Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Mia Saputra

Demi menghemat kertas, maka ku pilih kompasiana untuk mencurahkan isi pikiran dan hatiku...

Ayo Bangun Karakter Anak Bangsa

OPINI | 15 July 2010 | 13:23 Dibaca: 264   Komentar: 6   2

Ihh, ngeri…berita di televisi terlalu sering menampilkan anarkis anak bangsa. Tidak hanya anak bangsa, bapak bangsa pun sering berbuat tidak pantas (berkelahi saat sidang, dll). Kenapa ya, ini bisa terjadi? Katanya Indonesia negara timur yang menjunjung tinggi kesantunan, yaach pokoknya adat ketimuran yang Adi Luhung dan luhur.

Hiks…bila melihat tontonan berita setiap hari, hati ini miris. Terus terang saya khawatir, inikah calon pemimpin bangsa ke depan. Kalau saya sudah tua, dan orang-orang tua sudah sangat tua, maka negeri ini akan dipimpin para pemuda. Ahh betapa tidak inginnya saya hidup terlalu lama, jika pemuda anarkis menjadi pemimpin bangsa. Semoga… hanyalah pemuda yang baik, amanah, berbudi luhur, halus bahasanya, pokoknya yang baik-baik di mata Alloh lah yang nantinya menjadi pemimpin. Amien.

Bagaimana ya, caranya agar anak bangsa tidak terperosok semakin dalam dalam kekacauan? Dari pelatihan yang pernah saya ikuti, ada yang bilang “Ayo bangun karakter bangsa”. Apa sih maksudnya? Kata pelatih begini: anak didik dalam hal ini pemuda calon penerus bangsa, kita didik agar mampu menunjukkan nilai-nilai luhur pancasila, berhati baik, berpikir baik, berperilaku baik, beribadah dengan baik pula. Nah, lalu bagaimana cara agar anak bangsa memiliki karakter baik? Pertama, kita nih, sebagai orang tua agar selalu mengingatkan, mengarahkan, menasihati, para pemuda atau anak didik agar memperbaiki sikap yang kurang/tidak baik menjadi lebih baik/baik. Lalu yang sudah baik? Ya tentu saja kita kuatkan agar karakter anak baik ini semakin kuat. Eh, jaman sekarang lebih banyak yang baik atau sebaliknya ya? he he he…

Cara kedua adalah penyaringan budaya. Ayolah kita mulai menyaring hal-hal yang pantas dan tidak pantas. Manusia kan diberi akal dan rasa. Tentu bisa membedakan hal baik dengan yang tidak baik. Kita bisa memulai dari rumah kita. Coba alihkan kegiatan anak-anak kita dengan memberi kesibukan yang lebih berarti daripada hanya menonton televisi. Maaf ya, tidak semua acara televisi itu jelek, tapi kan orang tua tidak bisa seratus persen mendampingi. Jadi ya..batasilah jam menonton televisi. Lalu waktu si anak kita ganti dengan kegiatan membuat karya yang lebih kreatif. Kita bisa lho mengajari anak kita membuat roket air, atau pesawat dari kertas yang diterbangkan dengan karet. Atau mengajak mereka belajar menulis, membaca buku cerita, atau belajar menyanyi lagu kebangsaan. Eh yang terakhir ini mungkin agak aneh dibaca, tapi jujur lho, anak saya suka banget nyanyi lagu nasional. Sampai-sampai dia beli buku lagu kebangsaan. Dia juga suka membaca peta, mencari-cari pulau kawannya yang kebetulan berasal dari luar pulau jawa. He he he…alhamdulillah, anak saya sudah mulai mencintai negaranya.

Awal atau memulai kebiasaan baik itu sulit. Tapi kalau sudah biasa akan terasa nikmat dan tidak berat. Semua hal baik itu mudah dilakukan. ORang tua adalah contoh nyata untuk anak-anaknya. Saya pernah mengikutkan anak saya dalam menjawab kuis dari majalah MOMBI. Dia harus menjawab pertanyaan setelah membaca paragraf di majalah itu. Dia saya minta membaca dan menjawabnya. Awalnya dia memaksa saya untuk menjawab sendiri. Ya ogah lah… Kalau mau ya jawab sendiri, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Mendengar perkataan saya, dia meninggalkan majalahnya dan sibuk di depan televisi. Wah bisa gawat, pikir saya. Saya pun mendekati dia, dan menunjukkan hadiah yang akan dia dapat jika dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Kebetulan, hadiahnya adalah ensiklopedi dinosaurus. Dia suka banget dengan dinosaurus. Saya beri semangat dan semangat, tentu saja sedikit mengganggu acara televisi yang dia tonton. Akhirnya, dia mau juga kembali pada bacaan tadi. Alhamdulillah, dia bisa menjawab dengan baik. Jawaban itu harus ditulis di kartu pos. Wah…ini nih, harus kita bangkitkan kreasi anak. Saya pun mengambil kotak susu bendera yang sudah kosong. Saya potong persegi, seukuran kartu pos. Anak saya bertanya, “Mah, untuk apa sih? Kan disuruh nulis di kartu pos. kok malah nggunting kotak susu.” Saya cuekin dia. Saya membuat kartu pos dari kotak susu tersebut. Dan, saya minta anak saya untuk menuliskan jawaban di kartu yang sudah saya buat.

Dia protes, karena kartunya jelek. Lebih baik beli saja di Mirota atau kantor pos, tentu lebih bagus. Saya jelaskan pada dia bahwa buatan sendiri lebih indah dari pada membeli. Dia masih protes dan protes. Meski begitu dia tetap mau menuliskan jawaban itu di lembar yang saya buat.

Sebulan kemudian, ada sms dari seseorang yang menyatakan anak saya mendapat bingkisan dari MOMBI. Wah, ini nih hasilnya. Alhamdulillah…semua jerih payah anak saya ada hasilnya.

Cerita di atas adalah salah satu cara saya mengajak anak untuk bersikap baik pada lingkungan, dan mengajarkan kreativitas pada dirinya. Saya berusaha membentuk karakter sejak dini agar ke depan tidak repot. Memang lelah sih, apalagi kalau memikirkan pekerjaan rumah dan kantor yang tidak pernah habis. Tapi buat saya, anak adalah amanah yang paling penting. Dia adalah surga saya.

bersambung….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | | 23 September 2014 | 22:43

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | | 24 September 2014 | 00:37

Banyak Laki- laki Indonesia Jadi Ayah Gagal …

Seneng Utami | | 24 September 2014 | 04:45

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Strategi Perang Lawan ISIS Ala SBY …

Solehuddin Dori | 3 jam lalu

KPI Tegur Tom and Jerry, GGS Gimana? …

Samandayu | 3 jam lalu

Anggap Remeh …

Ifani | 4 jam lalu

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 6 jam lalu

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Air Kehidupan Bangsa Ramsun # 1 (Bangsa …

Abu Daffa M Budiawa... | 7 jam lalu

Seberapa Penting Sistem Pengajuan Harga …

Wawandowski | 7 jam lalu

Tulisan Dibalik Sepotong Keramik …

Agus Syaifuddin | 7 jam lalu

SABAR itu Ilmu Tingkat Tinggi …

Eko Junaidi Salam | 7 jam lalu

Perlunya Pencabutan Hak Politik Bagi …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: