Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Pelacuran ?

OPINI | 30 September 2010 | 02:03 via Mobile Web Dibaca: 1353   Komentar: 5   4

Pelacuran identik dengan menjual diri dan harga diri. Pelacuran sering dikaitkan dengan kepasrahan yang salah akan hidup. Seperti kehidupan masyarakat modern yang berkasta, pelacuran pun punya kelas tersendiri. Pelacuran digambarkan dengan penggadaian kemulian dan kehormatan demi upah yang tak seberapa, walaupun kata sebagian orang ada yang melakukannya sebagai kesenangan semata.

Walaupun masih dianggap tabu, dampak pelacuran semakin hari semakin luas. Ketakutan sebagian orang untuk melacur seolah sirna dengan paham bahwa perbuatan mereka pun dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Hal ini tercermin dari sebutan terhadap mereka yang kian hari semakin dijustifikasi menurut nilai kepatutan. Di beberapa daerah, tempat lokalisasi dijadikan ajang berpesta. Bahkan stasiun tv tak urung turut mendongkrak pengetahuan masyarakat, merangsang hasrat mereka untuk turut serta melakukan perbuatan tidak senonoh.
Seiring dengan perkembangan masa, pelacuran itu tidak hanya dapat kita identifikasi sebagai perlakukan asusila. Tetapi pelacuran seperti karakteristik di atas sudah semakin menjamur dalam kehidupan manusia. Tentu dengan model lain yang tak kalah merosot dari norma yang berlaku.

Melacur kini tidak hanya dilakukan oleh wanita yang suka menjajakan dirinya bagi pria hidung belang. Tetapi pelacuran sudah mulai merambah dunia pendidikan. Terbukti dari kebanyakan great oriented yang ingin diraih oleh seorang pelajar adalah menjual dirinya kepada pemerintahan atau menghambakan diri untuk uang. Mereka memiliki kesamaan misi dengan pelacur kelas jalanan; meraih harta dan kesenangan yang bersifat terbatas. Tetapi modelnya saja yang beda.

Melacur di dunia pendidikan pun bukan barang tabu lagi, ini kalau kita lihat dari kenyataan miris di lapangan. Lihat saja pelaksanaan UN yang sarat eksploitasi, berbagai kecurangan terjadi dengan dasar menjual diri, menjual harga diri dan mempertahankan gengsi. Semua dilakukan terang-terangan. Seolah hal tersebut bukan tindakan abnormal yang berefek miring pada masyarakat.

Kejahatan dalam dunia pendidikan dapat dikatakan sebagai biang segala kejahatan. Karena pada dasarnya pendidikan akan membentuk watak seseorang menuju arah lebih baik daripada sebelum ia berpendidikan. Lalu bagaimana halnya moralitas seseorang jika pada masa tranformasi menuju arah lebih baik justeru melakukan tindak kejahatan?

Secara umum, tujuan pendidikan adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan dan kepribadian manusia secara menyeluruh. Melalui persiapan jiwa dan intelektualitas disertai dengan penghayatan dan aplikasi secara lahir maupun batin. Lalu tujuan tersebut mengalama distorsi. Kebanyakan model pendidikan yang sedang berlangsung saat ini berbentuk temporary (terbatas) dan mengejar gelar akademis tertentu.

Imam Syafi’i(150-204 H) menyebutkan tidak kurang dari enam syarat untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Di antaranya adalah al-dzakā’ (intelegitas), kecerdasan ini tidak hanya berbentuk kemampuan akal dalam menerima pelajaran saja. Tetapi juga harus disesuaikan dengan kehendak ilmu untuk dipetik oleh orang lain. Baik melalui proses pembelajaran menurun ataupun melalui praktek lapangan. Karena rahasia ilmu ibarat nūr (cahaya) yang tidak bisa dipadukan dengan kedhaliman.

Namun sayangnya, hakikat tujuan pendidikan tersebut sudah sangat jauh dari realita pendidikan kita. Miringnya aspek pembelajaran ruhani di kelas-kelas formal semakin menjadikan murid lulusan pendidikan kita sebagai penjaja nafsu. Kemudian lahirlah pelacur-pelacur cerdas yang menutup borok nurani mereka dengan berbagai standar yang lemah.

Pelacuran dalam dunia pendidikan seolah tidak menempati posisi tindakan kriminal. Sementara terhadap pelacur jalanan, berbagai ungkapan miring dilayangkan. Inilah hebatnya pelacur yang memiliki gelar akademis. Ia bisa saja membenarkan perlakuannya dengan alasan yang masuk akal melalui penipuan terhadap orang-orang yang diidentikkan dengan kebodohan.

Kualitas pendidikan kita hari ini dipertanyakan. Di satu sisi, banyak sumber daya terbengkalai karena tidak sanggup membeli pasar. Sementara di sisi yang lain, dengan modal yang besar, orang dapat meraih gelar akademis yang beragam. Pendidikan persis dijadikan supermarket. Daya beli seseorang akan sangat berpengaruh, maka pendidikan akan berubah menjadi satu barang yang diperjual belikan. Tidak lagi mempunyai nilai sakral bagi kehidupan.

Ibarat pelacur, kecantikan bukanlah modal utama. Tetapi nafsu yang memegang kendali. Dengan sedikit rayuan dan keberanian untuk melanggar norma yang berlaku maka melacur akan menjadi pekerjaan yang berbuah rupiah. Tanpa memandang kerusakan yang akan ditimbulkan. Berani unjuk gigi di kalangan pasar merupakan modal utama keberhasilan suatu pekerjaan.

Sangat miris jika bangsa yang terkenal dengan sumber daya alam yang melimpah ruah harus hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu, citra masyarakat tertinggal diperkeruh oleh oknum intelektual yang suka mencuri hak rakyat. Keilmuan yang dimiliki seolah hanya diperuntukkan untuk menelikung kepercayaan rakyat. Sayangnya, bagi negara kita manusia jenis inilah yang dijadikan panutan. Telah menjadi peraturan tak tertulis, untuk mempertahankan jabatan bergengsi harus setia melakukan kejahatan-kejahatan intelektual walaupun harus mengkhianati amanah ilmu yang diperoleh.

Dekadensi moral merupakan buah dari model pendidikan Indonesia. kian hari penyakit remaja tersebut semakin akut. Ini merupakan buah dari pohon pendidikan kita, hasil rancangan peraturan yang tak memandang moralitas sebagai suatu nilai yang harus dilestarikan. Padahal pergerakan manusia tidak bisa hanya disandarkan kepada intelegitas semata. Karena masih ada aspek spritual dan emosional yang harus diseimbangkan. Ketika kita hanya fokus mengejar gelar berjenjang tanpa merancang asupan rohani dan pendidikan yang berorientasi kepada pemahaman dan pengamalan, maka akan terjadi kepincangan yang berakibat kepada perubahan paradigma pendidikan bagi masyarakat. Karena gelar kecerdasan dilihat dari sejauh mana titel yang sudah diraih, bukan sejauh mana pemahaman dan pengamalan dilakukan.

Menjadikan pengetahuan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi personal dan lingkungan merupakan asas utama menuntut ilmu. Tidak sebagai ajang meraih gengsi atau popularitas semata. Di antara hakikat memiliki ilmu adalah terjaganya kita dari cemeohan dan beban manusiawi. Ilmu yang akan menjaga kita dalam kehidupan dunia/akhirat (imam Ali ra.). lalu kemana arah pendidikan kita, jika sejak usia dini mereka sudah diajarkan untuk melacur?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 7 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 11 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 11 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 12 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: