Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Santorry Saad

Pemikir, Budget Analyst, Esais dan Calon Penulis, Pendidik, cukup mahir dlm beberapa cabang olahraga: Tenis, selengkapnya

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Mengubah Diri

OPINI | 20 August 2011 | 21:13 Dibaca: 22948   Komentar: 12   1

“Ketika aku masih MUDA, aku bermimpi dapat MENGUBAH DUNIA. Tapi kini setelah AJAL menjelang baru kusadari, ANDAIKAN yang ku-ubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan mungkin aku bisa mengubah KELUARGAKU, lalu berkat aspirasi dan dorongan mereka, BOLEH JADI aku-pun mampu perbaiki NEGERIKU, dan kemudian, SIAPA tau bahkan BISA MENGUBAH DUNIA” (Disadur dan dimodifikasi dari sebuah tulisan di sebuah rumah makan, berlokasi di Utan Kayu-Jakarta Timur).

131416606753670800

Kata-Kata Bijak itu, Tertulis di Suatu Rumah Makan (Dok. Pribadi)

Menarik sekali, membaca 2 buku karangan Sonny Sutrisna-Guru Besar Power of Soul, seorang mualaf yang terlahir dari seorang bapak yang berasal dari Bali (beragama Hindu) dan ibu seorang warga keturunan Tionghoa (beragama Kong Hu Chu) yaitu Power of Soul seorang Penyembuh (Cetakan ke-3, Maret 2011) dan Sholat untuk Memperbesar Periuk Rejeki (Cetakan ke-5, Maret 2011).

Satu kalimat yang penulis dapat petik dari kata-kata nan arif-bijaksana di atas : “TIDAK ADA KATA TERLAMBAT, ASALKAN KITA MAU MENGUBAH DIRI”. Mungkin simpulan itu terlalu menyederhanakan, karena terus-terang penulis belum khatam (tamat) membaca ke-2 buku tersebut dan bahkan baru mulai  menyelami serta berproses meningkatkan  level kesadaran. Namun  demikian, sebagai  pembuka jalan kesadaran, mohon izinkan  penulis MENGIKAT MAKNA yang terserak  dari sebuah pesan  nan bijak-bestari.

Seringkali, semasa muda kita terobsesi dan bermimpi untuk menjadi orang terkenal dan bahkan berkhayal untuk dapat mengubah dunia. Namun seiring berjalannya waktu dan pertambahan usia serta proses belajar arif hadapi realita hidup, sampailah kita pada kesadaran bahwa yang perlu diubah terlebih dahulu adalah DIRI SENDIRI.

Ada berbagai tingkatan kesadaran yang disinggung dan dibahas secara detail di buku tersebut, intinya kesadaran itu sendiri berproses dari mulai tingkatan terbawah (Kesadaran Hewani), meningkat ke level berikutnya (Kesadaran Manusia) dan meningkat lagi ke level tertinggi (Kesadaran Tuhan :  rendah >  sedang > tinggi > penyatuan).

Syarat untuk  naik level  ternyata cuma satu, ada keinginan kuat mengubah diri dengan cara menekan tingkat  ego-nya. Ada hubungan berbanding terbalik antara ego dan level kesadaran. Makin tinggi level kesadaran, makin menuntut kita menekan ego diri. Level tertinggi (Kesadaran Tuhan-Penyatuan) bahkan mensyaratkan ego kita bernilai  nihil  alias tidak  ada lagi. Di sinilah perjuangan  mengubah diri dimulai, bagaimana mengendalikan dan memerangi hawa nafsu yang membelenggu  (direpresentasikan oleh ego) yang melekat di dalam diri hingga akhirnya kita dapat lepas dan mampu mengendalikan hawa nafsu hingga membawa kita ke jenjang/predikat takwa.

Mungkin pembaca masih ingat, kredo ‘Aa Gym dengan 3M-nya (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil, dan Mulai sekarang juga) yang begitu fenomenal. Terlepas dari masalah pribadi Beliau (pilihan berpoligami), sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada Beliau  yang telah memperkenalkan dan mempraktikkan sekaligus kredo itu  dengan sukses (melalui  Manajemen  Daarut-Tauhid).

Jadi, jangan harapkan terlalu banyak untuk mengubah orang lain, keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dunia, JIKALAU kita tidak mampu mengubah diri sendiri menjadi insan yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Benarlah firman Allah SWT bahwa Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’du : 11) dan sabda Baginda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang hidupnya banyak bermanfaat untuk orang lain (HR. Muslim).

Untunglah, penulis bergabung dengan KOMPASIANA, sebuah media sosial yang tidak hanya menerima secara suka-rela tulisan curahan hati (CURHAT) seorang Kompasianer pemula seperti penulis, tapi juga dengan suka-cita menerima adi karya dari penulis jempolan yang kebetulan telah membesarkan dan menyemarakkan KOMPASIANA hingga menjadi sebesar dan dikenal seperti ini.

Semoga dengan sedikit goresan tulisan di pasir pantai kehidupan ini, dapat meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan sesama. Dan bila ada postingan penulis yang sekiranya kurang bermanfaat (lebih banyak mudharat daripada manfaatnya), segera tersapu ombak pantai dan hilang ditelan lautan samudra.

Selamat bermetamorfosa dan berjuang  meningkatkan level kesadaran,  semoga  kita dapat menjadi insan yang berguna dan bermanfaat bagi sesama. Mari kita jadikan ibadah shaum (puasa) sebagai  sarana melatih diri untuk berusaha mencapai derajat takwa, insya Allah (Maher Zain & Fadly, mode on)….amin YRA.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 6 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 10 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | 7 jam lalu

Kesempatan Sadar …

Latania Aini | 8 jam lalu

Meriahnya Pembukaan Porseni BUMN 2014 …

Rizky Febriana | 8 jam lalu

Tumpengan dan Bedah Buku “Bertahan di …

Gaganawati | 9 jam lalu

Revolusi dari Desa, Pengalaman Nyata Bukan …

Partyedu | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: