Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Novi Suprapti

Nama : Novi Suprapti NIM : X7209066 Kelas : VII/B S1 PGSD UNS Kebumen

Manajemen Berbasis Sekolah

OPINI | 14 December 2010 | 14:02 Dibaca: 1567   Komentar: 0   0

A. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

1. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Secara umum, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat diartikan sebagai model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas keluwesan-keluwesan kepada sekolah, dan mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dan sebagainya), untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku (Depdiknas, 2007 : 12).

Sedangkan menurut E. Mulyasa (2007:11) Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi, yang ditunjukkan dengan pernyataan politik dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Berbasis Solah (MBS) adalah suatu bentuk pengelolaan sekolah dalam bidang pendidikan yang ditandai oleh otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat dan warga sekolah dalam kerangka pendidikan nasional untuk mencapai keunggulan masyarakat dalam penguasaan Iptek.

2. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah

MBS memiliki karakteristik yang harus dipahami oleh sekolah yang menerapkan. Karakteristik MBS didasarkan pada input, proses, dan output.

1) Output yang diharapkan

Output sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Output pendidikan dinyatakan tinggi jika prestasi sekolah tinggi dalam hal:

§ Prestasi akademik siswa berupa nilai ulangan umum, Nilai Ujian Akhir Nasional (NUAN), Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), lomba karya ilmiah remaja, lomba Bahasa Inggris, lomba Fisika, dan Lomba Matematika.

§ Prestasi nonakademik siswa aeperti imtaq, kejujuran, kerjasama, rasa kasih saying, keingintahuan, solidaritas, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga, dan lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh tahapan kegiatan yang saling mempengaruhi (proses) yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.

§ Prestasi lainnya seperti kinerja sekolah dan guru meningkat, kepuasan, kepemimpinan kepala sekolah handal, jumlah peserta didik masuk ke sekolah meningkat, hubungan sekolah masyarakat meningkat, dan lain sebagainya.

2) Proses

Proses ialah berubahnya sesuatu (input) menjadi sesuatu yang lain (output). Depdiknas (2007 : 17-23), sekolah yang efektif memiliki: (a) lingkungan sekolah yang aman dan tertib; (b) kepemimpinan sekolah yang kuat; (c) PBM yang efektivitasnya tinggi; (d) pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan yang efektif; (e) memiliki budaya mutu; (f) memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis; (g) memiliki kewenangan ( kemandirian ); (h) partisipasi stakeholder tinggi; (i) memiliki keterbukaan manajemen; (j) memiliki kemauan dan kemampuan untuk berubah (psikologis dan fisik); (k) melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan; (l) responsive dan antisipatif terhadap kebutuhan; (m) komunikasi yang baik; (n) memiliki akuntabilitas;dan (o) sekolah memiliki sustainabilitas.

3) Input pendidikan

Input adalah sesuatu yang harus tersedia untuk berlangsungnya proses. Input juga disebut sesuatu yang berpengaruh terhadap proses. Input merupakan prasarat proses. Depdiknas (2007:23-25) Input pendidikan meliputi:

  • Memiliki Kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas

Kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu dinyatakan oleh kepala sekolah dan disosialisasikan kepada semua warga sekolah.

  • Sumberdaya tersedia dan siap

Segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap.

  • Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi

Bagi sekolah yang ingin efektivitasnya tinggi, maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan.

  • Memiliki harapan prestasi yang tinggi

Sekolah yang menerapkan MBS mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya.Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat prestasi yang maksimal. Sedangkan peserta didik mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

  • Fokus pada pelanggan (khususnya Siswa)

Semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk selalu meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik sehingga peserta didik selalu termotivasi untuk belajar.

  • Input manajemen

Input manajemen yang dimaksud meliputi: tugas yang jelas, rencana yang rinci dan sistematis, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuan-ketentuan (aturan-aturan) yang jelas sebagai panutan bagi warga sekolahnya untuk bertindak, dan adanya system pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai.

3. Alasan Diterapkannya MBS

Alasan perlunya diterapkan MBS antara lain adalah untuk:

Ø Sekolah lebih inisiatif dan kreatif dalam meningkatkan mutu sekolah.

Ø Sekolah lebih luwes dan lincah dalam mengadakan dan memanfaatkan sumberdaya sekolah secara optimal.

Ø Sekolah lebih mengetahui SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunities, Threats).

Ø Sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.

Ø Penngunaan sumberdaya pendidikan lebih efisien dan efektif.

Ø Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Ø Sekolah dapat cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat.

Ø Meningkatkan kepedulian stakeholder.

Ø Mempercepat transformasi proses belajar mengajar secara optimal.

4. Pembelajaran MBS

Pembelajaran MBS sudah tidak berpusat pada guru lagi tetapi disini anak ditintut untuk lebih aktif, inovatif, dan kreatif serta pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.Pembelajaran MBS juga identik dengan pembelajaran PAKEM. PAKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan.Menurut pendapat Muhamad Durori (2002 : xiii-xv) pengertian pakem dapat dilihat dari 2 segi, yaitu dari segi guru dan dari segi siswa.

* Dari segi guru

§ Aktif berarti memantau kegiatan siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang dan mempertanyaan gagasan siswa.

§ Kreatif berarti guru mengembangkan kegiatan yang beragam serta membuat alat bantu belajar sederhana.

§ Efektif berarti pembelajaran dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

§ Menyenangkan artinya pembelajaran artinya tidak membuat siswa takut dalam kegiatan pembelajaran.

* Dari segi siswa

§ Aktif artinya siswa aktif bertanya dan mengemukakan pendapat.

§ Kreatif artinya siswa merancang/membuat sesuatu dan mampu menulis/mengarang.

§ Efektif artinya siswa menguasai keterampilan yang diperlukan.

§ Menyenangkan artinya membuat siswa berani dan tidak takut ketika sedang berlangsung pembelajaran.

Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran PAKEM adalah suatu proses pembelajaran dimana guru harus menciptakan suasana yang sedmikian rupa sehingga menjadikan siswa untuk lebih aktif dalam bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Guru sebaiknya mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa dan suasana balajar mengajar yang menyenangkan sehingga siswa dapat memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar.

Untuk dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang pembelajaran MBS , secara garis besar dapat disebutkan sebagai berikut:

v Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

v Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat serta menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menciptakan pembelajaran menjadi menarik dan menyenagkan.

v Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang menarik.

v Siswa menempelkan hasil pekerjaan tangannya di papan pajangan.

v Guru menerapkan cara belajar yang lebih kooperatif, interaktif, dan demokratif termasuk cara belajar kelompok.

v Mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan masalah, mengungkapkan gagasan, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

B. Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari kata motif yang artinya daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.

Menurut Sardiman A. M (2007:75) motivasi belajar dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek yang belajar itu dapat tercapai.

Sedangkan menurut Winkel (1996:75) “Motivasi Belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar”.

Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan daya penggerak di dalam diri siswa yang berupa dorongan, penggerak dan pengaruh melakukan kegiatan belajar serta menjamin kelangsungan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan.Dengan demikian motivasi belajar ini akan timbul karena dirangsang adanya tujuan. Jadi motivasi merupakan respon terhadap suatu tujuan. Dengan adanya motivasi belajar dalam diri siswa maka akan tumbuh kegairahan dan semangat dalam belajar sehingga siswa melakukan aktivitas secara optimal.

2. Peranan dan Fungsi Motivasi Belajar

Dalam hubungannya dengan belajar, motivasi mempunyai peranan yang adanya faktor penggerak dalam dirinya untuk mencapai suatu tujuan, maka siswa akan melakukan kegiatan belajar dengan segenap energinya secara optimal. Motivasi mempunyai peranan menumbuhkan minat, gairah, merasa senang dan semangat melakukan kegiatan belajar.Sebagaimana dikatakan Sardiman A.M (2007:84) “hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi”. Semakin tepat motivasi yang diberikan maka akan semakin berhasil pula pembelajaran itu.

Dari pendapat tersebut dapat kita ketahui bahwa siswa yang mempunyai motivasi yang tinggi akan menaruh perhatian yang besar terhadap suatu mata pelajaran yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajar secara optimal. “Siswa yang mempunyai motivasi yang kuat memiliki energy banyak untuk melakukan kegiatan belajar”.

Memandang dari peranan-peranan tersebut ada empat fungsi motivasi yang dikemukakan Sadirman, yaitu sebagai berikut:

1) Mendorong manusia untuk berbuat, sebagai penggerak atau motor dari setiap kegiatan belajar yang akan dikerjakan.

2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan rumusan tujuannya.

3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan apa yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

4) Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha pencapaian prestasi belajar (Sardiman A. M, 2007: 85).

Dari beberapa fungsi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi berfungsi sebagai penggerak, pengarah, penyeleksi dan peningkat prestasi belajar ke arah yang lebih baik demi terciptanya tujuan. Dengan demikian seseorang yang mempunyai motivasi yang tinggi akan bersemangat dalam meraih cita-citanya. Sebaliknya jika motivasi seseorang itu rendah maka tidak mempunyai semangat dalam meraih cita-citanya.

Berdasarkan dengan tinggi rendahnya motivasi seseorang maka dapat dituliskan beberapa ciri seseorang yang mempunyai motivasi yang tinggi khususnya dalam belajar yaitu:

1) Tekun menghadapi tugas, sehingga dapat bekerja terus dalam waktu lama dan tidak pernah berhenti sebelum waktu selesai.

2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak mau putus asa) dan tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapai.

3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.

4) Lebih senang bekerja sendiri (mandiri).

5) Cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin.

6) Dapat mempertahankan pendapat yang diyakini.

7) Senang mencari dan memecahkan soal-soal (Sardiman A. M, 2007 : 82-83).

Apabila seseorang menunjukkan ciri-ciri tersebut berarti orang itu akan mudah dalam belajar sehingga akan berhasil dan mampu mempertahankan ide-idenya secara rasional.

3. Jenis Motivasi Belajar

Menurut Sardiman A. M, (2007: 89-91), ada dua macan motivasi, yaitu:

1) Motivasi Instrinsik

Motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seorang siswa melakukan kegiatan belajar karena betul-betul keinginannya sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain.

Untuk memudahkan menanamkan motivasi instrinsik dapat dilakukan melalui berbagai macam cara, antara lain:

  • Menjelaskan kepada siswa manfaat dan kegunaan bidang studi yang diajarkan, khususnya bidang studi yang biasanya tidak menarik perhatian.
  • Menunjukkan antusiasme dalam mengajarkan bidang studi yang menggunakan prosedur yang sesuai dan bervariasi.
  • Bila mungkin dari segi pengajaran, melibatkan siswa dalam sasaran yang ingin dicapai, sehingga belajar di sekolah tidak terkesan sebagai suatu kewajiban yang serba menekan.
  • Menciptakan iklim dan suasana kelas yang dapat memenuhi motivasional siswa (Winkel, 1996 : 182).

2) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar.Motivasi jenis ini adalah bentuk motivasi yang didalamnya aktivitas belajar di mulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.Walaupun motivasi ini tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, tetapi peranannya tetap penting karena kemungkinan besar siswa dinamis berubah-ubah.

Tujuan siswa yang mempunyai motivasi ekstrinsik, antara lain:

o Belajar demi memenuhi kewajiban.

o Belajar demi menghindari hukuman.

o Belajar demi memperoleh hadiah yang dijanjikan.

o Belajar demi meningkatkan gengsi sosial.

o Belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting (Winkel, 1996 : 174).

Motivasi ekstrinsik dapat ditimbulkan melalui berbagai macam cara, antara lain:

* Menggunakan berbagai intensif, dengan tujuan agar siswa mempertahankan perilaku yang tepat maupun yang bertujuan agar siswa menghentikan perilaku yang tidak tepat. Melalui pemberian hadiah, motivasi siswa dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Melalui hukuman, siswa dapat berubah sifat perilaku yang salah dan bermotivasi lebih baik. Namun hukuman ini harus tepat dan menuntut kebijaksanaan guru.

* Mengoreksi dan mengembalikan pekerjaan ulangan dan pekerjaan rumah secepat mungkin, disertai komentar khusus mengenai hasil pekerjaan siswa dalam bentuk kata-kata atau nilai.

* Menggunakan berbagai bentuk kompetisi atau persaingan dalam kegiatan belajar (Winkel, 1996 : 183).

Selain usaha-usaha di atas, guru juga dapat menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, antara lain:

1. Memberi angka

Angka sebagai simbol dari kegiatan belajar siswa.Pada dasarnya siswa melakukan belajar karena ingin mendapatkan nilai yang baik.Angka atau nilai yang baik itu bagi siswa merupakan motivasi yang kuat.

2. Hadiah

Hadiah sebagai alat motivasi. Dengan hadiah siswa akan termotivasi untuk belajar. Namun tidak selalu demikian, sebab hadiah untuk suatu pekerjaan tertentu mungkin tidak menarik bagi seorang yang tidak senang dan tidak berbakat dalam pekerjaan tersebut, maka pemberian hadiah harus tepat.

3. Saingan atau kompetisi

Saingan yang sehat digunakan untuk alat motivasi yang mendorong siswa belajar lebih giat, baik persaingan individu maupun kelompok.

4. Ego involvement

Menumbuhkan kesadaran siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai bentuk motivasi yang cukup penting. Dengan tugas itu siswa berusaha menyelesaikan untuk mencapai prestasi. Penyelesaian tugas yang baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri sehingga ia belajar giat.

5. Memberi ulangan

Para siswa akan belajar giat jika akan diadakan ulangan. Siswa akan termotivasi aktivitas belajarnya. Namun ulangan yang terlalu seringdapat membosankan siswa.

6. Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaannya, apalagi jika terjadi kemajuan akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar.

7. Pujian

Siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik perlu diberi pujian.Pujian ini sebagai reinforcement atuau penguat yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik.

8. Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negative tetapi bila diberikan secara tepat dan bijak dapat menjadi alay motivasi. Guru perlu memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.

9. Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar merupakan unsure kesengajaan untuk belajar sehingga hasilnya lebih baik.

10. Minat

Proses belajar aakn lancar jika disertai dengan minat terhadap pelajaran. Minat merupakan alat motivasi yang pokok.

11. Tujuan yang diakui

Rumusan tujuan yang diakui dan diterima murid dengan baik akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. Dengan memahami tujuan dan dirasa bermanfaat maka akan timbul gairah belajar (Sardiman A. M, 2007:91-95).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar dapat ditanamkan oleh guru dengan berbagai cara agar motivasi belajar siswa tetap dalam kondisi yang optimal sehingga tujuan proses belajar mengajar dapat tercapai.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Faktor-faktor yang perlu diketahui terutama oleh guru dimaksudkan dapat memelihara dan memperkuat motivasi serta menghindari melemahnya motivasi.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah sebagai berikut:

Ø Cita-cita atau aspirasi

Cita-cita atau aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai. Penentuan target ini tidak sama bagi semua siswa. Target ini diartikan sebagai tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang.Aspirasi dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negative. Siswa yang bersapirasi positif akan menunjukkan hasratnya untuk memperoleh keberhasilan.Sebaliknya siswa yang mempunyai aspirasi negative akan menunjukkan keinginan untuk menghindari keberhasilan.

Ø Kemampuan belajar

Dalam belajar dibutuhkan berbagai kemampuan.Kemampuan ini meliouti beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya pengamatan, perhatian, ingatan, daya pikir, dan sebagainya. Dalam kemampuan belajar ini taraf perkembangan berpikir siswa menjadi ukuran.

Ø Kondisi siswa

Kondisi siswa yang mempengaruhi motivasi belajar berkaitan dengan kondisi fisik dan psikologis. Misalnya siswa kelihatan lesu dan mengantuk mungkin disebabkan belum sarapan waktu berangkat sekolah. Guru biasanya lebih cepat melihat kondisi fisik, karena lebih jelas menunjukkan gejalanya dari pada melihat psikologis.

Ø Kondisi lingkungan

Lingkungan siswa pada umumnya meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Berarti unsur-unsur yang mendukung dan menghambat dapat berasal dari ketiga lingkungan tersebut. Agar motivasi siswa tidak hilang maka guru perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk belajar.

Ø Unsur-unsur dinamis dalam belajar

Unsur-unsur dinamis adalah unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali. Khususnya kondisi-kondisi yang bersifat kondisional, misalnya keadaan emosi siswa, gairah belajar, situasi dalam keluarga dan lain-lain.

Ø Upaya pembelajaran siswa

Upaya yang dimaksud adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara penyampaian, mengevaluasi hasil pekerjaan siswa dan lain-lain.

5. Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

Motivasi belajar siswa tidak sama kuatnya. Siswa yang motivasinya bersifat instrinsik kemampuan belajarnya lebih kuat dan tidak tergantung pada faktor di luar dirinya dari pada siswa yang motivasi belajarnya bersifat ekstrinsik.Namun dalam kenyataannya motivasi ekstrinsiklah yang lebih mendominasi pada anak-anak dan remaja. Oleh karena itu, wajar bila guru berupaya untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didiknya.

Adapun upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:

Ø Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar

Dalam upaya meningkatkan motivasi siswa, guru hendaknya berusaha menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga prinsip-prinsip belajar yang terkait dalam proses belajar berfungsi secara optimal.

Ø Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar.

Ø Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.

Ø Mengembangkan cita-cita atau aspirasi siswa.

C. Peranan MBS dalam Motivasi Belajar Siswa

Telah diuraikan secara singkat mengenai MBS dan motivasi belajar pada pembahasan sebelumnya. Berpijak dari proses karakteristik MBS dapat kita peroleh beberapa peranan MBS dalam motivasi belajar siswa sebagai berikut:

1. Dilihat dari segi sumberdaya, sumberdaya yang ada baik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran, Pembelajaran yang menggunakan lingkungan sebagai sumber bahan ajarnya akan lebih meningkatkan motivasi belajar siswa karena mereka akan mendapatkan pengalaman langsung dari lingkungan tersebut.

2. Dilihat dari Tenaga Kependidikan, Khususnya guru jika dalam memberikan pendidikan di sekolah selalu mengikuti perkembangan jaman misalnya iptek dan alat peraga maka siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat. Alat peraga sangat menunjang sekali dalam pembelajaran MBS. Adanya alat peraga ini menjadikan siswa tidak bosan selama mengikuti pembelajaran di sekolah. Siswa justru akan merasa termotivasi untuk belajar dan menemukan hal-hal baru.

3. Dilihat dari lingkungan yang aman dan tertib, Iklim belajar yang aman dan tertib akan menjadikan proses belajar mengajar berlangsung dengan nyaman dan efektif sehingga siswa yang berada didalamnya merasa nyaman dan selalu ingin belajar.

4. Dilihat dari Teamwork, Teamwork yang yang kompak antara stakeholder yang ada di sekolahakan menjadikan suasana sekolah yang dinamis dan tercipta lingkungan belajar yang kondusif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: