Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rahmatul Ummah As Saury

Ingin menikmati kebebasan yang damai dan menyejukkan, keberagaman yang indah, mendamba komunitas yang tak melulu selengkapnya

Mahasiswiku Cantik Sekali

OPINI | 17 June 2010 | 02:53 Dibaca: 1592   Komentar: 20   3

“Kelas ini, hanyalah ruang formal yang tak boleh membatasi kita untuk share pengetahuan, jadi kapan saja dan di mana saja kita bisa berdiskusi dan berbagi ilmu.” Itulah kalimat penutup kali pertama saya menjadi staf pengajar di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Metro - Lampung. Dengan tak lupa meninggalkan nomer handphone dan alamat rumah saya.

Aku berharap tak ada rasa sungkan dari para mahasiswa-mahasiswi untuk mengajakku berdiskusi kapan saja, sehingga mereka tidak hanya menghapal teori-teori pengetahuan sebagai tuntutan akademik, tetapi juga tercerahkan sehingga mereka mampu menjadi ‘intelektual organik’ atau ‘raushan fikr’ yang memiliki tanggungjawab penuh terhadap peradaban bangsa dan masyarakatnya. Begitulah idealnya aku sebagai staf pengajar!

Namun, diam-diam aku juga berharap mahasiswi-mahasiswi cantik yang membuatku betah berlama-lama di kelas itulah yang menghubungiku. Walaupun aku juga tidak tahu tujuannya apa.

Sebulan, dua bulan, tak ada nomer baru yang masuk ke HP-ku. Baru bulan ketiga, setelah aku memberikan tugas kelompok untuk membuat makalah bahan diskusi, baru ada mahasiswa yang menelponku. Meminta keringanan agar referensinya bisa satu buku, dari minimal lima buku yang aku wajibkan.

Pada saat aku masuk kelas, sebelum kuliah dimulai, yang menelpon tadi menghampiriku dan menyerahkan makalah yang telah selesai dikerjakan. Alamak, betapa kagetnya aku setelah membaca makalah yang hanya mengetik ulang isi buku itu. Jika kerangka dasar makalah itu di ambil dari satu buku yang kemudian diperkuat dengan fakta lapangan dan hasil analisis mungkin tak masalah, tapi kalo menyalin tulisan?

Duh, ingin sekali menceramahi para mahasiswa/wi ini berjam-jam. Tapi sudahlah, mungkin mereka memang harus dibimbing pelan-pelan, akupun menawarkan diri untuk menjadi tempat bertanya yang baik, jika ada kesulitan dalam pembuatan makalah, bukan hanya untuk mata kuliah yang aku pegang, tapi untuk makalah apa saja.

Iseng-iseng pikiranku berharap, siapa tahu mahasiswi-mahasiswi itulah yang sering berkonsultasi. Sekali lagi aku juga tahu sebenarnya kenapa ada harapan-harapan seperti itu, karena aku sama sekali tak berniat selingkuh.

Purnama dipinta terang didapat, sebuah pesan pendek (SMS) masuk di inbox. “Selamat sore pak, lagi ngapain. Ganggu gak nih?” Segera ku balas, karena aku yakin itu pasti dari mahasiswa/wiku, karena seumur-umur belum ada yang memanggil aku Bapak, selain dari para mahasiswa-mahasiswi itu. “Sore, Maaf ini siapa, saya santai saja kok, jadi gak ganggu.” Begitulah kira balasan smsku. Lama tak dibalas.

Menjelang tidur, aku baru lihat HP-ku ternyata ada satu pesan yang belum dibaca, “saya siapa ya? Yang jelas saya fans bapak loh..” Halah, kalo sms nyasar seperti ini sudah terlalu sering. Aku tak berminat menanggapinya.

Beberapa hari kemudian, HP-ku berdering, sebuah suara perempuan. “Maaf, ini siapa?”
“Saya mahasiswi bapak, saya Retno.”
“Oh, iya Retno, ada apa?”
“Saya mau konsultasi pak, tapi jika boleh tidak di rumah, kalau bapak tidak keberatan, saya ingin bertemu bapak di dekat Lapangan Samber.”
“Tentu saja saya tidak keberatan, tapi kenapa tidak di rumah saja, dan mau konsultasi tentang apa?”
“Nanti saya jelaskan di sana saja pak, saya tunggu sore sehabis ashat ya pak.”

Pembicaraan terputus, saya bingung kenapa Retno (mahasiswi tercantik di kelasku mengajar, menurutku tentunya) tak mau datang ke rumahku.

Sabtu sore itu, aku akhirnya memenuhi janji menemui Retno di Warung Bakso TJ, dekat Lapangan Samber, tak ada rasa was-was dan pikiran aneh-aneh. Dan aku percaya, Retno memang memiliki niat dan tujuan untuk berkonsultasi, walaupun masa pembuatan makalah telah berlalu.

Aku hanya memesan satu teh botol, sambil menunggu Retno menghabiskan baksonya, aku membuka obrolan sore itu. “Kenapa gak di rumah saja, bisa ku kenalkan kepada istriku.”
“Nggak enaklah pak, nanti istri bapak malah marah, istri pasti cantik!”
“Loh? Kenapa harus marah? Istriku sudah terbiasa dengan rutinitasku, dan lagi bukan hanya Retno mahasiswi yang datang ke rumah.”
“Istri bapak cantik khan?” Retno mengulang pertanyaannya yang sengaja tak ku jawab.
“Pasti cantiklah, kalo aku bilang jelek, aneh juga khan kalo aku mau menikahi orang yang menurutku jelek?”

Retno terdiam, mungkin kehabisan bahan untuk melanjutkan berdiskusi tentang istriku. Aku mencoba memecah kebuntuan itu. “Retno, ada kesulitan di mata kuliah yang saya ajarkan?”

“Sebenarnya, saya tidak mau konsultasi tentang kuliah pak, saya sebenarnya hanya ingin curhat, tentang cowok saya.”

“Cowok saya meninggalkan saya tanpa jejak pak, saya tak tahu harus cerita ke siapa.” Retno Melanjutkan.

Mengalirlah cerita satu arah pada sore itu, aku hanya memosisikan diri sebagai pendengar yang baik, aku tak tahu apa maksud memilihku sebagai tempat curhatnya. Tapi aku senang.

Semakin lama komunikasi antara aku dan Retno semakin lancar, terlalu sering dia sms dalam sehari, sehingga aku tak sempat menghitungnya. Lama-lama aku takut istriku cemburu, aku tak ingin dia tersakiti hanya karena hubungan yang tak jelas itu. Tak jelas, karena isi sms-sms itu sama sekali tak penting, tak ada hubungannya dengan pencerahan!!

Retno jatuh cinta, begitulah pengakuannya. Jelas aku senang dan bangga, Bapak yang sudah memiliki anak satu (dulu anakku masih satu) ini masih menarik di mata mahasiswi muda yang cantik. Yah, aku senang, walaupun aku tak mengerti arti senangku kali ini.

Menangkap signal tak baik dari hubungan itu, harus dihentikan. Begitulah tekadku, karena aku tak ingin mengkhianati istriku walaupun itu hanya dalam niat dan pikiran. Aku memutuskan berhenti mengajar, dan mengganti sim card ku..

Retno, terimakasih kamu telah memberi warna aneh dalam hidupku. Sebuah kisah yang hingga kini sering membuatku tersenyum. Dan untuk istriku, percayalah kesetiaanku itu tak akan pernah terukur dengan sikap dan kata-kata. Maka selamilah dia dengan segenap perasaan terlembut. I Love You.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 6 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 8 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 9 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 12 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Dunia Intuisi …

Fawwaz Ibrahim | 7 jam lalu

Presiden Baru, Harapan Baru …

Eka Putra | 7 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 7 jam lalu

Jokowi Sebuah Harapan Baru? …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Potret Utang Luar Negeri Indonesia …

Roby Rushandie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: