Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Priyantarno Muhammad

abdi negara yang mencoba bepikir sederhana demi kebaikan negara

Menyoal Tentang Test Keperawanan

OPINI | 29 September 2010 | 13:18 Dibaca: 286   Komentar: 9   0

Akhir-akhir ini beberapa media ada yang me,beritakan tentang test keperawanan,saya sendiri sempat kaget mendengarnya,ide gila dari mana lagi ini, tapi setelah mendengar penjelasan dari anggota DPRD jambi lewat sebuah wawancara, saya sedikit mengerti jalan pemikirannya, ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya.

Pertama perlu dicatat bahwa ini bukan ide DPRD jambi tapi baru sebatas oknum DPRD jambi, ide ini dilandasi karena pergaulan bebas yang kian marak dikalangan remaja kita.

Kedua test keperawanan ini bukanlah test fisik, tapi lebih kepada psikotest tentang sejauh mana pergaulan mereka selama ini, hasil test ini juga sebenanrnya mengandung test tentang kepribadian remaja yang bersangkutan.Hasil test ini tertutup bahkan tidak diberitahukan kepada orang tua/wali remaja tersebut apabila yang bersangkutan tidak ingin hasil test ini ketahuan.

Melalui hasil test ini, sekolah berusaha mendekati para murid tersebut menjadi teman mereka, tempat berbagi, karena remaja sangat mudah depresi dan sangat membutuhkan tempat berbagi.

Perlu diingat bahwa keperawanan hilang bisa juga karena aktivitas, disamping itu karena hubungan suka sama suka, namun bisa juga terjadi karena pemerkosaan, bahkan mungkin ada yang tertekan karena di tipu mantan :)

tekanan-tekanan semacam itu membutuhkan tempat berbagi yang dapat menyelesaikan masalah, bagi remaja mau ngomong ke orang tua mungkin takut, ngomong ke sahabat, sama saja kurang pengalaman, maka jalan yang bisa efektif adalah ke guru konsulingnya, selain bisa jadi tempat curhat juga punya solusi.

Saya pikir pemikiran seperti ini demi kebaikan bersama, tidak lah elok kita menghina pemikiran yang bertujuan baik dengan menggagapnya tidak masuk akal dan bodoh sebelum lebih memahaminya secara lanjut

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Plus Minus kalau Birokrat yang Jadi …

Shendy Adam | | 02 September 2014 | 10:03

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: