Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Aria8

Berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Hobby Baca? Mencuri!

OPINI | 25 November 2010 | 12:03 Dibaca: 243   Komentar: 15   3

129068621568533300

Foto Google:http://id88db.com/Peluang-Bisnis

Keinginan membaca menggebu-gebu ketika baru mulai belajar membaca. Sama menggebunya ketika pertama kali masuk sekolah dasar. Kalau dapat nilai sepuluh atau paling kecil delapan, pasti pamer ke ibu atau ke kakak . Namun kalau dapat nilai tujuh kebawah apalagi warna merah lima atau empat diumpeti agar tidak ketahuan. Takut di omeli atau distrap gak boleh pergi bermain-main sesuka hati.

Ritme keinginan membaca berkembang atau surut seiring dengan perjalanan waktu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ketika baru mulai lancar membaca, hasrat ingin tahu dan memperaktekkan kemampuan serta sekaligus pamer, maka semua tulisan apa saja dibaca keras-keras. Rebutan baca koran. Buku kakak dibuka-buka ,dibalik-balik dan dibaca sebisanya saja. Hanya ingin menunjukkan sudah mampu membaca! Dan dipuji pintar.

Ketika memasuki tahun keempat , sejalan bertambah banyak dan sulitnya pelajaran ,maka mulailah terseleksi siapa-siapa yang senang membaca dan yang lebih senang bermain-main. Bagi yang mampu dan disediakan buku bacaan oleh orang tuanya berupa buku cerita, maka sangat mungkin keinginan membaca itu berkembang menjadi hobby. Apalagi jika tersedia buku cerita yang lagi ngetren .

Zaman saya, buku cerita yang lagi ngetren berupa komik bergambar serial Mahabrata, Wayang Purwa, Ramayana dan banyak lagi komik pewayangan. Komik Mahabrata yang sangat menjadi paforit ketika itu karangan R.A .Kosasih. Saking paforitnya jika ada teman yang membawa serial terbaru pastilah dikerubungi dan rebutan untuk mendapat giliran pinjam. Maklum ,lebih banyak yang gak mampu beli disamping perpustakaan /taman bacaan masih belum jelas juntrungnya. Selain komik pewayangan yang juga sangat jadi rebutan adalah buku cerita silat cina karangan KHo Phing Ho dan komik Flash Gordon serta buku cerita Si Kuncung. Buku-buku tersebut merupakan salah satu stimulus untuk tumbuh dan berkembangnya hobby baca, disamping faktor dominan lainnya.

Seorang sahabat saya termasuk yang sangat hobby membaca. Banyak buku bacaan beragam jenis cerita dia miliki. Setiap serial komik Mahabrata terbit dia pasti punya. Bahkan buku bacaan yang waktu itu masih jarang beredar dan dibaca anak-anak seusia kami dia punya seperti Reader’s Digest . Karena banyak baca sahabat saya termasuk terpandai di kelas dan selalu jadi sparing patner saya untuk memacu prestasi belajar. Sosoknya pintar, penampilan rapi , ganteng dan banyak buku bacaan. Saking rapinya, setiap mau duduk pasti dialasi dulu dengan saputangan , beda dengan saya dan teman lainnya , dimana mau duduk ya duduk saja. Mau bersih, kotor gak peduli. Oleh sebab itu tidak lah heran sahabat saya itu banyak yang ngefans apalagi teman-teman wanita.

Saya yang gak pernah beli buku komik, bisanya pinjam ke sahabat tersebut. Karena sering pinjam dan kagum dia dapat buku baru terus, saya terusik ingin tahu ,lalu bertanya dimana dia beli buku-buku itu? Maklum kota kami kecil, mau ke kota besar sangat jauh . Jadi sangat minim fasilitas mendapatkan bahan bacaan. Masa itu perkembangan dunia belum sepesat sekarang ini masuk ke Indonesia, apalagi ke kota kami. Memenuhi keinginan tahu saya, maka dibuat kesepakatan pada hari Minggu kami akan pergi ke Kota.

1290686459275894621

dok.pribadi

Hari Minggu pagi pergilah kami ke kota dengan menumpang kapal ferry pengangkut pegawai perusahaan tempat orang tua kami bekerja. Sahabat saya membawa dua buah buku komik . Satu buah diberikan kepada saya. “Untuk apa ini?” Tanya saya lugu ,karena buku itu sudah pernah saya pinjam dan ludes dibaca. Sahabat saya menjelaskan :” Nanti kita baca-baca buku yang dijual pedagang diemperan toko, nah buku ini kau letakkan diatas buku baru. Selesai baca-baca , kau pergi sambil bawa buku baru dibawah buku ini! “. Mendengar penjelasan itu, saya mengangguk tanda mengerti.

Hampir satu jam perjalanan, ferry kemudian merapat di pelabuhan yang dituju. Sahabat saya membuat strategi , apa yang akan kami lakukan tidak bersama-sama tetapi berpisah ke lain lokasi /daerah kunjungan masing-masing. Titik temu ditentukan dan jam kumpul pun disepakati ketika mendekati jadwal kedatangan ferry untuk pulang.

Saya baru pertama kali itu mendatangi tempat-tempat penjualan buku-buku. Terhampar dihadapan saya buku cerita beragam topik dan jenis buku. Hati pun jadi gamang, yang mana mau dibaca. Bingung menentukan pilihan. Seperti “Rusa masuk kampung”, saya pelirak-pelirik memperhatikan para calon pembeli dan terutama penjual. Rasanya mata penjual menyorot tajam ke arah saya, sepertinya telah mengetahui maksud saya berada disitu. Pilih-pilih buku, baca selintas. Kadang-kadang hanya sekadar bertanya ke penjual ada tidak serial terbaru buku komik yang saya tau sudah pasti belum terbit. Bergaya sambil bertanya seperti benar-benar mencari buku. Kemudian berpindah dari lokasi pedagang satu ke pedagang lain, sudah gak terhitung jumlahnya. Hasil yang saya dapat ; banyak sekali judul cerita dan jenis komik yang sama sekali baru bagi saya. Saya bisa baca-baca atau lihat-lihat gambar yang sangat menarik. Selebihnya ,saya tidak mampu berbuat apa-apa, padam keberanian saya untuk melakukan seperti diarahkan sahabat saya.

Tibalah saatnya waktu titik kumpul lalu saya bergerak menuju tempat yang telah menjadi kesepakatan. Tidak berapa lama sahabat saya muncul dengan beberapa buah buku komik serial terbaru. Sahabat saya bertanya:” Kau dapat berapa?”. Dengan berat hati saya mengaku gak dapat apa-apa. Gak berani, habis yang jual matanya melotot ke saya terus”, jelas saya berargumen . “Sudah, lain kali saja”, sahabatku menimpali. Kami pun pergi minum eskrim dan sedikit makanan kecil pengganjal perut, sahabat saya yang bayar. Lakon itu tidak berulang , entahlah sahabat saya apa masih melakukannya. Namun , suatu yang hebat, kami sama-sama tidak berkembang menjadi pencuri-pencuri atau berperilaku seperti yang lagi top kisah “GAYUS”. Sahabat saya menjadi Dokter Spesialis Anak yang hebat di kota kampung halaman kami.

Ketika berjumpa beberapa bulan yang lalu di tempat yang sama kami berdiri saat-saat menunggu ferry jemputan, sahabat saya bercerita sambil kami bernostalgia. Kenangan masa lalu seperti baru kemarin kami lalui. Kami berdua bersyukur atas Karunia Tuhan YME. Kami berdua sesama teman “SD” yang beruntung mampu melewati kerasnya persaingan menempuh perjalanan hidup. Teman lain ketika sekelas “SD” rata-rata air ,bahkan lebih banyak yang tenggelam tidak mampu kejenjang yang lebih tinggi. Kami berdua tertawa terbahak-bahak mengenang terpaksa “menilep/mencuri buku” demi hobby baca,demi ingin tambah ilmu. Bersyukur pula kelakuan dan pikiran licik masa kanak-kanak tidak terbawa terus,namun tergerus hanyut hilang oleh massa pertumbuhan menjadi dewasa dilingkungan yang sangat mendukung. Saya sendiri bisa menembus sekolah dengan biaya Negara selepas sekolah lanjutan atas. Hobby yang perlu dipupuk terus, hanya kelakuan yang perlu dirubah.

Tags: Humaniora

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 9 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 11 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 12 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 13 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 10 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 10 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 10 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 11 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: