Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Enda Alfaro Winalda

Mahasiswa fakultas tekhnik,Jurusan technology of manufacture sains & exsperiment of biologycal humans. Ingin menjadi penulis yang selengkapnya

Makna dan Peranan Teater Tradisional

REP | 23 October 2011 | 03:39 Dibaca: 6119   Komentar: 0   0

1319297838301877789

Bentuk-bentuk teater tradisi di Nusantara sangat beragam baik penyajiannya maupun fungsinya. Teater tradisional memiliki aturan-aturan baku yang tidak boleh dilanggar.
Secara umum teater tradisional mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. lakon/ceritanya tidak tertulis;
b. media pengungkapannya berupa dialog, tarian, dan nyanyian;
c. akting bersifat spontan;
d. dialog dibawakan secara improvisasi;
e. dalam pertunjukan selalu terdapat unsur lawakan;
f. umumnva menyertakan iringan musik tradisional;
g. penonton mengikuti pertunjukan secara santai dan akrab, bahkan dapat berdialog langsung dengan pemain;
h. bahasa yang digunakan, yaitu bahasa daerah; dan
i. umumnya menggunakan tempat pertunjukan terbuka yang berbentuk arena (dikelilingi penonton).

Sebelum jenis “tontonan kota” berkembang di Indonesia, sekitar permulaan abad 17 di lingkungan masyarakat Belanda-Eropa di Batavia dan akhir abad 19 di kota-kota besar lainnya telah lama berkembang tearer tradisional Indonesia. Kehidupan pertanian yang berurusan dengan tanah, air, produksi, kesuburan, kemakmuran, hama, musim kering, memberikan dasar-dasar estetika berdirinya teater tradisional. Selain itu, kehidupan yang amat erat hubungannya dengan siklus alam (musim, matahari, bintang-bintang) menjadikan dasar pokok estetika kesenian bersifat religi sehingga seni teater menjadi sesuatu yang sakral dan harus dilakukan secara sungguh-sungguh dengan segala hal seremoninya. Pertunjukan teater tradisional tidak dapat diadakan sembarangan waktu, tetapi harus dipertunjukkan dengan suatu alasan dan maksud yang berhubungan dengan sistem kepercayaan yang ada. Oleh karena itu, pertunjukan teater tradisional tidak dapat dikemas menurut kehendak penonton atau penyelenggara tontonan. Setiap jenis teater tradisional mempunyai ketentuan permainan tertentu sehingga teater tradisional terikat oleh sistem kepercayaan.

Dengan demikian untuk mengenal teater tradisional Indonesia tidak sederhana karena dasar estetikanya berdasarkan sistem religi yang begitu beragam secara etnis maupun historis.

Fungsi pokok dari teater tradisional, di antaranya sebagai berikut:
1) memanggil kekuatan gaib;
2) menjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat terselenggaranya pertunjukan;
3) memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat;
4) memperingati nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun kepahlawanannya;
5) pelengkap upacara schubungan dengan tingkat-tingkat hidup seseorang; dan
6) pelengkap upacara untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu.
Semoga maju teater tanah air dan budaya Indonesia…!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 6 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 7 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Gas Elpiji 12 Kg dan Elpiji non subsidi …

Asep Wildan Firdaus | 7 jam lalu

Wow! Demi Cinta, Wanita Ini Tinggalkan …

Handarbeni Hambegja... | 7 jam lalu

Sempol, Desa Eropa di Kaki Gunung Ijen …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Memangnya di Sorga Ada Apa?? …

Fenusa As | 8 jam lalu

Menikmati Penyakit Hati …

Orang Bijak Palsu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: