Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Solusi Efektif Pengganti Ujian Nasional

OPINI | 09 March 2010 | 06:00 Dibaca: 2794   Komentar: 5   3

Lulus UN adalah impian setiap siswa/siswi kelas tiga pada jenjang SMA dan SMP

Lulus UN adalah impian setiap siswa/siswi kelas tiga pada jenjang SMA dan SMP

Gonjang-ganjing Ujian Nasional (UN) tela menjadi polemik yang tak terselesaikan di Indonesia. setiap tahun ada saja masala yang mencuat terkait penyelenggaraan UN. Beberapa diantaranya seperti Makelar Jawaban, Jual beli soal, pencurian soal, unjukrasa, kasus-kasus bunuhdiri, frustasi, dan dampak psikologis terkait siswa/siswi yang tidak lulus dan lain-lain.

penyelenggaraan UN menjadi momok menakutkan bagi siswa/siswi kelas tiga SMP maupun SMA. Beban yang dipikul pelajar jenjang pendidikan pada kelas tiga ini sangat berat. untuk mencapainya, mereka harus belajar dengan sangat keras. Ada yang menambah jam belajar, mengikuti les tambahan, bahkan kursus private. Ini bagi mereka yang mampu membayar. Bagaimana dengan yang tidak mampu? kesibukan menyiapkan diri menghadapi UN ini menyebabkan siswa/siswi kehilangan waktu untuk istirahat dan bersosialisasi dengan keluarga maupun lingkungan sekitarnya sehingga siswa/siswi terkesan menjalani hidup yang tidah alamia/wajar dan penuh tekanan. Ini tidak baik bagi perkembangan emosional siswa/siswi yang bersangkutan.

Output dari UN sendiri dinilai tidak mampu mewakili kualitas akademik/non akademik seorang siswa/siswi. Banyak kasus siswa/siswi berprestasi yang tidak lulus UN. sebaliknya, banyak juga siswa yang tidak pandai secara akademik mendapatkan nilai yang baik saat UN. Apa pertanyaan yang paling tepat untuk mewakili kenyataan ini?

Selama ini belum ada formula yang efektif untuk menggantikan UN. Pemerintah dituntut untuk menaikkan standar pendidikan. Cara pemerintah yang dapat dilihat orang awam adalah dengan selalu menaikkan angka standar lulus. Jika standar ini diterapkan terus, bagaimana dengan sekolah di desa terpencil yang gurunya cuma tiga orang untuk melayani tiga kelas?bagaimana dengan sekolah yang yang tidak memiliki sarana prasarana seperti laboraturiun dan perpustakaan? apakah mereka akan mampu menjawab soal yang sama dengan anak-anak di ibukota yang jelas sekali perbedaannya? tidak adanya pemerataan ini menyebabkan penerapan UN tidak dapat meratakan kualitas pendidikan di Indonesia.

Dengan memulai dari tulisan ini saya mencoba menawarkan satu solusi baru (atau mungkin sudah lama tetapi tidak diperhatikan) kepada para pembaca. Solusi ini saya beri nama “Nilai Akhir Kumulatif”. Inti dari metode ini adalah dengan mengumpulkan Nilai laporan pendidikan selama tiga tahun untuk dijadikan Nilai Akhir kumulatif. Rekapitulasi nilai siswa/siswi yang dihitung secara kumulatif lebih mewakili prestasi belajar siswa/siswi selama tiga tahun dibandingkan nilai UN yang hanya tiga hari. dengan menerapkan metode ini, peran guru yang beberapa waktu ini hilang karena kekakuan dari UN akan kembali seperti sediakala. Perlu diketahui, guru lebih mengenal siswa/siswinya dibandingkan dengan mesin pengolah data UN.

Pemerintah dapat mengatur berapa Standar “Nilai Akhir Kumulatif” yang dibutuhkan sebagai syarat kelulusan. Siswa/siswi tidak akan merasa kecewa jika kerja kerasnya selama tiga tahun dinilai dengan prestasi belajar yang diperoleh selama tiga taun pula. Demikian juga dengan guru, meraka akan rela dan senang melepaskan siswa/siswinya ke jenjang yang lebih tinggi dengan penilaian akhir seperti ini, karena sangat mewakili apa yang mereka peroleh selama tiga tahun.

Beberapa hal yang saya keunggulan dan rekomendasi dari solusi yang saya tawarkan ini:

  1. Pemerintah mengkaji ulang tulisan ini untuk mendapatkan hasil yang lebih representatif

  2. Masalah makelar soal, jual beli soal, penipuan dan pencurian terkait UN, dan lain-lain akan dapat dihapuskan.

  3. Peran guru akan kembali seperti sediakala, dan peran guru sangat sentral dalam memajukan standar pendidikan.

  4. Nilai Akhir kumulatif dapat mewakili prestasi belajar siswa/siswi selama yang bersangkutan menempuh jenjang pendidikan. Demikian juga, metode ini mewakili kinerja guru selama mereka mengajar.

  5. Dampak psikologis bagi siswa/siswi, guru, maupun orang tua akan berkurang. Siswa/siswi tidak tertekan dan memiliki waktu untuk bersosialisasi dengan sekelilingnya.

Solusi yang saya tawarkan ini perlu dikaji dan dikoreksi lagi untuk mendapatkan metode yang yang lebih rinci dan teliti. Ide ini sendiri muncul ketika saya berdiskusi dengan Rockhiey (Teman satu Prodi dan satu organisasi dengan saya) tentang masalah UN di Indonesia. kita berdua begitu prihatin dengan masalah UN. dan lahirlah Ide ini. semoga bermanfaat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 3 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 6 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 7 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: