Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Mengawasi Bahasa Anak-anak di Rumah

HL | 11 March 2013 | 20:29 Dibaca: 754   Komentar: 0   7

Selain seni, bahasa adalah salah satu pelajaran di sekolah yang selalu menarik perhatian saya. Saya sangat meyakini bahwa bahasa adalah hasil budi dan olah pikir manusianya. Ini pastinya mencerminkan watak pribadi seseorang.

Itulah mengapa, saya sangat terkejut dengan perkembangan bahasa anak-anak kami dan anak-anak lainnya di kampung kami. Mengapa mereka begitu mudah memproduksinya/mengimitasinya? Bagaimana kita sebagai orang tua untuk menyikapinya?

***

Hari Minggu. Mbak Nen ulang tahun. Ia baru saja genap 7 tahun. Kami mengundang 24 anak, yang hadir 22. Sayang yang absen tidak memberitahukan beberapa hari sebelumnya atau pada hari H. Untung saja hari ini sudah jelas sebabnya.

OK. Saya akan bercerita tentang gambaran bahasa anak-anak umuran 4-7 tahun itu. Sebagian besar adalah keturunan asli Jerman, yang lainnya adalah pendatang (Rusia, Spanyol, Kazakshtan, Turki).

Mula-mula, suami saya terkaget-kaget, lantaran seorang anak perempuan keturunan Jerman, menyodorkan piring bekas makannya.

“Ich habe gerade Kaka gegessen” Artinya, gadis berusia 7 tahun itu baru saja melahap kotoran. Kami tertawa bukan karena ia mengatakan begitu, tetapi setelah kami amati, sekilas benar begitu. Piringnya memang kotor dari sisa puding coklat. Flek coklat itu memang mirip kotoran manusia/hewan berwarna coklat gelap. Hahaha. Bocah!

13630199991202018760

Piring sisa puding coklat itu seperti ….

Yang ingin saya tanyakan, mengapa si anak senang memproduksi kata Kaka yang berarti kotoran untuk mengumpamakan makanan yang lezat? Meski sebenarnya memang agak mirip tetapi tetap saja memiliki perbedaan mencolok, satunya menjijikkan.

Apalagi kami kenal sekali orang tua si anak. Mereka adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan kecil tapi kokoh yang dibangun tahun 1957 itu. Kami beranggapan bahwa orang tuanya di rumah pasti mendidik dengan cara-cara yang baik. Darimana ia terbiasa menggunakan kata itu? Dari sekolah? Pengaruh kawan-kawannya? Atau memang sifatnya yang nyelelek, suka bercanda?

Ini benar-benar mengejutkan karena beberapa menit kemudian, bungsu kami yang duduk di dekatnya, segera mengkopi kata yang sama.

“Guck mal … ich habe Kaktus Kaka“ Anak perempuan umur yang sepertinya foto kopi bapaknya itu menjelaskan kepada kawan-kawan disekitarnya bahwa bocah 4,5 tahun itu memiliki kotoran dari pohon Kaktus di piringnya. Padahal, ia sedang memakan puding rasa vanila yang hmmm. Anak kami itu begitu lahap menyantap sampai gusis, habis, meskipun mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak pantas saat makan.

“Husss … tidak boleh.“ Saya memperingatkannya. Anak kecil itu tertawa, merasa ini lucu.

Belum habis kami terhenyak dengan dua anak tersebut, seorang gadis keturunan Jerman-Rusia mengatakan bahwa Lumpia yang saya buat dan digoreng suami saya, menjijikkan lantaran berisi sayuran bambu dan wortel. Dikatakannya, ini mirip kotoran manusia. Ia tak mau menghabiskannya.

“Igittt. Warum so viele Gemuse drin? Dies ist wie Pupu … iiiiii“

Haduhhhhh …

Ini tambah parah. Suami saya mengutus anak sulung untuk mengirim sajen eh kue marmor merah muda, Brownies dan lumpia yang masih ada untuk tetangga kanan, kiri dan depan rumah.

Karena masih ada banyak, suami saya lagi-lagi memintanya untuk mengirim hantaran terakhir kepada tetangga kami yang baru saja pindah. Keluarga batih, satu rumah tiga keluarga (nenek-kakek, ayah-ibu dan anak-anak dewasanya yang telah menikah).

Apa jawaban anak lanang?

“Es geht nicht, Papa … die sind doch wie schweinegruppe. Zu viel.“ Ya ampun, dia menolak untuk mengantar makanan kecil itu karena keluarga anyar tetangga kami itu terlalu banyak. Setidaknya enam orang plus-plus. Itulah sebabnya ia menyebutnya sebagai kelompok babi sebagai perumpamaan kelompok orang yang banyak sekali.

Masyaallah. Saya sendiri tidak pernah menggunakan kata Schwein atau Sau (red: babi) dalam penggunaan bahasa Jerman saya untuk mengumpamakan sesuatu/seseorang. Mungkin untuk orang Schwaben yang menggunakan bahasa Schwabisch, ini biasa. Bahasa daerah ini memang tergolong agak kasar kalau saya bandingkan dengan bahasa Jerman (red: Hoch Deutsch) yang pernah saya pelajari di Jerman selama 6 bulan pada awal kedatangan di negeri rantau ini.

***

Masih banyak contoh bahasa atau kata kasar yang dipakai anak-anak yang hadir waktu itu (khususnya anak lelaki, menggunakan kata “Scheiße“ yang notabene bahasa vulgar untuk mengumpat yang berarti … kotoran). Saya langsung peringatkan, agar tak diulangi lagi … tapi namanya anak-anak. Atau mungkin sudah terbiasa di rumah/sekolah?

Dari semuanya, saya tarik kesimpulan bahwa meski telah dididik dengan baik di rumah, rupanya anak-anak begitu mudah mencontoh bahasa yang buruk dari pertemanannya, lingkungannya atau apa yang mereka dengar/lihat/baca.

Saya tak boleh memvonis bahwa keluarga si anak uneducated atau salah asuh atau apalah namanya. Karena saya yakin banyak faktor yang mempengaruhi.

Saya sendiri heran, kalau kami saja juga mengajarkan anak-anak untuk berkata yang baik dan berperilaku yang luhur masih juga ketularan atau ikut-ikut bagaimana dengan anak dengan keluarga yang tidak peduli dengan produksi bahasa anak-anaknya? Oh. Kami harus lebih berhati-hati dan tak jemu mengoreksi mereka. Mengarahkan dengan tegas, lebih bagus dan tidak membiarkannya berlarut-larut. Semoga mereka tidak kebabalasan. Mari bapak/ibu … tetap mengawasi bahasa anak-anak di rumah.(G76)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: