Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Hernawan Khotibul Umam

Alumni IKIP PGRI Semarang angkatan 2002. Sekarang mengajar di SMA Negeri 1 Batang Kawa, Lamandau, selengkapnya

Mengajak Siswa Memahami Wawasan Wiyatamandala Melalui Permainan

OPINI | 13 November 2010 | 09:59 Dibaca: 3259   Komentar: 0   0

Seiring dengan semangat penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), kepala sekolah dan guru harus mandiri dalam pengelolaan sekolah. Kemandirian di sini berarti kewenangan mengatur, mengarahkan dan membuat program sekolah. Tidak seperti era sentralisasi yang mengatur segala hal dari konsep sampai ke teknis. Contoh kecil, program penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) bagi siswa sekolah lanjutan (SLTP dan SLTA). Pemerintah mengatur dan menyiapkan konsep sampai teknis men-detail seperti materi penataran. Era sekarang ini sekolah lah yang harus merencanakan dan melaksanakan program yang serupa.

Materi yang wajib disampaikan kepada siswa minimal Wawasan Wiyatamandala. Tujuannya agar siswa dapat berperan aktif dalam meningkatkan fungsi sekolah sebagai lingkungan pendidikan. Tilikan ringan arti Wawasan Wiyatamandala, merupakan cara pandang kalangan pendidikan pada umumnya dan perangkat atau warga sekolah pada khususnya tentang keberadaan sekolah sebagai pengemban tugas pendidikan di tengah lingkungan masyarakat yang membutuhkan pendidikan. Oleh karena itu, Wawasan Wiyatamandala mempunyai makna yang sangat dalam dan strategis.

Tugas penyelenggaraan pendidikan tidak mungkin sepenuhnya menjadi tanggung jawab satuan pendidikan (baca: sekolah). Sekolah dan masyarakat atau pranata pendidikan dan pranata-pranata sosial yang lain harus saling menghargai dan menjalin hubungan yang harmonis karena diantaranya terdapat korelasi saling membutuhkan dan mempengaruhi. Elemen yang berkorelasi paling dekat dan langsung adalah sekolah dengan siswa.

Berkaca dari pengalaman saya mengadakan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS), menghadapi siswa baru yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan baru. Perlu pendekatan yang dapat dijangkau mereka akan konsepsi Wawasan Wiayatamandala berikut materi-materi penjelas. Semisal tata krama siswa dan program serta cara belajar. Pendekatan yang dapat dipilih yakni melalui permainan disertai bahan diskusi.

Dengan kerendahan hati, saya adopsi dan adaptasi permainan yang terdapat dalam buku “Terbang dengan Dua Sayap Sukses Pelatihan Budi Pekerti” (Grasindo, 2001). Menyesuaikan tahapan pemahaman siswa, saya memilih permainan yang bernama “Bahasa Foto”. Nilai yang terkandung di dalamnya berupa pengenalan diri dan minat. Harapannya, siswa memiliki proyeksi diri berupa gambaran cita-cita.

Peralatan yang diperlukan dalam menerapkan permainan ini sangat sederhana. Berupa foto-foto atau potongan gambar dari koran/majalah yang dapat diidentifikasikan dengan diri (bisa berupa foto artis, atlet, tokoh nasional/dunia, atau orang-orang sukses di bidangnya). Semua foto diletakkan di atas meja. Sedangkan batasan waktunya 15-20 menit.

Beranjak ke tahapan langkah-langkah permainan ini, pertama, peserta didik membentuk kelompok yang beranggotakan empat sampai lima orang (disesuaikan dengan jumlah siswa); kedua, foto-foto yang disiapkan diletakkan di atas meja; ketiga, peserta didik diminta untuk memilih satu foto yang ada di atas meja yang dapat mengidentifikasikan dirinya selama tiga sampai lima menit (dikerjakan dalam suasana tenang); keempat, jika sudah memilih, peserta didik masuk dalam kelompok. Setiap orang menunjukkan foto yang telah mereka pilih itu kemudian dihubungkan dengan pribadi mereka; dan kelima, setelah selesai peserta didik kembali ke kelompok.

Di akhir permainan, pemandu melemparkan pertanyaan reflektif. Misalnya fakta selama peserta didik memilih foto yang dikehendaki. Pemandu dapat menanyakan kesulitan apa yang peserta didik alami, bisa juga apakah peserta didik mengalami kebingungan menentukan pilihan. Mengenai nilai yang terkandung dari permainan ini bagaimana siswa mengungkapkan konsepnya sendiri akan proyeksi masa depan dengan memilih foto sosok idamannya. Bisa juga ditambahkan deskripsi tentang sosok idaman pilihan siswa (pilih beberapa saja). Misalnya seorang siswa memilih foto Sherina Munaf, pemandu meminta alasan mengapa ia memilih foto itu. Selanjutnya dihubungkan dengan pribadi si siswa dan usaha apa yang harus dilakukannya agar mencapai cita-cita seperti Sherina Munaf.

Sekali lagi, pengalaman ini tidak bermaksud menggurui. Semoga bermanfaat. Selamat menjalankan tugas kepada seluruh guru di Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Kapitalisasi Pendidikan …

Mokhsa Imanahatu | 7 jam lalu

Love Is Blind? …

Hanifah Khairunnisa | 7 jam lalu

Akhir Pekan di Pemakaman …

Hari Akbar Muharam ... | 8 jam lalu

Serunya Wisata Naik Lori! …

Aryanto Wijaya | 8 jam lalu

Sofyan-JK; Who Is The Real President? …

Edy Mulyadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: