Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muthiiatun Syarief

mahasiswi UIN (pend.kimia)

Kualitas SDM Indonesia Saat Ini Terancam!

OPINI | 26 October 2010 | 13:42 Dibaca: 626   Komentar: 0   0


Banyak sekali sebenarnya hal-hal yang dapat digali di bangsa ini, selain kekayaan alam juga sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dalam berbagai bidang. Hal yang harus diacungi jempol misalnya SDM Indonesia di bidang pendidikan. Walaupun banyak pernyataan bahwa Indonesia Negara yang memiliki julukan korupsi dan miskin, akan tetapi sebenarnya ada hal yang membanggakan dari Negara ini.

Jaman dahulu kala, atau semasa pasca kemerdekaan RI banyak Negara lain yang datang ke Indonesia hanya untuk belajar dan menuntut ilmu bahkan tidak sedikit tenaga pengajar yang dikirim ke luar negeri misalnya Malaysia, Singapura, dan Negara lainnya. Hal tersebut sudah hampir tidak kita temui bahkan sebaliknya justru banyak warga Negara Indonesia sudah meragukan kualitas pendidikan di Indonesia sehingga banyak pelajar ataupun mahasiswa yang mempercayai Negara Malaysia, Singapura, dan Negara lainnya sebagai wadah menuntut ilmu. Perubahan yang ada sangat signifikan atau bahkan 180 derajat hal ini dibuktikan tidak sedikit pula lembaga pendidikan khususnya non formal yang menggunakan jasa pendidik dari luar Indonesia.

Mungkin hal tersebut tidak pernah terpikirkan di benak kita sebagai warga Negara Indonesia. Mengapa hal tesebut dapat terjadi, padahal Negara Indonesia banyak sekali memiliki bibit SDM unggulan di bidang pendidikan. Hal tersebut dicontohkan dengan pembuktian pelajar Indonesia yang justru mendapatkan beberapa medali emas di ajang olimpiade internasional yang dimana pesertanya adalah Negara-negara maju di dunia. Apakah karena Indonesia lebih mementingkan politik dan perekonomianya. Sehingga seperti menganaktirikan dunia pendidikan yang justru jika di kembangkan banyak teknologi-teknologi canggih dihasilkan. Keunggulan SDM kita dibuktikan dengan Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI) tahun 2009 yang berhasil membawa dua medali perak dan satu medali perunggu dari ajang internasional Olympiad in Informatics (IOI) di Plovdiv, Bulgaria. Dimana dari empat orang yang dikirim hanya satu yang tidak membawa medali di ajang IOI. Kalau saja SDM tersebut digali lebih dalam mungkin kita dapat menghasilkan teknologi komputer terbaru. Lebih lagi di bidang Sains seperti Fisika misalnya dari lima siswa yang dikirim mengikuti ajang kompetisi fisika dunia semuanya berhasil meraih juara, dengan mempersembahkan empat medali emas dan satu medali perak. Kelima siswa tersebut adalah Christian George Emor, David Geovanni, Kevin Soedyatmiko, Muhammad Sohebul Maromi untuk medali emas, sedangkan peraih medali perak atas nama Ahmad Ataka.

Bahkan Muhammad Sohebul Maromi, siswa SMA Negeri 1 Pamekasan, Madura, ini terpilih menjadi duta Indonesia dalam Olimpiade Fisika Internasional (International Physic Olimpiade - IphO) di Kroasia, setelah menjuarai lomba fisika tingkat Asia di Taipeh, Taiwan, 24-29 April 2010. Menurut Hendra Kwee, ketua Pembina tim Olimpiade Fisika Indonesia olimpiade diikuti 376 siswa dari 82 negara. Bayangkan kehebatan pelajar Indonesia dalam bidang Fisika, dapat mengalahkan 81 Negara di dunia, hal ini harus menjadi perhatian publik bahwa Indonesia memiliki banyak bibit unggul yang dapat di eksplor untuk kemajuan bangsa. Tidak hanya Fisika saja yang patut diperhatika, Olimpiade Robot Dunia misalnya bahkan tingkat SMP, Indonesia keluar sebagai juara kedua mengirim tim bernama Creator (Ivy Icasia, Patricia Dissy, Andrea) dan tim Alpha-Rex (Billy Hocker Wistan, Fernando) sebagai juara ketiga, dimana juara pertama di raih tim White Lego dari Korea Selatan. Sungguh sangat menakjubkan bukan terbukti bahwa Indonesia bisa eksis dalam juara olimpiade tingkat internasional. Selain dari tingkat SMP, bahkan tingkat SD pun memberikan kontribusi juara dalam ajang Olimpiade Robot Indonesia walaupun hanya berada pada peringkat lima. Hal tersebut membuktikan bahwa Indonesia tidak dapat dianggap remeh dalam kualitas pendidikan. Bahkan ada salah satu master pendidikan yang sangat dikenal karena hasil yang diperoleh dan mengharumkan dunia pendidikan Indonesia yaitu Yohanes Surya.

Yohanes Surya merupakan penulis produktif untuk bidang Fisika/Matematika. Ada 68 buku sudah ditulis untuk siswa SD sampai SMA. Selain menulis buku, ia juga menulis ratusan artikel Fisika di jurnal ilmiah baik Nasional maupun Internasional. Di luar aktifitasnya, Yohanes Surya berkiprah dalam berbagai organisasi internasional sebagai Board Member of the International Physics Olympiad, dan masih banyak lagi penghargaan dalam keorganisasian. Yohanes Surya adalah guru besar Fisika dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Ia bahkan pernah menjadi Dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan, masih banyak lagi jabatan yang bisa dibanggakan. Prestasi-prestasinya sangat mengharumkan nama Bangsa dan dalam mendidik bangsa. Mengharumkan nama bangsa salah satunya dengan memperjuangkan keikutsertaan tim Fisika Indonesia pertama kali dalam Olimpiade Fisika Internasional di Amerika Serikat, dimana dalam kepemimpinannya Indonesia dapat meraih 54 medali emas, 33 perak, dan 42 perunggu dalam berbagai kejuaraan/olimpiade sains/fisika internasional. Bahkan ia memimpin Olimpiade Fisika Asia yang sangat disegani, hal yang paling membanggakan adalah berhasil meraih Absolute Winner dalam International Physics Olympiad di Singapura. Yohanes Surya hanya satu dari anak bangsa Indonesia yang membanggakan dan dapat membuang pernyataan keterpurukan bangsa Indonesia dalam hal pendidikan.

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia sepanjang hayat. Setiap manusia memerlukan pendididkan karena dengan pendidikan manusia menjadi tidak terbelakang. Begitu juga terhadap suatu bangsa, suatu bangsa yang maju adalah bangsa yang mementingkan dunia pendidikan. Karena pendidikanlah yang dapat membuat Negara menjadi maju tidak hanya berkembang. Indonesia harus mau belajar dari bangsa lain. Seperti halnya sebagian Negara di Afrika dijajah karena kurangnya sumber daya manusia terdidik, sebaliknya lihatlah Negara Jepang dimana sumber daya alamnya sangat kurang sedangkan kualitas sumber daya manusia yang tinggi sehingga Negara jepang menjadi Negara yang disegani oleh Negara-negara tetangga atau bahkan di dunia. Indonesia sudah memiliki modal besar terhadap kekayaan alam yang dimiliki tetapi kurangnya pengetahuan sehingga bangsa Indonesia baru memanfaatkan sedikit kekayaan alam yang dimiliki. Hal tersebut terjadi karena kurangnya sumber daya manusia terdidik bahkan tidak sedikit hal tersebut dimanfaatkan oleh Negara-negara yang maju untuk menggali potensi kekayaan alam di Indonesia. Seharusnya hal tersebut harus menjadi perhatian yang sangat besar bagi pemerintah agar mementingkan segmen pendidikan bangsa sehingga dapat menggali kualitas sumber daya manusia yang masih belum tergali atau mengayomi bibit unggul yang sudah dimiliki agar tidak juga dimanfaatkan oleh Negara lain atau dalam hal ini dibiayai untuk kemajuaan Negara lain tersebut.

Tidak lama lagi pasar globalisasi Asia akan dibuka, dimana setiap bangsa berhak bekerja di Negara lain se-Asia. Ketidaksiapan sumber daya manusia yang berkualitas sangat ditakutkan dapat berkompetisi di Negara lain atau bahkan Negara Indonesia sendiri. Bayangkan mungkin 2 atau beberapa tahun kedepan banyak warga Negara maju misalnya seperti Jepang, Singapura bahkan tetangga kita Malaysia datang ke Indonesia dengan bekal yang cukup sehingga memungkinkan warga Negara Maju tersebut mendominasi lapangan pekerjaan di Indonesia. Hal tersebut mungkin belum terasakan oleh kita saat ini. Sekarang saja banyak warga terdidik dalam hal ini sarjana belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Mungkin kita sebagai warga Negara Indonesia tidak menyadari banyaknya perusahaan besar di Indonesia adalah kepunyaan bangsa lain atau bisa kita lihat belum saja dimulai pasar globalisasi sudah banyak warga Negara lain seperti China, German, Jepang, Afrika, India, Malaysia, Singapura dan lainnya menetap atau bahkan membuka usaha baik besar maupun kecil di Indonesia. Apalagi jika warga asing ikut menjadi kepegawaian instansi atau perusahaan di Indonesia nanti. Kekhawatiran itu perlu dibahas karena hal tersebut mungkin saja tidak mengancam warga melainkan bangsa Indonesia itu sendiri. Tidak menutup kemungkinan bahwa kejadian 65 tahu lalu atau penjajahan terulang kembali karena kualitas manusia tidak menunjang. Di awal kita telah menyinggung bahwa kita memiliki banyak bibit unggul atau bahkan Negara Indonesia tidak luput menjuarai ajang-ajang Olimpiade Internasional dalam berbagai bidang yang kalau saja digali dapat mengubah kekhawatiran menjadi kesiapan yang matang menghadapi pasar globalisasi.

Apakah sebenarnya penghambat kualitas sumber daya manusia khususnya pendidikan adalah perekonomian. Sepertinya kalau ditinjau ulang kembali, bangsa Indonesia tidak terlalu lemah dalam ekonomi. Dilihat dari anggaran belanja Negara, bidang pendidikan mendapatkan 20 % dari anggaran tersebut. Dana tersebut juga tidak terlalu kecil karena Negara-negara lain memberikan fasilitas yang lebih dari itu. Kemanakah dana 80% tersebut. 20% dana Anggaran Pengeluaran Belanja Negara mencapai angka 209 triliun rupiah atau tepatnya adalah Rp.209.537.587.275.000,00 (dua ratus sembilan triliun lima ratus tiga puluh tujuh miliar lima ratus delapan puluh tujuh juta dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah). Cukup takjub membaca digit angka buat pendidikan tetapi yang sedikit menjadi pertanyaan apakah itu semua cukup dan apakah uang tersebut telah sampai kepada warga Negara Indonesia. Biarkanlah masing-masing kita yang menjawabnya.

Kalau seandainya cukup, lantas apakah faktor lain yang mengambat pendidikan di Indonesia. Apakah karena kurangnya perhatian pemerintah sehingga banyak warga Negara Indonesia yang kurang mementingkan pendidikan. Kalau saja kita lihat kembali tentang keramaian di pemerintahan cendrung pada dunia perpolitikan, yang tidak akan pernah habis-habisnya atau bahkan justru menghabiskan uang Negara saja. Sedangkan warga hanya menjadi penonton setia. Sehingga baik dari pemerintahan juga warga lupa akan pentingnya pendidikan. Mengapa Negara lain lebih mementingkan pendidikan dibandingkan politki atau ekonomi. Seharusnya kita semua perah memiliki pertanyaan seperti itu. Negara lain mementingkan pendidikan karena dengan pendidikan sebenarnya banyak bermunculan ide-ide berilian dalam dunia politik dan juga akan mengangkat perekonomian dengan sendirinya.

Indonesia telah memiliki sumber daya alam yang banyak terpendam, buktinya dengan kemenangan kita dalam Olimpiade baik di bidang teknologi, ilmuan dan Olahraga yang harusnya digali lebih dalam karena kalau saja para teknolog dan saintis kita diperhatikan dan dikembangkan akan banyak menimbulkan dampak positif bagi warga Negara Indonesia atau bagi bangsa Indonesia itu sendiri. Begitu juga peranan pemerintahan agar cepat dan tepat memperdulikan atau memperbaiki dunia pendidikan sebagai kesiapan bangsa menghadapi dunia. Merupakan tanggung jawab bersama terhadap kemajuan pendidikan agar setiap warga mendapatkan pekerjaan yang layak dan perekonomian bangsa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Serta kita semua siap dan tanggap menghadapi tantangan dunia serta disegani oleh semua Negara karena kualitas sumber daya alam dan insya Allah sumber daya manusia.

Muthiiatun
Jl Semanan Raya no.32, Jakarta
muthe_bem@yahoo.com
021 9960 8691

(msh/msh)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 8 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 10 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 12 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 12 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Oh…Tidak, Gas Pertamina Non-Subsidi …

Ronald Haloho | 10 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 10 jam lalu

Gol Pinalti Gerrard di Injury Time Bawa …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Mengapa Nama Tegar …

Much. Khoiri | 10 jam lalu

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: