. Ramli , pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan  pendidikan moral dan pendidikan akhlak.[2].

Maka dapat disimpulkan bahwa makna pendidikan karakter adalah suatu sistem penerapan nilai-nilai moral pada peserta didik melalui ilmu pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan implementasi nilai-nilai tersebut, baik terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan, bangsa dan negara maupun Tuhan Yang Maha Esa, kebangsaan sehingga menjadi manusia yang memiliki akhlaqul karimah[3].

B. Konsep Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter berpijak pada karakter dasar manusia dari nilai moral universal yang bersumber dari agama. Menurut ahli psikologi, karakter dasar tersebut adalah cinta kepada Allah dan ciptaanNya, tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, peduli, kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan lain-lain[4].

Menurut Doni A. Koesoema, pendidikan karakter  terdiri dari beberapa unsur, diantaranya penanaman karakter dengan pemahaman pada peserta didik tentang struktur nilai dan keteladanan yang diberikan pengajar dan lingkungan[5].

Selanjutnya kemendiknas menjelaskan bahwa nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam dunia pendidikan didasarkan pada 4 sumber[6], yaitu ; Agama, Pancasila, budaya bangsa dan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. Dari keempat sumber tersebut merumuskan 18 nilai-nilai karakter umum yaitu : Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab.

C. Implementasi Pendidikan karakter

Implementasi pendidikan karakter harus sejalan dengan orientasi pendidikan. Pola pembelajarannya dilakukan dengan cara menanamkan nilai-nilai moral tertentu dalam diri anak yang bermanfaat bagi perkembangan pribadinya sebagai makhluk individual sekaligus sosial[7].

Implementasi pendidikan karakter melalui orientasi pembelajaran di sekolah lebih ditekankan pada keteladanan dalam nilai pada kehidupan nyata, baik di sekolah maupun di wilayah publik[8].

Prof. Dr. Noor Rochman Hadjam, SU. menjelaskan mendidikan karakter tidak hanya mengenalkan nilai-nilai secara kognitif tetapi juga melalui penghayatan secara afektif dan mengamalkan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan siswa seperti pramuka, upacara bendera, palang merah remaja, teater, praktek kerja lapangan, menjadi relawan bencana alam, atau pertandingan olahraga dan seni adalah cara-cara efektif menanamkan nilai-nilai karakter yang baik pada siswa. Ia menekankan pendidikan berbasis karakter bukan merupakan mata pelajaran tersendiri melainkan dampak pengiring yang diharapkan tercapai[9].

Sementara itu Kemendiknas menyebutkan beberapa prinsip pengembangan pendidikan karakter dan budaya bangsa di sekolah[10], yaitu:

1. Keberlanjutan ; yaitu bahwa  proses pengembangan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa dimualai dari awal peserta didik masuk hingga selesai dari satuan pendidikan.

2. Melalui semua mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah.

3. Nilai-nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan; yaitu bahwa nilai-nilai karakter bukan merupakan pokok bahasan yang harus diajarkan, sebaliknya mata pelajaran dijadikan sebagai bahan atau media mengembangkan nilai-nilai karakter.

4. Proses pendidikan karakter dilakukan oleh peserta didik secara aktif dan menyenangkan.

Dengan demikian  pengembangan  pendidikan karakter dapat melalui mata pelajaran (terintegrasi), kegiatan pengembangan diri dan budaya sekolah.

D. Metodologi

Penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research), dengan pendekatan  deskriptif yang  bertujuan untuk menggambarkan efktivitas pengembangan pendidikan karakter pada sekolah berasrama dalam hal ini mengambil kasus program asrama (Boarding School) MAN 1 Surakarta.  Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui metode wawancara dan observasi. Adapun dilakukan secara kwalitatif, yaitu analisa yang dijelaskan dengan uraian yang berbentuk kalimat, bukan berupa angka-angka baik secara deduktif maupun induktif.

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Implementasi Pendidikan Karakter Pada Program Boarding School MAN 1 Surakarta

Pendidikan Karakter merupakan sistem pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sehingga mereka memiliki nilai-nilai dan karakter serta menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan. Sekolah berasrama (boarding school) memiliki kelebihan dalam menerapkan pendidikakan karakter. Dengan program boarding school implementasi pendidikan karakter lebih terpantau karena semua kegiatan siswa telah terjadwal dan terpantau 24 jam. Sistem boarding school juga menekankan pada pendidikan kemandirian. Aplikasi pembelajaran lebih mudah dilaksanakan[11]. Selain itu, metodologi pendidikan karakter berupa keteladanan dan pengajaran akan lebih terarah dan efektif[12]. Implementasi pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di asrama saja, namun juga terjadi sinkronisasi antara pendidikan di asrama dan kegiatan di sekolah.

Pada Program Boarding Schhol MAN 1 Surakarta Pengembangan pendidikan karakter dilakukan melalui kegiatan pembelajaran, kegiatan rutin, kegiatan spontan, pembiasaan, dan pengkondisian. Untuk kegiatan pembelajaran pendidikan karakter terintegrasi ke dalam stiap mata pelajaran.

Pada program Boarding MAN 1 Surakarta ada beberapa kegiatan yang mengacu pada pendidikan karakter seperti Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Peserta didik melalui kegiatan ini diharapkan dapat mengambil ibroh dari makna yang terkandung dalam hari besar tersebut[13]. Selain itu, PHBI juga dimaksudkan untuk syi’ar Islam dan dakwah Islamiyah[14].

Program Boarding School MAN 1 Surakarta melaksanakan upacara hari Senin dan upacara hari nasional, apel  pagi sebelum berangkan ke sekolah, serta pemerikasaan kerapian secara rutin dalam skala waktu yang telah ditentukan. Hal ini merupakan salah satu cara memupuk kedisiplinan dan tanggung jawab siswa.

Implementasi pendidikan karakter dalam aspek kerohanian, MAN 1 Surakarta menerapkan kegiatan berdoa sebelum belajar dengan membaca al-fatihah, doa sebelum belajar, asmaul husna, salah satu bagian dari al-ma’sturat, dan sholawat nariyah. Dilaksanakan pula sholat berjamaah di masjid kampus MAN 1 Surakarta danmusholla asrama, serta pembiasaan mengucap salam ketika bertemu guru dan siswa lain.

Untuk menjaga kebersihan kampus MAN 1 Surakarta, diadakan regu piket harian untuk kebersihan kelas dan lingkungan asrama. Aspek ini merupakan integrasi antara sikap cinta lingkungan dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas.

Pengembangan pendidikan karakter di Program Boarding School MAN 1 Surakarta juga diimplementasikan dalam kegiatan spontan seperti teguran dari guru dan teman  atas perbuatan yang kurang baik seperti mencontek, makan dan minum sambil berjalan, membuang sampah tidak pada tempatnya dan lain sebagainya. Teguran disini tidak harus berupa kata-kata namun dapat juga melalui isyarat jari atau tatapan mata tajam[15] dan teguran yang mengandung nasehat sehingga akan lebih di ingat[16].

Pengembangan pendidikan karakter juga diterapkan dalam metode pembiasaan. Diantaranya siswa dibiasakan  memanggil guru dengan panggilan ustadz atau ustadzah. Pembiasaan ini dilakukan agar tercipta atmosfer keislaman yang kental di lingkungan asrama dan sekolah. Siswa juga dibiasakan untuk mencium tangan guru ketika bertemu. Dengan catatan siswa laki-laki hanya diperbolehkan mencium tangan ustadz dan sebaliknya (tidak seperti fenomena di sekolah umum). Dengan hal ini diharapkan dapat mempererat rasa persaudaraan antara keluarga besar MAN 1 Surakarta.

Dalam kehidupan asrama dengan sistem yang sama dengan pesantren, siswa-siswi ditanamkan pendidikan karakter dan situasi sosial kekeluargaan selama dua puluh empat jam[17]. Sehingga tercipta rasa kekeluargaan yang erat dan diimplementasikan dengan tasamuh saperti menjenguk atau menunggu teman yang sakit, takziyah ke rumah teman yang anggota keluarganya meninggal, swadana untuk membantu teman yang kesulitan, dan infaq bulanan setiap kelas.

Pada tindakan lebih lanjut, Program Boarding School MAN 1 Surakarta juga menerapkan pendidikan karakter melalui pengkondisian dengan pemisahan kelas putra dan putri. Para siswa maupun siswi juga diwajibkan berpakaian sesuai syariat Islam baik ketika kegiatan pembelajaran maupun di luar kegiatan pembelajaran. Para siswa dilarang memakai celana jean , cut bray, potlot, dan potongan rambut yang tidak rapi. Para siswi dilarang memakai celana, krudung tipis maupun jilbab gaul.

Untuk mendukung efektivitas pengembangan pendidikan karakter pada pada lingkungan sekolah dan asrama didirikan masjid dan musholla, serta upa menjaga lingkungan sekolah dan asrama agar bersih dan sasri dengan ada petugas kebersihan serta menggerakkan siswa-siswi untuk melaksanakan piket kebersihan.

B. Kendala Dalam Mengembangkan Pendidikan Karakter Pada Boarding School MAN 1 Surakarta

Penerapan pendidikan karakter tentu tidak terlepas dari beberapa masalah. Berikut akan kami paparkan beberapa kendala dalam mengembangkan pendidikan karakter pada program Boarding School MAN 1 Surakarta.

1. Kendala umum

a. Latar belakang pendidikan siswa sebelumnya sangat variatif. Ada siswa yang berasal dari pesantren, MTs dan SMP. Sehingga pemahaman nilai-nilai keislamannya sangat beragam.

b. Siswa berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Ini mempengaruhi sikap, kepatuhan dan kedisiplinan siswa di asrama.

c. Kurangnya kesadaran siswa tentang pendidikan karakter.

d. Siswa masih dalam usia labil sehingga gampang terbawa arus.

e. Pengaruh budaya dan arus informasi global di mana siswa banyak menyerap hal-hal negatif  dari media khusunya internet.

2. Kendala penanaman pendidikan karakter dalam mata pelajaran

a. Kurangnya kesadaran untuk mengaplikasikan apa yang telah di pelajari di sekolah.

b. Sebagian siswa belum bisa membagi waktu untuk kegiatan sekolah dan kegiatan asrama.

c. Belum seimbang antara teori dan praktek yang dilakukan siswa.

3. Kendala pengembangan ketaatan beribadah

a. Siswa belum mampu membagi waktu dengan baik sehingga terkadang belum bisa tepat waktu dalam menjalankan shalat.

b. Masjid yang kurang luas sehingga kurangnya ruang gerak siswa di masjid.

c. Kurangnya kesadaran anak dalam mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

4. Kendala pengembangan pendidikan karakter melalui pembiasaan

a. Beberapa fasilitas diasrama yang kurang memadai.

b. Kurangnya kesadaran untuk mentaati peraturan yang berlaku.

c. Pengaruh teknologi internet yang memudahkan siswa berinteraksi dengan lawan jenis.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengembangan  pendidikan karakter pada program boarding school MAN 1 Surakarta diimplementasikan sebagai berikut ;

1. Pengembangan pendidikan karakter terintegrasi dengan mata pelajaran.

2. Melalui kegiatan rutin di sekolah seperti PHBI, upacara, pemeriksaan kerapian, berdoa sebelum dan sesudah belajar, sholat jama’ah, mengucapakan salam setiap bertemu teman dan guru, piket kebersihan.

3. Melalui kegiatan spontan yaitu teguran dari guru dan teman atas penimpangan dari nilai-nilai karakter.

4. Melalui pembiasaan yaitu antara lain: memanggil guru dengan panggilan ustadz, bersalaman dan mencium tangan guru ketika bertemu, menunggu dan menjenguk teman yang sakit, takziyah, kotak infaq di asrama.

5. Melalui pengkondisian seperti pemisahan laki laki dan perempuan, adanya masjid dan mushola, tong sampah di berbagai tempat, siswa wajib berpakaian sesuai syariat.

Kendala yang dihadapi dalam pengembangan pendidikan karakter pada program boarding school ada yang bersifat eksternal seperti pengaruh kehidipan global, ada yang dating dari kondisi siswa sendiri seperti latar belakang siswa, kekurangmampuan membagi waktu dan lain-lain. Ada juga kendala yang terkait dengan sarana asrama maupun sekolah yang maisih kurang.

B. Saran

Studi ini baru merupakan studi yang dangkal mengenai pengembangan pendidikan karakter pada sekolah berasrama. Untuk itu disarankan kepada para akademisi untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam dan lebih mendetail terhadap persoalan tersebut.

Pada tataran praktis disarankan kepada setiap praktisi pendidikan untuk memperkaya pengetahaun dan kompetensi tentang pendidikan karakter.

DAFTAR PUSTAKA

Koesoema A., Donie, 2007. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo.

Ayub, Mohammad E., 2007. Managemen Masjid. Jakarta: Gema Insani.

Abdulkarim, Aim, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VII SMP/MTs Jakarta: Grafindo.

Koesoema A., Donie, 2007. Pendidik Karakter, Jakarta: Grasindo.

Al-Qarashi, Baqir Sharif, 2006. Seni Mengajar Islami. Jakarta: Pustaka Zahra.

Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007. Ilmu & Aplikasi Pendidikan.  Bandung: IMTIMA.

Kementrian Agama, Panduan Tugas Pokok Subdit Kesiswaan. (Makalah, tidak dipublikasikan).

http://fatamorghana.wordpress.com

http://akhmadsudrajat.wordpress.com

http://www.yudinet.com

http://dharmalana.blogspot.com

http://blog.uin-malang.ac.id

http://www.klik-galamedia.com

http://www.uny.ac.id

http://www.uin-suka.ac.id

http://www.anneahira.com


[1] Hartono, Pengertian Pendidikan, http://fatamorghana.wordpress.com, diakses pada 12 Mei 2012.

[2] Akhmad Sudrajat, Konsep Pendidikan Karakter, http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses pada 12 Mei 2012

[3] Dony Purnomo, Pengertian Pendidikan Karakter, http://www.yudinet.com, diakses pada 12 Mei 2012

[4] Dharmalana, Konsep Pendidikan Karakter, http://dharmalana.blogspot.com, diakses pada 12 Mei 2012.

[5] Doni Koesoema A., Pendidikan Karakter, (Jakarta: Grasindo, 2007).

[6] Badan Penelitian dan Pengembangan Puskur Kemendiknas, Bahan Pelatihan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, (Jakarta : Kemendiknas,2010)

[7] Doni A. Koesoema, Pendidikan Karakter, (Jakarta: Grasindo, 2007).

[8] Acep Hermawan, Implementasi Pendidikan Karakter, http://www.klik-galamedia.com, diakses pada 12 Mei 2012.

[9] Lena, Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikan, http://www.uny.ac.id, diakses pada 12 Mei 2012.

[10] Badan Penelitian dan Pengembangan Puskur Kemendiknas, Bahan Pelatihan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, (Jakarta : Kemendiknas, 2010)

[11] Humas UIN Suka, Sistem Pendidikan Boarding School Efektif Untuk Pendidikan Karakter Building, www.uin-suka.ac.id, diakses pada 20 Mei 2012.

[12] Donie Koesoema A., Pendidikan Karakter (Jakarta: Grasindo, 2007), hlm 212.

[13] Kementrian Agama, Panduan Tugas Pokok Subdit Kesiswaan (Makalah, tidak dipublikasikan)

[14] Drs. Mohammad E. Ayub, Managemen Masjid (Jakarta: Gema Insani, 2007), hlm 84.

[15] Aim Abdulkarim, Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VII SMP/MTs (Jakarta: Grafindo,2009). Hlm 24.

[16] Baqir Sharif al-Qarashi, Seni Mengajar Islami. (Jakarta: Pustaka Zahra, 2006). Hlm 68.

[17] Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan (Bandung: IMTIMA, 2007). Hlm 447.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 9 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 10 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 10 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Menerobos Batas Kelam …

Akhmad Fauzi | 8 jam lalu

Nangkring Cantik: I am Beautifull …

Elisa Koraag | 8 jam lalu

Wanita dalam Sebuah Keluarga …

Aulia Fitrotul | 8 jam lalu

Mama, Pak Melmi Masuk TV …

Cay Cay | 8 jam lalu

Teman Datang saat Butuh Saja? …

Ois Meyta Rahayu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: