Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Neny Silvana

Unik, ekspresif, menarik.

Perbedaan Rasa Suka, Sayang, atau Cinta

OPINI | 31 March 2011 | 03:22 Dibaca: 3967   Komentar: 68   11

1301498468217833771

Hem jadi penasaran, masuk kriteria yang mana ya pasanganku..?!?

Catatan ini aku dapatkan dari share seorang sahabat di BBM ketika aku bingung mengartikan sebuah rasa.

Katanya sih…

SUKA adalah saat di mana kau ingin MEMILIKI seseorang.
SAYANG adalah saat di mana kau ingin MEMBAHAGIAKAN seseorang.
Dan CINTA adalah saat di mana kau mau BERKORBAN untuk orang yang kau sayangi.

Saat kamu bersedih dan menangis, maka seseorang yang menyukaimu hanya akan berkata, “Jangan menangis lagi”
Tapi seseorang yang menyayangimu akan diam dan ikut menangis denganmu.
Dan seseorang yang mencintaimu akan membiarkanmu menangis dan menunggumu hingga tenang, lalu berkata,”Mari kita selesaikan ini bersama”

Saat sesorang melihatmu dan menyukaimu dia akan berkata,”Kau sangat cantik dan menawan”
Tapi sesorang yang menyayangimu akan melihatmu dengan hatinya, dan bukan matanya.
Dan seseorang yang mencintaimu dia akan berkata,”Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku”

Saat seseorang yang menyukaimu berada di sampingmu maka dia akan bertanya,”Bolehkah aku menciummu?”
Tapi seseorang yang menyayangimu maka dia akan berkata,”Biarkan aku memelukmu”
Dan seseorang yang mencintaimu dia diam dan tak bicara, dia hanya akan memegang erat tanganmu seakan dia takkan mau membiarkanmu terjatuh.

Saat seseorang menyukaimu dia akan memaksamu untuk menyukainya.
Tapi seseorang yang menyayangimu  dia akan membiarkan memilih.
Dan seseorang yang mencintaimu dia akan selalu menantimu dengan setia dan tulus.

Saat kamu menyukai seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan marah, dan tak mau lagi bicara dengannya.
Tapi jika kamu menyayangi seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan menangis karenanya.
Dan jika kamu mencintaimu seseorang dan seseorang itu menyakitimu maka kamu akan tersenyum walau pahit. Dan kamu berkata, “Dia hanya belum tahu apa yang harus dilakukannya”

SUKA adalah hanya keegoisan diri sendiri.
SAYANG adalah memberi dan menerima.
Dan CINTA adalah berbuat karena tak ingin membuatnya terluka. Tak perduli bagaimana keadaannya.

Catatan ini membuat aku tersenyum dan merenung. Baru mendapatkan jawaban masuk di dalam kriteria yang mana ya my hubby. My hubby seorang yang pendiam, tak pandai mengungkapkan kata apalagi merayu. My hubby hanya berbicara untuk hal-hal yang penting saja dan selalu gesit bertindak mengambil alih jika melihat aku dan anak-anaknya berlaku bodoh. My hubbypun secara tegas menegur kami, ketika aku dan anak-anaknya berlaku konyol. Dengan sabar my hubby menasehati dan mengingatkan kami. My hubby baru kelihatan panik ketika aku dan anak-anak sakit atau ketika aku dan anak-anak sedang dalam kesedihan.

Seingatku belum pernah my hubby tidak ada di sampingku dan anak-anak ketika kami membutuhkan sebagai seorang suami ataupun seorang ayah. My hubby laki laki yg selalu siaga untuk keluarganya. Hidupnya hanya dia curahkan untuk membuat kami bahagia dan tersenyum. Tanpa pernah my hubby mengeluh kesal, meskipun kami seringkali membuatnya kecewa.

Setelah aku cermati, my hubby masuk di dalam kriteria CINTA. Alhamdullilah hahaha, lega banget rasanya. Kenapa aku merasa lega? Mungkin kedengarannya lucu, karena selama ini aku tidak tau masuk di dalam rasa yang mana ungkapan rasa my hubby.

Kriteria cinta lebih banyak ke tindakan dibandingkan dengan kata-kata. Sementara aku, orang yang sangat ekspresif banget. Segala-gala diungkapkan. Buat aku kalau suka, sayang, atau cinta ya dikatakan dong biar pasangan kita tau apa yang kita rasa dan tanpa sulit menebak-nebak. Sementara my hubby, apa yang dia rasa lebih senang di simpan dan bicara bahasa hati saja. Sangat bertolak belakang dengan aku.

Cinta tanpa kata-kata? Hem aneh juga buatku. Jujur aku menikah dengan my hubby dengan proses yang sangat cepat. Meski kami dulu teman sekantor, tapi kami jarang sekali berkomunikasi. My hubby adalah boss ku di kantor. Terang aja aku jadi jaim dan hormat padanya. Apalagi my hubby laki laki pendiam yang super cool, tegas, dan berwibawa. My hubby banyak disukai teman-temanku karena kharismanya. Pastinya karena takdir Allah akhirnya hanya dengan dekat selama 2 bulan, my hubby memutuskan ingin menikah denganku. Tanpa proses pacaran yang romantis apalagi pakai rayuan gombal. Sering sih jalan berdua pergi nonton, makan malam atau duduk di tepi pantai. Tapi tetap dalam batasan yang wajar lebih sebagai proses pengenalan diri.

Seingatku belum pernah aku mendengarnya berkata cinta kepadaku  hiks. Meskipun begitu aku sangat meyakini bahwa my hubby cinta setengah mati kepadaku yang kurasakan melalui tindakannya. Melalui respon cemburunya dan sigap melindungiku ketika ada lelaki lain yang coba merayuku atau ada lelaki lain yang menarik perhatianku. Bentuk ungkapan cinta yang lain adalah my hubby senang memberiku dan anak-anaknya hadiah. My hubby terlihat sangat bahagia ketika bisa memenuhi keinginan kami, melihat kami tertawa, dan gembira senang menerima pemberiannya. My hubby juga sangat telaten merawat dan menjaga bila di antara kami ada yang sakit. Wajah tenangnya langsung berubah menjadi panik ketika suhu tubuh anak-anakku panas atau ketika aku mengeluh tidak enak badan. My hubby bisa menelpon puluhan kali menanyakan keadaan kami dan sibuk menyarankan merawat kami di rumah sakit jika kebetulan my hubby tidak bisa mendampingiku atau anak-anak di dalam keadaan darurat.

My hubby laki laki sederhana, yang juga hanya bisa merangkai kata-kata yang juga sederhana. Buatnya suatu tindakan lebih penting dibandingkan dengan sejuta kata yang tak bermakna. Sementara aku yang super perhatian, banyak bicara dan kadang romantis telah salah mengartikannya. Dalam diam dan sedikit bicaranya nya aku pikir my hubby mengabaikanku. Nyuekin aku..

Kini aku menyadari bahwa setiap orang mempunyai karakter, sifat, kepribadian yang unik.Yang masing masing orang punya cara untuk mengungkapkan perasaannya dengan caranya yang juga berbeda.

Mungkin pengungkapan rasa yang my hubby berikan selama ini bukanlah yang aku mau. Tapi apakah masih penting bahasa verbal jika semua yang aku inginkan, telah my hubby berikan tanpa aku meminta. Dalam diamnya my hubby lebih memahami aku dan anak-anaknya. Dalam tenangnya my hubby mengamati dan memperhatikan aku dan anak-anaknya. My hubby selalu mengulurkan tangannya ketika kami membutuhkan bantuannya. Dalam senyumnya ada kebanggannya terhadap aku dan anak-anak meski tidak selalu diucapkannya. Apakah masih penting bahasa verbal jika dari tatapan matanya,aku sudah dapat melihat semuanya.

My hubby setiap orang memang unik. Banyak sekali perbedaan diantara kita. Tapi bukankah itu lebih baik karena kita bisa saling melengkapi. Bagai batu dengan kayu, dan bagai pasir dengan semen masing-masing saling memperkokoh dan melengkapi. Tak perlu lagi aku mempersoalkan perbedaan yang ada karena justru mewarnai hidup kita.

Terimakasih untuk sahabatku Ella Zulaeha Yusuf yang telah menginspirasiku menulis catatan ini. Yang telah membuat penilaianku berubah terhadap my hubby dan membuat aku berkata bersyukur telah memilikinya. Sangat bersyukur :)

Ditulis sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami, besok tgl 31 maret 2011 (yang ke -15 tahun). Doakan bahagia dan langgeng sampai akhir hayat ya.

==================================================

(gambar : dari google)
Tulisan yang lainya di :

http://www.kompasiana.com/nenysilvana

.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 9 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: