Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Waktu dan Cara Berpikirnya Otak

OPINI | 08 December 2010 | 05:21 Dibaca: 311   Komentar: 0   0

Banyak dari kita terkadang merasa bahwa kita sudah belajar tetapi tetap saja materi yang kita pelajari tidak cepat masuk dalam otak kita. Apalagi kalau kita sebagai pendidik yang sudah bersusah payah menyiapkan pembelajaran tetapi ketika mengajarkan pada siswa, kebanyakan siswanya tidak paham-paham, wah betapa beratnya kekecewaan yang timbul pada diri pendidik. Untuk mennghindari kekecewaan tersebut, kita sebagai pembelajar maupun pendidik harus mengetahui waktu- waktu optimal otak dalam memasukan memori.

Otak akan menyimpan memori belajar dengan cepat bila pembelajaran tersebut terjadi pada waktu yang tepat sesuai ritme kerja otak. Belajar secara bertahap dengan waktu satu jam kemudian istirahat atau di teruskan pada tengah hari selanjutnya itu lebih baik di banding dengan belajar secara instan semalam penuh untuk memborong materi yang harusnya di pelajari di hari- hari sebelumnya. Ketika seseorang sedang belajar dan merasa tidak konsentrasi lagi tandanya otak mereka ingin diistirahatkan untuk mengurangi ketegangan yang dapat merusak memorinya. Pierce Howard,tahun 1991 menyatakan bahwa secara umum para pekerja membutuhkan 5 sampai 10 menit istirahat setiap satu setengah jamnya.

Menurut peneliti J. Oakill (1998) kita melibatkan 2 tipe memori yang berbeda dalam pembelajaran yaitu literal dan inferensial. Memori lateral bersangkutan dengan fakta, angka rumus, dan cendderung dilakukan pada pagi hari. Sedangkan inferensial berkaitan dengan puisi, fiksi, percakapan dan pengintegrasian informasi baru, waktu terbaiknya yaitu di sore hari.

Dalam pembelajaran, pendidik tidak hanya perlu mengetahui waktu optimal otak untuk belajar tetapi mampu mengkondisikan mood siswa ketika pelajaran berlangsung. Sebelum pembelajaran di mulai, ajaklah siswa untuk melakukan perileksan terlebih dahulu. Misalkan bersama- sama mengangkat tangan ke depan kemudian memukul- mukulkan tangan didepan perut anda sambil berteriak huh huh huh seolah-olah sedang mengeluarkan amarah dan dan putarlah tangan kesamping kiri kanan tubuh membentuk setengah lingkaran sambil berteriak hahhahahah. Kegjatan pengrileksan tersebut bermanfaat untuk mengendurkan otak anak untuk memasukan banyak informasi baru dan mengurangi muatan otsk selama periode tegang Pada siang hari ketika mereka mulai bosan dan tidak konsentrasi, pendidik perlu membuat suasana rilek lagi seperti berhumor ataupun mengajak anak menggerakan sebagian tubuhnya, untuk mengkonsentrasikan kembali pikirannya. Penelitian menunjukan bahwa siswa dalam keadaa konsentrasi terfokus akan bekajar lebih cepat, lebih mudah dan menginget informasi lebih lama.

Siswa yang kurang tidur pada malam hari dapat mengganggu aktivitas pembelajaran pada pagi harinya karena otak mereka akan cepat lelah untuk menerima pinformasi baru. Penelitian menunjukan bahwa dengan menguranngi waktu tidur malam sebanyak 2 jam, kemampuan seseorang untuk mengingat bisa terganggu pada hari berikutnya. Perlu di ketahui bahwa tidur memberika kesempatan otak untuk mengatur kembali sirkuit- sirkuitnya, membersihkan ingatan yang tidak perlu serta memproses peristiwa emosional. Tidak mengherankan jika murid yang tidurnya cukup, pagi- paginya merasa fresh dan mudah berkonsentrasi. Jadi, semakin kompleks dan rumit materi pelajaran semakin penting fungsi tidur bagi pembelajar atau siswa.

References:

Bobi Deporter dkk. 2000. Quantum Teaching.Bandung : Mizan Pustaka

Eric Jensen. 2008. Brain Based Learning.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melukis Malam di Bawah Lansekap Cakrawala …

Dhanang Dhave | | 21 October 2014 | 13:50

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | | 21 October 2014 | 11:59

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | | 21 October 2014 | 10:02

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 4 jam lalu

Film Lucy Sebaiknya Dilarang! …

Ahmad Imam Satriya | 6 jam lalu

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 7 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 9 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-Gara Konflik, Warga NU di PPP Akan Lari …

Diskusi Gemasaba | 8 jam lalu

Jangan Tagih Janji Jokowi …

Slamet Dunia Akhira... | 8 jam lalu

Terima Kasih Pak Begawan @Boediono …

Arif L Hakim | 8 jam lalu

Satpam Internaional Asli Bule Ramaikan Pesta …

Teberatu | 8 jam lalu

Citilink Kok Nggak Ngaret Lagi Sih…? …

Sony Hartono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: