Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Muhammad Zaki

Jangan biarkan dirimu menderita dua penyakit. Pertama rabun membaca dan kedua lumpuh menulis. Ingatlah selalu selengkapnya

Karya Sastra Integrasi dan Instrumental

OPINI | 01 September 2010 | 15:20 Dibaca: 206   Komentar: 2   1

Salut kepada para pemikir pada zaman sekarang yang menuangkan idenya kepada tulisan, khususnya yang terlihat mata secara jelas. banyak karya-karya baik itu puisi, esai, atau karya sastra yang lainnya. hal itu menjadi lebih cepat tersebar dengan adanya situs2 jejaring social seperti facebook katakanlah, yang dari setiap penggunanya bisa melihat dengan mudahnya postingan-postingan hasil karya yang ditulis oleh seseorang yang dipublish di facebook.

Namun kemudian saya sendiri menyadari dan menjadi bertanya ketika apa yang ditulis tidak sebegitu terintegrasi dengan baik kepada masyarakat. saya cenderung takut dengan apa yang saya tulis sendiri, apa hasil karya yang aku tulis ini mempengaruhi dan memberikan wacana baru bagi masyarakat sekitar?! pertanyaan tersebut selalu membayangi, saya berharap pertanyaan ini juga selalu tertanam kepada orang-orang yang senang akan dunia tulis menulis.

Kembali jauh kepada ajaran plato dengan pemikirannya dalam buku republic secara tidak langsung menyatakan bahwa karya sastra itu adalah tiruan dari realitas yang berupa tiruan ide Akibatnya, sastra jauh dari kebenaran. Permasalahan muncul ketika wujud tiruan dari dunia ide itu berbenturan dengan kebenaran. Akan tetapi dalam suatu karya tersebut bila dilihat dan dianalisis secara mendalam akan ditemukan pesan dan moral yang ditujukan penulis, dan yang jelas dengan pengidentifikasian dari penulis tersebut.

Hal apakah yang anda pikirkan ketika anda akan menulis sebuah karya tulis?! Apakah anda hanya ingin mempunyai nama dalam kehidupan sehari-hari, dilembaga ada bernaung, hanya ingin menunjukan keeksential atau itu memang kesukaan anda dengan dunia tulis menulis. Lalu apa yang akan anda tulis ?! kebanyakan seseorang menulis sebuah karya itu karena adanya kejadian atau hal-hal yang membuat dia ingin menuliskan apa yang ia pikirkan, baik itu sebuah penyangkalan atau hanya menambahkan. Dan tidak mungkin seseorang itu menulis apa yang dia tidak ketahui sebelumnya. Memang benarkan apa yang dikatakan oleh Plato, bahwa karya seni itu ialah wujud dari realitas atau ide yang ada. Hal inilah yang kemudian hari melahirkan mimesisnya plato.

Sekarang ini memang banyak sekali karya-karya yang begitu memikat mata tapi tidak sedikit juga yang tidak memikat hati. Soedjatmoko mengakui adanya “suatu krisis dalam kesusastraan kita”. Di dalam tulisan yang merupakan “Pengantar” untuk edisi perdana majalah Konfrontasi, Juli-Agustus 1954, Soedjatmoko mengakui bahwa “banyak ciptaan yang memang berjasa serta adanya kelancaran dalam bahasa yang dipakai. Akan tetapi, ciptaan-ciptaan kesusastraan yang lebih besar masih saja ditunggu kehadirannya.”

Kutipan diatas mengisyaratkan kepada kita bahwa diindonesia kesusatraan di Indonesia memang mengalami kemajuan secara kualitas, akan tetapi dalam kemajuan tersebut ternyata menimbulkan pertanyaan besar yang harus direnungkan oleh para penulis muda zaman sekarang. Apakah dari kualitas tersebut sama dengan kuantitas yang dihadirkan karya tersebut. Hal itulah yang membuat saya merasa takut dan selalu berpikir “memang benar apa yang saya lihat sekarang sebuah tulisan itu hanya sebatas nalar indera” termasuk saya sendiri. Dan kalau boleh saya sebut itu adalah karya sastra yang instrumental. Sementara disisi lainnya ada karya sastra yang terintergrasi, yang selalu menawarkan hal-hal yang berbau nalar dunia.

Lalu apakah yang dimaksud dengan karya sastra yang terintegrasi itu?! Sebagai orang yang pernah mempelajari tentang kritik sastra, saya sangat meyetujui sekali dengan pahamnya karl marx(marxisme klasik) yang menyatakan bahwa karya sastra yang dianggap baik adalah yang mampu menampilkan realitas perjuangan kelas proletar, misalnya Oliver Twist karya Charles Dickens atau ‘Ballad of Birmingham’-nya Dudley Randall, bahkan sebaiknya bisa menggerakkan penikmatnya utuk melakukan gerakan perlawanan seperti Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe. Dengan kata lain sebuah karya itu hendaknya lahir dari pemikiran-pemikiran yang menyatakan ketidak puasan keadilan yang terjadi dilingkungan sekitar, baik itu pengalaman pribadi, masyarakat, Negara atau mungkin dunia. Sehingga dalam penulisanna nanti akan mewarnai perjuangan untuk masyarakat yang dituju tentunya dengan pesan dan moral yang ada dalam karya itu. Dengan begitu masyarakat akan mengerti dan sangat terbantu dengan adanya karya itu. Itulah yang saya maksud dengan karya sastra yang terintegrais. Tidak hanya untuk diri sendiri melainkan untuk orang banyak. Pandangannya yang luas terhadap realitas menandakan bahwa seseorang itu menulis dengan ranah nalar dunia.

Disisi lain hadir juga karya sastra yang instrumental, secara garis besar karya sastra ini kebalikannya dari karya sastra yang terintegrasi diatas. Sebatas apa yang dilihat lalu menuangkanya pada tulisan dengan teks yang indah hanya sebatas nalar indera. Memang benar kita mengenal tentang teori nihilisme yang mungkin hadir dalam satra tapi dalam kenyataanya tidak. Meskipun demikian seperti yang ditulis diatas bahwa dalam suatu sastra itu pasti ada seseuatu yang ingin disampaikan penulis.

Pada akhirnya yang harus menentukan langkah dan untuk memutar balikan lagi kualitas menjadi kuantitas adalah diri kita sendiri, dengan pengetahuan yang luas dan kritis dalam berpikir akan menjadi tiang utama sebelum menulis sebuah karya. dan mungkin itu juga sebabnya teori dan kritik tentang sastra perlu dipelajari. Selain menjadi kendaraan kita untuk mengarungi bahtera sastra-sastra yang ada didunia, hal itu berguna juga untuk menjadi panutan kita dalam menulis sebuah karya sastra.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 15 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 15 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 16 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | 10 jam lalu

[Cerbung] Cygnus #1 …

Lizz | 11 jam lalu

Transformasi UU Perkawinan, Menuju Pengakuan …

Ferril Irham Muzaki | 11 jam lalu

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | 11 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: