Back to Kompasiana
Artikel

Edukasi

Markus Budiraharjo

mengajar di Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sejak 1999.

Penilaian Otentik

OPINI | 03 March 2010 | 08:16 Dibaca: 989   Komentar: 10   2

Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan lain sebelumnya tentang Penilaian untuk Pembelajaran (formative assessment) yang saya tulis sebelumnya.

***

Para guru semestinya memiliki keleluasaan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan peluang belajar siswa seoptimal mungkin. Hal ini hanya mungkin bila para guru tidak terlalu dibatasi oleh jenis-jenis ujian pilihan ganda atau isian singkat yang cenderung mengukur pengetahuan dan/atau keterampilan berpikir tingkat rendan (lower-order thinking skills). Salah satu terobosan untuk memfasilitasi pembelajaran yang optimal macam ini adalah penilaian otentik atas kinerja siswa.

McNeil (2009) mendefinisikan “authenticity” sebagai “persoalan atau tugas nyata, yang bukan sekedar rutin, yang merepresentasikan beragam situasi yang biasa dihadapi oleh warga masyarakat atau kaum profesional dalam suatu bidang tertentu” (hlm. 237). Untuk melakukan suatu tugas atau memecahkan persoalan tersebut, para siswa dituntut untuk menggunakan pengetahuan tertentu secara efisien dan etektif. Untuk mendukungnya, para siswa mesti diberi cukup dukungan dan fasilitas yang memungkinkan mereka berkembang secara penuh.

Sebagai ilustrasi, di dalam mata kuliah Writing I, saya menugasi para mahasiswa untuk membuat proyek majalah berbahasa Inggris yang harus diselesaikan dalam kelompok. Saya melakukan beberapa langkah untuk memfasilitasi mereka. Pertama, saya memberikan deskripsi tugas, lengkap dengan rubrik macam apa yang saya tuntut dari karya mereka. Kedua, saya juga memberikan cukup waktu bagi mereka untuk menjalankan tugas ini. Ketiga, saya melibatkan sumber daya yang dimiliki oleh Program Studi di tempat saya bernaung. Saya membawa para mahasiswa saya ke kantor Dialogue, majalah Bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Sanata Dharma. Para mahasiswa belajar dari para staf (mahasiswa senior) yang bekerja di kantor majalah ini. Mereka belajar tentang proses pengumpulan informasi untuk penulisan berita, proses penulisan berita, dan hal-hal teknis terkait lain seperti lay-out dan ilustrasi.

Tugas membuat majalah macam ini bersifat otentik, karena memang merepresentasikan realitas dunia kerja nyata. Sekalipun tugas-tugas otentik macam ini jelas, dan tuntutan kerja pun teridentifikasi dengan pasti, para mahasiswa dituntut untuk berpikir dan bertindak secara kreatif. Mereka tidak hanya sekedar menjalankan tugas yang dibebankan di pundak mereka begitu saja. Dalam konteks “newsroom” yang macam ini, mereka belajar untuk berkolaborasi, bernegosiasi, dan melatih keterampilan interpersonal juga. Tidak ada yang bisa diselesaikan hanya dengan mengikuti serangkaian langkah-langkah baku yang preskriptif semata, mengingat mereka juga dituntut untuk senantiasa membuat pilihan-pilihan cerdas yang harus dipertanggung jawabkan.

Mengapa model penilaian otentik atas kinerja macam ini dinilai potensial untuk mengembangkan para siswa secara lebih komprehensif? McNeil (2009) menampilkan empat alasan pokok yang disarikan dari berbagai penelitian.

Pertama, berbagai studi tentang metakognisi untuk penilaian otentik menunjukkan pentingnya para siswa untuk mengendalikan proses berpikir mereka sendiri. Metakognisi mengacu pada keterampilan kita untuk mengenal kemampuan dan kelemahan diri sendiri. Dari pengenalan diri tersebut, kita tahu apa saja yang kita perlu lakukan untuk mengatasi kelemahan kita dan memanfaatkan potensi kita.

Kedua, berbagai studi tentang hakekat memahami (understanding) menunjukkan bahwa sekedar berlatih rumus-rumus saja tidak menjamin dikuasainya pemahaman mendalam dan kemampuan mengaplikasikannya ke dalam prinsip-prinsip yang fundamental.

Ketiga, berbagai studi tentang pengetahuan situasional mengungkapkan bahwa jenis-jenis ujian yang tidak mencerminkan kehidupan nyata (pekerjaan yang sesungguhnya) tidak akan banyak berguna. Ujian-ujian macam itu tidak memiliki makna penting di kemudian hari.

Keempat, beragam studi mengenai kognisi mendukung nilai penting dari integrasi berbagai kegiatan pembelajaran. Para siswa akan jauh lebih mampu mengonstruksi pengetahuan secara pribadi dan secara bersama-sama dalam situasi yang kompleks daripada ketika mereka melakukan kegiatan yang terpotong-potong – seperti dalam siklus macam ini: pengetahuan faktual yang diberikan secara terpisah, dan selanjutnya ditambahi dengan pengetahuan konseptual, dan kemudian dari sana baru dikenalkan pemecahan soal.

Singkat kata, model pembelajaran holistik-komprehensif yang melibatkan pencapaian hasil-hasil pembelajaran yang bermakna – seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mencipta, dan memecahkan persoalan kompleks, sering tidak mampu diwadahi dalam jenis tes objektif “paper-and-pencil” saja. Penilaian otentik jauh lebih bermanfaat bagi guru.

Berani mencoba?

Referensi:

McNeil, J.D. (2009). Contemporary Curriculum: In Thought and Action. LA: John Wiley & Sons, Inc.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: