Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Meidah Tri Nuraeni

sedang belajar di Pondokgebangsari

Seni dan Kreativitas Estetis

OPINI | 26 October 2010 | 10:34 Dibaca: 242   Komentar: 0   0

Banyak dari mahasiswa transfer yang sudah wiyata bhakti di SD. Sebagian besar dari mereka kalau ditanya “Ngajar apa Bu di SD?” Jawabannya kebanyakan “SBK”. Walaupun ada sebagian yang sudah menjadi guru kelas, tapi kebanyakan mereka mengajar mapel SBK (Seni Budaya dan Ketrampilan)? Mengapa demikian? Mengapa harus SBK?

Setelah ditelusuri, rupanya banyak guru SD yang menganggap bahwa SBK itu susah, Banyak juga yang menganggap bahwa dirinya tidak mampu dalam bidang seni, kurang tahu tentang seni, dan ada yang mengaku tidak berjiwa seni, dan masih banyak alasan-alasan lainnya. Itulah beberapa alasan mengapa guru wiyata seringnya diberi tugas untuk mengajar seni (SBK).

Sebenarnya apa itu SENI??????

Menurut Lownfeld seni adalah proses fundamental kemanusiaan. Setiap masyarakat yang paling primitive sampai masyarakat paling modern mengekspresikan dirinya melalui seni. Sedangkan menurut Depdikbud (1983) seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaan yang bersifat indah, sehingga dapat menggerakan perasaan manusia.

Banyak sekali pengertian seni menurut pendapat para ahli, tapi disini saya hanya menuliskan dua saja. Dua saja saya sudah bingung apalagi banyak? hehehe……

Yang saya tau seni itu indah. Seni itu sesuatu yang dapat memuaskan. Seni itu unik. Seni itu menyenangkan. Dan manusia tidak dapat terhindar dari aktivitas seni, seperti berkreasi, bermain, bereksplorasi dan lain sebagainya.

Ada yang mengatakan bahwa “Dunia anak adalah dunia seni dan bermain”. Memang anak-anak cenderung lebih suka bermain dan berseni dari pada belajar dikelas yang membosankan. Kita sebagai calon guru SD sebaiknya mulai mengembangkan pembelajaran melalui kegiatan seni dan bermain. Mulailah dari sekarang menyukai seni supaya dapat bersama dengan anak belajar melalui aktivitas seni. Awalnya berusaha untuk suka (suka seni), setelah suka pasti ada usaha untuk mengenal (mengenal seni), setelah mengenal/mengetahui kemudian berlanjut untuk mengapresiasi seni, dan akhirnya akan terampil dalam seni dan mampu berkreasi.

Orang yang mampu berkreasi adalah orang yang memiliki kreativitas. Nah, Apa itu KREATIVITAS???????

Menurut Seefedelt kreativitas merupakan kekuatan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinil. Utami Munandar mengatakan kreatif sebagai kemempuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsure-unsur yang ada. Sedangkan menurut Campbel kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru, berguna, dan dapat dimengerti.

Menurut saya kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang berguna dan dapat diterima oleh masyarakat baik itu dalam bentuk yang orisinil maupun dalam bentuk kombinasi. Bagi saya kreativitas itu tidak harus muluk-muluk, tidak harus mewah, tidak harus banyak, dan tidak harus njlimet-njlimet. Kadang sesuatu yang sederhana juga dapat dikatakan sebagai hasil krativitas, selagi itu baru, orisinil, dan dapat diterima oleh masyarakat. Sebagai contoh lagunya kuburan band yang judulnya “lupa-lupa ingat”. Lagunya sederhana, syairnya juga sederhana hanya

“lupa! lupa lupa lupa! Lupa lagi syairnya…..ingat! ingat ingat ingat! Ingat lagi kuncinya……”(dan seteruanya)

Memang sepintas lagunya sederhana, syairnya hanya di ulang-ulang antara lupa dan ingat. Tapi lagu tersebut unik, baru, tidak ada yang menyamai, dan dapat diterima oleh masyarakat umum. Itulah kreativitas.

Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari bahwa anak yang nakal dan usil akan ditakuti oleh teman-temannya dan akan mendapatkan banyak teguran dari guru-guru. Padahal anak yang nakal dan usil itulah yang biasanya memiliki kreativitas yang tinggi. Banyak dari anak-anak menghabiskan waktunya untuk bermain. Dan disaat-saat bermain itulah anak dapat berkreasi. Itulah dunia anak yang penuh dengan bermain berbeda dengan duania orang dewasa.

Kreativitas akan muncul jika ada potensi dan ada dukungan/dorongan dari lingkungan sekitar baik itu dari orang tua maupun dari guru. Kreativitas membutuhkan lahan dan pengolahan agar dapat berkembang. Kita sebagai calon gurulah yang berperan cukup besar dalam mengembangkan kreativitas anak. Jangan sampai kita palah menghambat kreativitas mereka.

Banyak yang mengatakan bahwa kreativitas berhubungan erat dengan estetis. Diatas sudah dibahas tentang kreativitas, nah apa itu ESTETIS?

Menurut saya estetis adalah keindahan. Sesuatu yang indah bisa dikatakan memiliki nilai estetis. Ketika kita melihat lukisan berwarna warni, kita akan melihat keindahannya. Ketika kita mendengarkan anak kecil bernyanyi dengan suara merdu, kita akan merasakan keindahannya. Itulah estetis, sesuatu yang indah yang membuat hati kita senang. Estetis tidak hanya berupa penglihatan saja tapi juga pendengaran yang hasil akhirnya adalah perasaan senang.

Jadi kreativitas estetis menurut saya adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang berguna yang memiliki nilai keindahan dan dapat diterima oleh masyarakat baik itu dalam bentuk yang orisinil maupun dalam bentuk kombinasi.

Dari ketiganya antara seni, kreativitas, dan estetis merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Ketiganya saling melengkapi.

Dengan seni kita kreatif secara estetis…….

Sebagai calon guru marilah kita mulai mencintai seni….

SENI I LOVE U……

Semoga pada akhirnya mampu berkreatif secara estetis……

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 4 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 5 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 6 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: