Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Selamat Datang di Kelas Malam Untirta

REP | 07 July 2011 | 21:57 Dibaca: 1613   Komentar: 0   0

Oleh : TULUS MULIAWAN

Azan maghrib baru seleseai berkumandang, sejumlah kenek bus berteria-teriak. “Cilegon, Merak, Pandeglang, Labuan, Kali,”. Mereka berteriak di sekitar bis yang berhenti di depan kampus, menunggu mahasiswa keluar. Di seberangnya, baru berhenti bus jurusan Bekasi menurunkan sejumlah penumpang yang kesemuanya mahasiswa. Gerombolan mahasiswa itu beranjak masuk ke dalam kampus Untirta. Mereka bersiap mengikuti kelas malam di Untirta.

Dinginnya malam tidak membuat Oscar Krisna Nugroho (18), mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, semester 4, mengurungkan niatnya untuk mengikuti kuliah, Rabu (23/3) lalu. Ia datang dengan berjalan kaki dari tempat kostnya yang berjarak sekitar 700 meter dari kampus. “Saya biasa seperti ini, maklum tidak ada kendaraan, “ kata Oscar sambil tersenyum.

Oscar adalah satu dari sekian banyak mahasiswa Untirta yang mengikuti kelas malam. Kelas Non Reguler (NR). Ya, itu istilah formal bagi kelas malam di Untirta. Kelas NR merupakan kelas yang berisi mahasiswa hasil seleksi melalui ujian mandiri. Kelas NR merupakan kelas tambahan yang disediakan Untirta untuk mahasiswa yang tidak dapat mengikuti kelas reguler, baik yang gagal dalam tes Snmptn ataupun mereka yang memiliki kepentingan di siang hari, misalnya bekerja.

Perkuliahan selalu dimulai sore hari, setelah kelas reguler, dan berakhir di malam hari. Dari Senin hingga Sabtu, setiap malamnya, perkuliahan diadakan di lebih dari 50 kelas. Dimulai dari yang paling awal yaitu pukul 14.30 di Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan dan yang paling akhir dari Fakultas Ekonomi sekitar pukul 22.00.

Jarum jam menunjukkan pukul 18.30, sejumlah mahasiswa berjalan beriringan menuju gedung-gedung perkuliahan. Di bawah lampu penerangan kampus yang sayup-sayup bersinar, mereka berjalan sambil berbincang-bincang satu sama lain. Ada juga yang membawa kendaraan. Mereka mengarah ke tempat parkir. Di bawah pedestrian yang gelap, nampak beberapa kelompok mahasiswa asik berbincang. Di sela-sela jari mereka terselip sepuntung rokok yang menyala. Disebelahnya juga tersedia segelas kopi yang siap untuk disruput. Sesekali mereka tertawa lepas, terbahak-bahak.

Bergerak sedikit ke depan, terlihat suasana yang kontras dengan apa yang dilihat sebelumnya. Sejumlah mahasiswa terlihat fokus berdiskusi. Di bawah langit malam yang mendung, tiap-tiap mahasiswa itu memegang buku di tangannya. Mereka berdiskusi, saling bertukar pikiran. Begitulah gambar kehidupan mahasiswa di luar kelas.

Mari, kita beranjak ke dalam kelas. Di gedung A ruang 13, lantai 1, mahasiswa semester 2 jurusan Hukum sedang mengiktui mata kuliah Antropologi Hukum. Lima mahasiswa tampak duduk di depan memisahkan diri dari mahasiswa lainnya. Kelima mahasiswa tersebut membacakan beberapa materi dari lembaran kertas yang dijilid. Mereka sedang presentasi. Di sampingnya, dosen fokus memperhatikan jalannya diskusi. Kelas itu tampak tenang. Raut wajah para mahasiswa menunjukkan keseriusan. Meskipun, sesekali mereka tertawa lepas karena celetukan dari salah seorang mahasiswa.

Suasana serupa juga terlihat di lantai 4, masih di gedung yang sama. Sejumlah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, semester 4, mengikuti mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar. Dosen menularkan pengetahuan kepada mahasiswa melalui slide-slide yang ditampilkan dari laptop. Mahasiswa tampak antusias menyimak materi yang diberikan.

Menurut H. M. Syadli, dosen senior di Fakultas Hukum, mahasiswa NR memang antusias mengikuti kuliah karena menjadi mahasiswa NR memang pilihan mereka. “Yang regular itu pure mahasiswa, sedangkan yang NR itu karyawan, tetapi secara umum mereka antusias,” kata dosen berusia 72 tahun itu. Syadli menambahkan memang ada yang malas-malasan, tetapi itu semua tergantung pada pribadi masing-masing.

Yogi Andrian (22), mahasiswa jurusan Hukum, semester 4, mengungkapkan dirinya tetap fokus dan antusias karena pelajarannya menarik. Antusiasme juga merupakan tutntutan baginya karena keputusannya mengambil jursan Hukum adalah tuntutan pekerjaan. “Sekarang mengikuti pekerjaan, ya jadi ingin memperdalam materi, “ kata mahasiswa yang juga Pns di Rutan Kota Serang itu.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Nena Nurul Wardah (25), mahasiswa semester 4 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. “Saya kuliah sambil kerja jadi tidak bisa benar-benar fokus 100 persen ke kuliah. Saya memilih hidup saya 50 persen untuk kerja dan 50 persen untuk kuliah karena keduanya tidak bisa ditinggalkan,” tutur mahasiswa asal Subang itu.

Antusiasme memang harga mati untuk dapat menyerap dan mencerna pengetahuan yang diberikan. Antusiasme memang menjadi hal yang menarik dibahas di kelas NR, mengingat ada sebagian dari mhasiswa yang harus membagi waktunya antara bekerja dan kuliah. Menurut Syadli, Kelas NR sejak awal berdiri sebetulnya diperuntukan bagi para karyawan yang ingin berkuliah. Namun kenyataannya justru lebih banyak mahasiswa murni yang bukan karyawan. Berbaurnya mahasiswa murni dengan karyawan menghubungkan tali pertemanan antarmanusia dari status dan latar belakang yang berbeda.

Dari segi usia contohnya. Tidak sedikit mahasiswa NR yang berusia di atas 35 tahun. Tetapi perbedaan usia tidak menyurutkan mereka untuk tetap berbaur. “Yang tua-tua itu tetap berbaur. Mereka bisa membimbing kita-kita yang masih belum dewasa ini,” kata Yogi.

Menurut Yogi, perbedaan tersebut juga memunculkan kisah yang menarik. Di kelasnya ada sejumlah mahasiswa dengan berbagai latar belakang profesi. Ada 4 polisi, 2 wartawan, penjaga rutan dan aktivis. Perbedaan tersebut, terangnya, membuat banyak cerita di dalam kelas, terutama saat diskusi. “Saat diskusi cerita-ceritanya lebih banyak dan berwarna, ada aktivis yang berteriak-teriak, aparat yang menjaga, ada orang penjara, dan wartawan yang tinggal ngoceh,” kata Yogi sambil tertawa. Meskipun mereka berbeda latar belakang pekerjaan, jika sudah dalam kelas semua menangglkan identitas mereka masing-masing. Dosen juga tidak membeda-bedakan mereka. Semua derajatnya sama, mahasiswa.

Kendala

Belajar di malam hari memang terlihat menyenangkan karena suasana yang tenang, begitu ungkap Oscar. Namun, tenangnya malam bukan tanpa kendala. Sambil duduk santai di teras gedung Fakultas Hukum, mahasiswa asal Jakarta itu menjelaskan, kuliah malam memang nyaman karena suasana di luar adem dan tenang. Tapi, terkadang kondisi di dalam kelas justru membuatnya tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu datang dari kelakuan sebagian teman kelasnya. “Dosen semangat sebetulnya, tapi mahasiswa yang tidak berdinamika membuat dosen menjadi agak kurang respek” jelas Oscar.

Oscar menuturkan, menjelang malam mereka (teman-teman kelasnya) banyak berpikir untuk cepat pulang. Mereka tidak konsen pada materi perkuliahan, namun justu memikirkan dapat bis atau tidak. Sebagian mahasiswa tersebut adalah komuter dari Tangerang, Cilegon, Merak, Pandeglang, atau Labuan. Setelah jam 9 malam, bis sudah mulai jarang yang melintas. Sedangkan, dalam beberapa hari kelas Oscar baru pulang hampir jam 10 malam. Sebagian mahasiswa itu juga mengeluhkan jadwal perkuliahan yang terlalu malam.

Masalah bukan hanya datang dari mahasiswa, tetapi juga dari pihak dosen. Sebagian mahasiswa mengeluh karena dosen yang jarang hadir. Aulia Ibadurahman Salam (20), mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, semester 4 mengungkapkan bahwa Ia sangat merasa keberatan jika dosen tidak datang. Apalagi mereka tidak hadir tanpa konfirmasi sebelumnya. “Paling tidak ada konfirmasi sebelumnyalah. Meskipun itu memang tidak menyelesaikan masalah, “ kata mahasiswa asal Jakarta itu.

Yogi juga mengungkapkan bahwa memang banyak dosen kelas malam yang jarang masuk. Namun Ia masih menghargai itu karena mungkin mereka (dosen) sibuk. Ia menambahkan, seharusnya ketidakhadiran itu harus disesuaikan dengan nilai mata kuliah.

Oscar juga mengeluhkan hal yang sama. “Masalahnya teori pendidikan itu terbilang baru bagi kami (mahasiswa), kami berharap bisa lebih diperkenalkan lagi. Tapi kadang dosen tidak masuk dan merubah jadwal semaunya. Saya kuliah disini punya tujuan dan kedua saya bayar. Saya malu kalau pulang tanpa membawa apapun,” jelas Oscar.

Tidak hanya kendala manusia, kendala teknis juga kerap terjadi. Sebagian besar mahasiswa mengungkapkan hal yang relatif sama tentang kendala teknis yang mereka hadapi selama menjalani kelas malam. Dari segi teknis, mereka mengeluhkan sarana dan prasarana dari kampus. Salah satunya adalah ketidaktersediaan jenset yang menyebabkan kuliah diliburkan ketika mati listrik.

Hal yang satu ini sudah lumrah di kampus Untirta. Pihak kampus melalui dosen tak berdaya ketika listik mati. Tanpa listrik, kuliah tak dapat dijalankan karena tidak ada sumber penerangan yang lain. Akhirnya semua dipulangkan. “Waktu itu masuk jam 8, belum selesai kuliah. Tiba-tiba mati lampu. Otomatis kuliah dipulangkan, “ tutur Nena.

Belum habis sampai disitu. Satu lagi kendala yang kerap dirasakan mahasiswa adalah kesurupan. Tidak logis memang, tapi inilah kenyataannya. Kasus kesurupan sering terjadi di gedung A lantai 4. Lantai 4 selalu digunakan oleh kelas NR jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sampai larut malam. Yogi menceritakan kisah yang pernah Ia alami. Sebelum Ia pindah dari jurusan bahasa Inggris ke jurusan Hukum Ia sering menyaksikan kesurupan.

Kebanyakan dari korbannya adalah perempuan. “Dulu sampai ada yang ingin loncat dari lantai 4,” kata Yogi. Meskipun begitu tidak ada perhatian sama sekali dari pihak universitas. Oscar juga pernah mengalaminya. Ia mencertakan tentang sikring listrik yang terbuka dan tertutup sendiri dan sering mendapati mahasiswi yang berteriak-terika histeris tiba-tiba. Hal tersebut sontak membuat Ia dan teman-teman kelasnya di lantai 4 ketakutan.

Beragam kisah di kelas malam memang sangat menarik untuk diperbincangkan. Namun malam telah larut. Kelas malam telah berakhir. Hujan yang tadi turun membasahi kampus pun telah reda. Mahasiswa meninggalkan kampus. Gedung-gedung yang telah sepi ditinggalkan mahasiswa seakan berkata, Hati-hati di jalan, silakan berkunjung kembali ke kelas malam Untirta…

Tags: humaniora

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: