Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Ingin Melanjutkan Studi di Taiwan?

HL | 20 February 2012 | 19:51 Dibaca: 2961   Komentar: 15   5

1329767414983617175

2010 Taiwan Tech Graduation Day, personal collection

Berikut overview-nya :)

Sudah lebih dari 10 tahun Taiwan membuka diri untuk mahasiswa internasional, namun mungkin baru 4-5 tahun terakhir internasionalisasi ini berkembang dengan pesat. Jumlah mahasiswa internasional di Taiwan berada di kisaran lebih dari 40 ribu orang, sebagian besar mengambil pendidikan bahasa Mandarin (degree ataupun non-degree), dan sisanya di jurusan lain-lain.

Pendidikan bahasa Mandarin di Taiwan mendapat banyak peminat dan memiliki kompetensi tinggi karena Taiwan menggunakan traditional Chinese, berbeda dengan pendidikan bahasa Mandarin di mainland China yang menggunakan simplified Chinese. Jika ada yang belum tahu bedanya, traditional Chinese menggunakan karakter yang jumlah ‘stroke’-nya lebih banyak dibanding simplified Chinese. Tulisannya lebih ruwet, singkatnya. Misalnya ‘Taiwan’ jika ditulis dalam traditional Chinese adalah , sedangkan bila ditulis dengan simplified Chinese adalah . Mempelajari traditional Chinese lebih dahulu dikatakan akan lebih menguntungkan untuk kemudian mempelajari simplified Chinese.

Taiwan dikenal dengan ‘kekuatannya’ di bidang teknologi dan engineering, terutama yang berkaitan dengan semikonduktor (dengan sendirinya mengarah ke computer and peripherals, handphone, dan teknologi layar datar). Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) - produsen semikonduktor terbesar di dunia, Asus, HTC, dan AU Optronics (AUO) – produsen TFT-LCD; semuanya ada di Taiwan. Dengan keunggulan di bidang teknologi ini, jurusan-jurusan yang berkaitan dengan itu, misalnya teknik kimia, teknik material, computer science, electronic engineering, menjadi jurusan yang diandalkan banyak universitas. Selain itu, Taiwan juga dikenal dengan teknik sipilnya yang ‘mature’ (di Taiwan disebut dengan ‘construction engineering’ dan bukan ‘civil engineering’). Taipei 101 adalah salah satu contoh nyata perkembangan konstruksi Taiwan, karenanya banyak juga mahasiswa asing yang mendaftar di jurusan ini.

Selain jurusan-jurusan tersebut, masih banyak jurusan lain yang juga diunggulkan untuk mahasiswa asing, misalnya management dan international affairs.

Sistem kuliah di Taiwan untuk S2 dan S3 adalah gabungan course dan research, mahasiswa harus menyelesaikan sejumlah kredit di tahun pertama dan selanjutnya mengerjakan riset. Program internasional kebanyakan ditawarkan untuk mahasiswa pascasarjana, sehingga kemampuan berbahasa Mandarin sangat diperlukan jika ingin studi S1. Program internasional juga tidak seluruhnya menawarkan kredit berbahasa Inggris, beberapa mata kuliah masih tetap ditawarkan dalam bahasa Mandarin. Riset dilakukan di bawah bimbingan satu (atau lebih) adviser, dan mahasiswa diwajibkan bergabung di lab yang dia minati untuk melakukan riset. Setiap adviser biasanya memiliki lab sendiri sesuai bidang keahliannya. Dalam satu jurusan bisa terdapat lebih dari 30 professor, dan dengan sendirinya, 30 lab berbeda. Karena prinsip tidak tertulis ‘adviser is king’, sebelum memutuskan akan bergabung di lab mana, mahasiswa harus melakukan ‘penelitan’ mendalam supaya bisa mengira-ngira mana lab dan adviser yang sesuai.

Astmosfer penelitian sangat kental di Taiwan. Professor-professor biasanya memiliki ‘buddies’ yang memiliki bidang riset atau keahlian yang sama dan mereka sering bertukar pikiran, meskipun berbeda universitas. Hal ini membuat cross-university research sesuatu yang normal. Kemudahan menggunakan fasilitas atau berkonsultasi dengan professor di universitas lain juga adalah salah satu pemicu tingginya tingkat penelitian (dan juga publikasi ilmiah) di Taiwan.

Sama seperti di Indonesia, masa studi normal untuk S1 adalah 4 tahun, master 2 tahun, sedangkan untuk PhD antara 3-7 tahun.  Fast track S1-S2 memakan waktu 5 tahun, sedangkan fast track S2-S3 4 tahun.   Mahasiswa S1 juga dapat langsung melanjutkan ke jenjang S3 di universitas yang sama (tanpa S2) dengan proses seleksi tertentu.

Biaya pendidikan lanjut di Taiwan tergolong lebih rendah dibandingkan dengan Korea, Jepang, atau Hongkong. Berikut adalah perbandingan biaya pendidikan per tahun di tahun 2003-2004 menurut MOE [1] (dalam TWD, 1 TWD = IDR 300):

1329766734645322331

1329766771875012252

Biaya itu masih cukup relevan untuk saya karena tagihan total (memasukkan tuition, tanpa credit fee) saya semester ini adalah TWD 23.824 dengan rincian asuransi siswa TWD 210, asuransi nasional (NHI) TWD 4.494 (TWD 749/bulan), dormitory fee TWD 5.900, dan TWD 13.220 untuk tuition. Jadi SPP saya (PhD degree) per semester hanya sekitar IDR 4.000.000 (tanpa biaya SKS karena saya tidak lagi mengambil kelas). Tahun kemarin ada kenaikan biaya studi di kampus saya (NTUST) yang mencapai 2-3 kali lipat biaya sebelumnya. Kurang tahu untuk kampus lain berapa kali kenaikannya.

13297668301529429048

Pemerintah dan universitas-universitas di Taiwan banyak menawarkan beasiswa pada mahasiswa internasional, biasanya meng-cover biaya pendidikan (tuition dan credit fee) serta monthly stipend. Besarnya biaya bulanan (lepas dari biaya pendidikan) yang diberikan bervariasi dari TWD 6.000 – 20.000 per bulan untuk penerima beasiswa dari universitas. Untuk beasiswa pemerintah, per bulannya penerima beasiswa mendapatkan TWD 30.000, namun biaya pendidikan harus dibayar dari uang tersebut.

Biaya hidup di Taiwan bervariasi bergantung gaya hidup dan kota tempat tinggal. Harga makanan di kampus biasanya di bawah TWD 100 per porsi, sedangkan di luar kampus rata-rata TWD 200. Biaya transportasi untuk bus TWD 15 (TWD 12 untuk pelajar)/sekali jalan, biaya Taipei Metro (MRT) antara TWD 20 -75. Biaya kos di luar kampus berkisar antara TWD 5.000 – 10.000 (untuk kamar biasa). Harga sepeda baru TWD 1.500 – 2.500 (kualitas menengah). Menonton bioskop, TWD 280 – 400. Pulsa telepon, per bulan TWD 200 – 500 (pra bayar), TWD 300 – 1.000 (pasca bayar). Tarif berlangganan BB paling murah, TWD 1.000/bulan. Dan nomor telepon seluler harus dibeli dengan menunjukkan identitas, setiap orang hanya bisa menggunakan 1 nomor untuk 1 provider (jadi bisa memiliki lebih dari satu nomor asal beda provider). Kebanyakan handphone juga di-bundling dengan operator sehingga jangan heran bila menemukan iklan ‘handphone gratis’, gratis ‘membeli’ teleponnya namun harus berlangganan dengan biaya tertentu per bulan selama 2 tahun.

Kebijakan penerimaan mahasiswa asing dan pemberian beasiswa bergantung pada kebijakan universitas sehingga masing-masing universitas bisa memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Untuk memudahkan mahasiswa asing yang ingin melanjutkan studi di Taiwan, Ministry of Education of Taiwan mendirikan Taiwan Education Center (TEC) di beberapa negara, termasuk Indonesia. Informasi-informasi penting misalnya jurusan apa yang tersedia di universitas mana, peluang mendapatkan beasiswa, termasuk bagaimana pengurusan dokumen (yang sedikit ribet karena Taiwan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia) bisa didapatkan melalui TEC.

Apalagi ya? Sepertinya sudah. Kalau ada yang terlewat, feel free to ask me :)

-Citra

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: