Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Rendy Aditya

Rendy Aditya, anak tengah.. lahir 26 desember 1985.. terpaksa menulis tanggal lahir di setiap data selengkapnya

Positif + Positif = Negatif

OPINI | 11 April 2010 | 00:06 Dibaca: 389   Komentar: 42   1

Terinspirasi oleh sebuah nasehat yang saya terima tadi pagi dari seorang sahabat dekat, yang mungkin sudah terlalu sering saya dapat..

“Apapun yang berlebihan, tidak pernah lebih baik hasilnya..”

Yang diutarakan kepada saya pada sebuah kesempatan, demi melihat saya yang berkerja mengejar proyek, sambil kuliah, dan mengurus organisasi nirlaba secara membabi buta..

Memaksa saya merenung, bukankah semua yang saya lakukan ini untuk tujuan positif, bagaimana bisa sebuah hal positif, ditambahkan hal positif, dan ditambahkan lagi oleh hal positif menjadi sesuatu yang negatif? Bukankah logika matematikanya seperti ini:

(+) + (+) + (+) = (+)

Dasar memang aneh, ketimbang mencari solusi dan mengambil manfaat dari nasehat teman saya, saya malah lebih tertarik mengulik + dan -, alias positif, dan negatif, alias plus dan minus, alias aditif dan substraktif..

- maaf teman, susah mengubah kebiasaan, lumayan nasehatmu berbuah karya –

Saya bukan penggemar matematika, otak saya sulit mencerna angka, karena itu cinta saya jatuh pada aksara.. bahkan berusaha menjelaskan tanda matematika kurang (-) dan tambah (+) saja saya tidak kuasa..

Karena itu ambisi memahami kedua tanda ini, saya alihkan ke teori yang lebih bisa saya pahami..

Izinkan saya berbagi, ada sebuah teori arsitektur yang sangat saya sukai.. Sekedar informasi saja ya.. Silakan dicerna perlahan, rasanya cukup sederhana..

Ada dua teori asal mula rumah manusia yang pertama..

Yang pertama disebut teori Adam’s House (mau disebut Eve’s House pun silakan saja.. bisa jadi pria terlalu sibuk berburu, dan wanitalah yang menyamankan tempat tinggal menjadi rumah..)

Teori ini menyatakan rumah pertama adalah sejumlah batang pohon, yang diantara sesamanya diikatkan penutup sehingga menciptakan ruang bernaung dibawahnya..

Dan teori yang kedua adalah teori goa, yang jauh lebih sederhana, yaitu menggali dinding batu sehingga menciptakan ruang bernaung di bawahnya..

Nah, tindakan sederhana ini sebenarnya merupakan contoh sempurna dari dua nama yang paling saya suka..

Perkenalkan tektonika dan stereotomika..

Dua bersaudara ini saya rasa bisa membantu saya menjelaskan pemikiran aneh saya kepada anda pembaca..

Tatkala tektonika adalah kegiatan menyusun bahan sehingga menghasilkan bentuk – bentuk ruang dan rupa, dengan me- (+) – kan bahan.. à rumah hawa

Maka stereotomika adalah kegiatan membentuk suatu bahan sehingga menghasilkan bentuk arsitektur pula, dengan me- (-) – kan bahan à teori goa

Maka, saya jadi curiga.. jangan-jangan dengan kesabarannya wanitalah yang menciptakan rumah hawa..

Dan dengan kekuatannya pria menciptakan goa..

Haha, ini bisa-bisanya saya saja.. tapi setelah menghayal lega rasanya..

Untung saya tidak lupa, dengan tujuan sebebarnya,,

Setelah berfikir sejauh ini, saya bertanya lagi.. lho.. apa hubungannya dengan

(+) + (+) = (-)

Lalu saya tertawa, karena ini semua sangat sederhana.. Sebenarnya jawabannya seperti biasa, dan bisa kita lihat pada penciptaan wanita dan pria.. Yoni dan lingga..

(+) + (-) = 0

Yang sudah saya bahas berkali-kali di tulisan – tulisan saya yang sebelumnya..

Saya pun tersenyum puas, karena waktu sudah menunjukkan jam 2..

Dan satu lagi, baru saja sadar saya punya contoh nyata yang bisa saya bagi pada sahabat esok pagi..

Tentang kenapa yang berlebihan (baca : (+) + (+) ) pasti akan berakhir kurang (-)

Contoh paling mudah yang dapat dilihat dari penggunaan istilah:

plus-plus

(baca : (+) + (+) )

Yang tertera pada salon, spa, pijat, karaoke, di kota – kota nusantara yang pada akhirnya berkonotasi negatif belaka..

Ya,

(+) + (+) = -

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jalan-Jalan Cantik ke Jepang ala Beauty …

Wardah Fajri | | 18 September 2014 | 10:16

Bapak Diberi Tenggang Tiga Kali 24 Jam untuk …

Posma Siahaan | | 18 September 2014 | 06:03

Bima Arya Sukses Menghijaukan Jalanan Kota …

Masykur A. Baddal | | 18 September 2014 | 07:20

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | | 18 September 2014 | 01:35

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 4 jam lalu

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 9 jam lalu

Pilkada Langsung; Menabrak Dasar Negara?! …

Bem Simpaka | 10 jam lalu

Bukti, Koalisi Merah Putih Bukan Wakil …

Giri Lumakto | 12 jam lalu

Takut Prabowo, Jokowi Batalkan Perampingan …

Avit Hidayat | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips Sederhana Menulis Buku agar Menarik …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 8 jam lalu

Turis Asing Suka Kawah Ijen! …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 8 jam lalu

Mudahnya Mengururs SIM tanpa Calo (Sebuah …

Okky Rizki Rohayat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: