Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pratiwi Retnaningdyah

Penikmat sastra yang juga sedang belajar untuk menulis. Sedang menempuh S3 di bidang Cultural Studies,The selengkapnya

Gambaran Ibu dalam Soal Bahasa Indonesia Kelas 1 SD: Masyarakat Urban Sudah Berubah

OPINI | 23 February 2012 | 00:30 Dibaca: 583   Komentar: 2   1

Seorang teman mengirimkan sebuah posting di milis. Ada attachment yang isinya scan butir soal tes formatif untuk anak kelas 1 SD untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Di situ ada gambar seorang anak didampingi perempuan berkebaya yang membantunya bersiap-siap untuk bersekolah. Gambar anak diberi label ‘aku,’ sedangkan perempuan berkebaya menjadi bagian dari pertanyaan. Siswa diminta mengidentifikasi sosok perempuan itu. Pilihan jawaban yang disediakan adalah: Ibu; Pembantu; Ayah; dan Guru. Yang mengejutkan, hasil scan jawaban menunjukkan bahwa si siswa yang bersangkutan memilih jawaban “Pembantu.” Guru menyalahkan jawaban ini, karena kisi-kisi menentukan jawaban yang benar adalah “Ibu.”

Adakah yang salah dalam soal ini?

Kasus ini menarik dikaji, karena sifatnya multi-interpretatif. Dari sisi kaidah asesmen pembelajaran, pembuatan soal dengan disertai gambar tersebut merepresentasikan pikiran pembuatnya yang masih tradisional dan konvensional. Ini terlihat dari pakaian ’si ibu’ yang memakai kebaya. Bukankah secara tidak sadar, pikiran kita sudah terkonstruksi oleh image ibu ideal yang seperti ini. Si pembuat soal lupa bahwa dunia nyata tidaklah seperti itu. Secara kultural, pikiran pembuat soal bisa dikatakan mewakili sebagian masyarakat kita yang menggambarkan sosok ibu yang tradisional itu. Secara asesmen, butir soal tersebut kurang bagus. Kata ‘ayah’ sebagai pilihan bukanlah distractor jawaban yang baik, karena sosok yang ditanyakan jelas-jelas seorang perempuan. Soal ini mungkin dianggap bagus di masyarakat yang ‘neutral gender.’ Namun di dalam konteks masyarakat Indonesia, ini rasanya tidak mungkin.

Bagaimana dengan pilihan yang diambil si siswa sebagai jawabannya? Ketika si siswa memilih jawaban ‘pembantu,’ ini juga sama sekali tidak salah. Pilihan yang diambil si siswa mengindikasikan persepsi anak tentang sosok pembantu, yang sering kita stereotipikan sebagai orang dari desa, dan ini ditunjukkan dari pakaian kebayanya. Di satu sisi, ini juga menunjukkan spatial setting lingkungan di mana anak tumbuh. Besar kemungkinan dia anak kota, punya pembantu yang tipikal seperti itu, atau setidak-tidaknya, melihat lingkungannya. Mamanya kemungkinan besar tidak pernah pakai kebaya juga.

Kalau kita baca soal ini lebih dalam di deep structure-nya, pilihan siswa atas jawaban pembantu menunjukkan perubahan nilai tentang nurturingSurrogate mothering, yang diwakili si pembantu, betul-betul refleksi transformasi sosial tentang peran perempuan sebagai ibu dan wanita karir. Semakin banyaknya ibu yang berkarir, sebagai dampak dari global demand, membuat banyak rumah tangga memerlukan sosok ‘pengasuh.’ Banyaknya waktu yang dihabiskan bersama oleh si anak dan ‘mbok’nya,  dan kehangatan yang didapatkan dari si mbok juga refleksi dari berubahnya nilai tentang ‘motherhood.’ ketika ibu kurang memiliki waktu untuk fungsi ini.

Nah, jujur ya, sebagian dari kita yang menjadi ibu, ketika kita kaget dengan kasus di dunia pendidikan kita ini, sebenarnya di alam bawah sadar, kita sedang mengalami pergolakan, adanya contestation antara ibu dan pembantu dalam ‘mendapatkan’ perhatian anak. Ini refleksi perasaan insecure bahwa kita takut kehilangan peran sebagai ibu. Itu makanya banyak ibu yang berupaya untuk menjadi supermom, tetap berkarir, tapi tidak mau ‘kalah’ dengan si ‘mbok’. It’s power hegemony of class, ethnicity, and gender, dalam bahasa Antonio Gramsci. Tapi tekanan dunia global seringkali akhirnya mengubah contestation tadi menjadi negotiation, sehingga terjadi kerjasama antara ibu dan si mbok dalam pengaturan tugas-tugasnya, yang secara tradisional, masih dianggap menjadi bagian dari domestic, immaterial labor.

Masalah ini tidaklah kasuistis, tapi sudah menjadi fenomena global, tentang negotiation of public/private space and surrogate mothering. Berbagai studi sosiologis tentang TKW Filipina dan Indonesia di Hong Kong, Taiwan, dan Singapore mengindikasikan fenomena yang sama.

Sebuah butir soal ternyata bisa mengungkap fenomena transformasi budaya yang terjadi di masyarakat urban di Indonesia. Pisau Cultural Studies yang telah membuatku lebih melek terhadap praktek-praktek budaya yang nampaknya sepele di lingkungan kita. Aku harus berterima kasih kepada bu Dian Rivia, kolega yang telah memberikan pancingan akademik dan personal dalam postingannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 6 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 7 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: