Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Agus Herlambang

Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Liberalisasi Agama Dalam Prosa Lirik Pengakuan Pariyem

OPINI | 30 January 2013 | 23:51 Dibaca: 550   Komentar: 3   0

Karya sastra biasanya merupakan pandangan hidup penulisnya. Salah satu dari pandangan hidup yang terekpresikan dalam bentuk karya sastra adalah pandangannya yang berhubungan dengan religiusitas. Mangunwijaya (1988:11) menyatakan bahwa pada awal mula, segala sastra adalah religius. Bahkan karya sastra yang baik biasanya mengandung unsur pesan religi. Pendapat Mangunwijaya menegaskan bahwa dalam karya sastra terkandung nilai,norma dan pesan keagamaan. Pernyataan tersebut muncul karena penulis karya sastra selain sebagai makhluk sosial juga makhluk religius, yang tidak dapat dihindari bahwa pengalaman dan pandangan keagamaannya sangat mempengaruhi karya yang dibuatnya.

Gunawan Muhammad dalam Marwan Saridjo (2006 : 5) mengetengahkan dua hal sebagai alasan yang melatar belakangi hadirnya genre sastra keagamaan. Pertama, adalah alasan- alasan di dalam kesusatraan sendiri, yakni persoalan pencarian identitas sastrawan-sastrawannya, dan kedua, adalah motif di luar kesusastraan, yakni penggolongan serta persaingan atau rivalitas antar golongan di masyarakat.

Berdasarkan penjelasan tersebut, persoalan pencarian identitas keagamaan penulis mempengaruhi unsur-unsur religi dalam karya sastra yang dibuatnya. Gunawan Muhammad (1969 :89) juga berpendapat bahwa pengarang-pengarang yang mencukil pengalaman-pengalaman dari kehidupan keagamaan sering disebut sebagai “wilayah yang belum banyak digarap dalam kesusastraan kita”.

Analisa terhadap unsur-unsur keagamaan memang selalu menarik dan relevan untuk dilakukan karena banyaknya karya sastra yang mengandung unsur religiusitas. Prosa lirik Pengakuan Pariyem yang ditulis oleh Linus Suryadi AG merupakan salah satu karya yang menarik untuk dikupas unsur-unsur religiusitasnya.

Linus Suryadi Agustinus (1951-1999) dilahirkan di Kadisobo, Trimulyo, Sleman. Linus pernah menjadi Direktur Kebudayaan harian Berita Nasional (1979-1986) di Yogyakarta, anggota Dewan Kesenian Yogyakarta (1986-1988) dan pemimpin redaksi majalah Citra Yogya (1987-1999). Sejak tahun 1970-an, ketika ia mulai berkarya, diperkirakan sekitar 400 judul puisi telah lahir darinya.

Setelah dipengaruhi oleh gaya puisi Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan Taufik Ismail, akhirnya, ia dapat menemukan gayanya sendiri. Ia tertarik pada berbagai aspek kebudayaan Jawa, yang sangat disadarinya sebagai kekayaan yang harus digunakan semaksimal mungkin dalam sajak-sajaknya.

Prosa lirik Pengakuan Pariyem (1981), banyak mendapat perhatian dari pengamat dan penelaah sastra, baik dari dalam dan luar negeri. Tahun 1985 prosa liriknya ini terbit dalam edisi Belanda dengan judul De Bekentenis van Pariyem (terjemahan Maria Thermorshuizen). Satu hal yang menarik dari karyanya Linus ini, seperti yang dinyatakan oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono, Linus tak bisa dipisahkan dari prosa liriknya ini yang merupakan prosa lirik paling panjang yang pernah dihasilkan sesudah zaman kemerdekaan.

Berbeda dengan karya sastra yang lainnya, Pengakuan Pariyem mengemas nilai-nilai keagamaannya dengan pola akulturasi dengan pemahaman budaya jawa. Konsep Agama dan dosa dalam karya ini yang direpresentasikan oleh tokoh utama Pariyem yang penganut agama Katolik, tidak murni sesuai dengan apa yang dipahami dalam ajaran Katolik tetapi sudah berbaur dengan ajaran-ajaran budaya jawa.

Jika Hotman M Siahaan (1980) berpendapat bahwa Pengakuan Pariyem benar-benar menggambarkan sosok Linus Suryadi AG itu sendiri, berarti konsep keagamaan dalam karya tersebut merupakan pemahaman dan proses pencarian keagamaan pengarangnya. Linus yang tidak bisa lepas dari dunia sehari-harinya sebagai orang jawa, menggambarkan Pariyem yang beragama katolik tidak sebagai sosok yang taat, menuliskan pariyem yang tidak rajin ke gereja melainkan menggambarkan pariyem yang lebih terpengaruh pada kearifan-kearifan budaya jawa yang lebih dominan. Bahkan Pariyem sepertinya enggan  terbelenggu dengan formalisme agama dan perangkat aturan-aturan yang tersedia bagi pemeluknya.

Corak keberagamaan tersebut dalam istilah Ulil Ulil Abshar Abdalla adalah proses keberagamaan yang menitik beratkan pada kebebasan dan pembebasan individu dari aturan-aturan yang membelenggu. Pilihan beragama dan tidak beragama merupakan hak masing-masing individu yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Sehingga proses liberalisasi agama adalah pilihan atau jalan yang dipilih oleh Linus dalam menggambarkan sosok Pariyem.

Djoko Saryono (2009 : 98) mengingatkan bahwa pengalaman-pengalaman religius akan terhidang bila mana radar-radar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan mampu menangkap fenomena-fenomena  yang ditandai  oleh kesadaran keilahian.

Wujud kesadaran keilahian kemudian diaktualisasikan secara beragam oleh pengarang dalam karya sastra. Ada yang mengekspresikan kesadaran itu dalam bentuk kepatuhan terhadap aturan-aturan keagamaan, ada juga sebaliknya, mengekpresikan kesadaran keilahian itu justru bukan dalam bentuk kepatuhan melainkan membebaskan diri dari kekangan formalisme agama yang sempit dan memposisikan kebenaran agama sebagai nilai yang universal. Dan Linus Suryadi AG dalam Pengakuan Pariyem termasuk pada klasifikasi pengarang yang kedua.

Dalam menganalisa Pengakuan Pariyem, penulis mencoba mengkombinasikan pendekatan intrinsik dan ektrinsik. Pendekatan intrinsik dimaksudkan untuk menemukan unsur-unsur intern karya sastra yang menggambarkan corak religiusitas. Kemudian dilanjutkan dengan pendekatan ekstrinsik untuk membicarakan tentang ide pandangan hidup pengarang dan beberapa segi kehidupan masyarakat tempat lahir dan berkembangnya pengarah karya sastra tersebut. Teeuw (1983 :61) mengakatakan bahwa analisa struktur sebuah karya sastra merupakan tugas prioritas, pekerjaan pendahuluan. Dengan melakukan analisis ini akan didapatkan makna intrinsik sebuah karya. Setelah makna intrinsik didapatkan akan dapat dilihat bagaimana hubungan karya sastra itu dengan dunia yang ada di sekelilingnya.

Prosa Lirik Pengakuan Pariyem

Prosa lirik “Pengakuan Pariyem” karya Linus Suryadi Agustinus bercerita tentang seorang gadis Jawa berpredikat pembantu rumah tangga yang menceritakan jalan hidupya yang dimulai dari desa kelahirannya di Wonosari Gunung Kidul.

Kehidupan masa kecil Pariyem yang bernama baptis Maria Mandalena dilaluinya dengan bahagia sebagai seorang anak dari pemain seni tradisional ketoprak dan sinden wayang kulit. Iyem kecil sering ikut ibunya pentas dengan duduk manis di belakang panggung ketika ibunya menyinden.

Menginjak usia dewasa Pariyem  mencoba peruntungannya dengan menjadi pembantu nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta. Istri nDoro Kanjeng, Raden Ayu Cahya Wulanningsih biasa dipanggil nDoro Ayu., merupakan sosok yang luwes, halus tutur katanya, teduh pandangannya, serta memiliki jiwa yang mulia. Mereka mempunyai dua orang putra, laki-laki dan perempuan yang laki-laki bernama Raden Bagus Aryo Atmojoyo seorang mahasiswa filsafat di Universitas Gajah Mada dan yang perempuan bernama Raden Ayu Wiwit Setyowati. Layaknya seorang pembantu kehidupan Pariyem dipenuhi dengan pengabdian kepada tuannya yang merupakan keluarga bangsawan ternama di Jawa.

Pariyem merasakan kenyamanan bekerja di kediaman Ndoro kanjeng yang memegang teguh kultur Jawa. Hingga suatu ketika terjalinlah hubungan terlarang antara Pariyem dengan Den Bagus. Sebuah hubungan yang tidak seharusnya dilakukan oleh pasangan yang belum memiliki ikatan suami istri. Pariyem ternyata menikmati peranannya sebagai ‘kekasih gelap’ Den Bagus. Hal ini masuk akal dikarenakan sebelum mengabdi di kediaman nDoro Kanjeng, Pariyem sudah melepaskan mahkota keperawanannya  kepada Kliwon mantan pacarnya saat pariyem masih tinggal di desa.

Hasil hubungan terlarang antara Pariyem dan Den Bagus mengakibatkan kehamilan. Ini menjadi polemik dalam keluarga nDoro Kanjeng ketika seluruh keluarga mengetahui kehamilannya tersebut. Sidang keluarga pun digelar untuk menentukan nasib antara Den Bagus, Pariyem, dan janin yang dikandungnya. Keluarga nDoro Kanjeng secara halus meminta Pariyem untuk kembali ke kampung halamannya selama ia mengandung dan segala kebutuhan hidup Pariyem beserta janinnya dipenuhi oleh majikannya.

Waktu pun berjalan, Pariyem telah menjadi seorang ibu dari seorang anak perempuan bernama Endang. Saatnya ia mengabdikan dirinya kembali di kediaman nDoro Kanjeng sedangkan anaknya dirawat oleh keluarganya di Wonosari, Gunung Kidul. Kunjungan Pariyem ke desanya dilakukan sebulan sekali, terkadang sendirian namun tak jarang pula bersama nDoro Ayu dan nDoro Putri. Kehidupan Pariyem berjalan normal, ia menjalani rutinitasnya sebagai pembantu seperti sedia kala.

Dalam menjalankan aktivitas hidupnya, Pariyem yang beragama Katolik kerap kali memberikan pandangan dan idenya tentang dosa dan hakikat agama. Pandangan-pandangan inilah yang menjadi fokus kajian dalam analisis yang dilakukan penulis.

Liberalisasi Agama dalam Pengakuan Pariyem

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Linus memposisikan diri sebagai pengarang yang mengekrepsikan dan memahami nilai religiusitas sebagai nilai yang Universal. Jauh sebelum Jaringan Islam Liberal (JIL) berdiri dan berani menawarkan konsep penafsiran ulang terhadap pemahaman Islam yang melawan arus pemahaman umum, Linus sudah berani mengeluarkan gagasan nyleneh tentang konsep agama dan dosa yang dia tuangkan dalam Pengakuan Pariyem.

Dalam Prosa lirik tersebut pariyem beranggapan bahwa aturan-aturan formal agama seperti nama baptis yang diberikan kepada dirinya yaitu Maria Magdalena hanya berlaku dalam urusan duniawi dan tidak akan digunakan di akhirat. Seperti pada kutipan dibawah ini :

Tapi nama baptis Maria Magdalena dipakai

Kalau ada keperluan-keperluan resmi saja

Buat mencari surat keterangan bebas

G-30-S/ PKI

……

Bukankah bila suatu hari saya mati

Tak bakal saya mendengar pak lurah

Sesorah dan menyebut nama lengkap saya (hal 11)

Dari kutipan di atas, Pariyem ingin mengingatkan pembaca sebagai penganut agama tertentu agar tidak terjebak pada formalisme agama yang membelenggu. Karena menurutnya, formalisme agama kemudian berujung pada fanatisme yang berlebihan. Sikap fanatisme inilah yang menyebabkan setiap orang merasa paling  benar dan dekat dengan Tuhan sehingga menimbulkan kekacauan dan kekerasan dengan menggunakan kedok agama dan Tuhan.

Agama dan Tuhan menjadi sandaran

Buat kasak-kusuk dan koprol bambu

Napsu, emosi dan sentiment pribadi

Menjadi halal bila atas nama Tuhan

Peperangan adalah buahnya

……

O, manakah iman, manakah wewaler Tuhan

Bila nyawa tak punya lagi tempat yang aman? (hal 14)

Radikalisme muncul sebagai buah dari fanatisme agama dan pemahaman agama yang sempit. Radikalisme agama justru menurut Pariyem menjauhkan diri dari sikap humanisme, toleransi dan inklusif yang merupakan inti dari apa yang diharapkan Tuhan. Bahkan Tuhan sendiri bagi Pariyem tidak melihat apa agama seseorang, melainkan apa yang dilakukan seseorang di dunia. Perbuatan seseorang apapun agamanya, asalkan itu baik bagi dirinya dan lingkungannya tetap menjadi amal baik di mata Tuhan.

Berbeda dengan pemahaman tersebut, pandangan umum mayoritas umat beragama, proses keimanan terhadap Tuhan adalah kunci seseorang akan diridloi oleh Tuhan. Singkatnya, sebaik apapun orang dalam bertindak dan berperilaku tetapi dia tidak menyembah Tuhan ataupun berbeda keyakinan, pasti dia tidak bisa masuk ke dalam surga-Nya. Misalnya, dalam pemahanman orang Kristen tidak akan ada orang Islam yang masuk surga walaupun dia selalu berbuat baik selama hidupnya karena dia menganggap orang Islam itu kafir. Begitu pula sebaliknya, dalam pemahaman orang Islam tidak akan ada orang Kristen yang masuk surga walaupun dia juga selalu berbuat baik dalam hidupnya.

Tapi Pariyem tetap percaya bahwa Tuhan tidak membedakan umat manusia dari agamanya tetapi dari apa yang diperbuatnya di dunia.

Lha, di sorga, Gusti Allah tak bertanya :

Agamamu apa di dunia ? tapi ia bertanya :

Di dunia kamu berbuat apa ? (hal 14)

Tapi di sorga, Gusti Allah tak bertanya :

Agamamu apa di dunia ? tapi ia bertanya :

Di dunia kamu berbuat apa ? (hal 15)

Pernyataan Tuhan tidak akan bertanya tentang agama seseorang di dunia diulang sebanyak dua kali. Artinya, hal tersebut sangat ditekankan oleh pengarang. Dengan kata lain, Linus Haryadi AG ingin mengatakan bahwa semua agama itu sama. Perbedaan agama tidak mempengaruhi objektivitas Tuhan dalam menilai seseorang yang berbuat kebaikan. Hal ini senada dengan apa yang menjadi gagasan besar para tokoh Jaringn Islam Liberal, Ulil Abshar Abdalla Misalnya, yang menganggap agama seperti pakaian bukan sesuatu yang integral dalam diri manusia. Linus juga mengatakan :“bukankah agama, begitu kata orang-orang tua kita / yang arif dan bijaksana, adalah ibarat pakaian? /” (hal 15).

Di sisi lain, Linus bahkan menganggap jika agama menggelapkan mata batin manusia untuk mengasihi sesama, maka agama tak ubahnya seperti candu yang membelenggu.

Jadi, apakah agama itu dogma hidup

Yang menjadi belenggu jiwa manusia?

Jadi, apakah agama itu candu hidup

Yang bikin jerangkong semua orang? (hal 14)

Kegelisahan-kegelisahan tersebut memang identik dengan kaum marxis yang diwakili oleh Kathleen Bliss yang menganggap agama “sebagai nafas dari makhluk yang tertindas, hati dari dunia yang tak berhati, jiwa dari kebekuan yang tak bernyawa, candu masyarakat”  atau seperti John Davis Garcia yang menganggap agama sebagai “unsur penindas kemerdekaan dan perusak kesadaran manusia” (Djohan Efendi dalam pengantar  Agama-agama Manusia, 1999 : x)

Bentuk-bentuk pengekang dan belenggu agama yang dipahami oleh Linus adalah konsep dosa yang dipahami kebanyakan orang. Menurut Linus, manusia saat ini memahami agama hanya sebagai alat penghakiman benar dan salah. Bahkan dia mencontohkan ironi seseorang yang sehari-harinya belajar agama, bahkan mendapatkan ijazah sebagai penyandang gelar Sarjana Agama dan mempunyai pekerjaan sebagai juru dakwah tapi kemudian menjadi gila karena memikirkan beban dosa. Seperti pada kutipan di bawah ini :

Sekarang ada fakultas ilmu dosa

Bila dapat ijazah tanda tamat sinau

Sebagai tukang pembersih dosa-dosa

Adalah lapangan pekerjaannya

……..

Ajaib, dia malah sinting

Tiap hari terkaing-kaing

Bukankah dia mikir asal-usul dosa

Sebab musababnya orang berdosa

Dan akibat dari perbuatan dosa?

Tapi bukankah dia termakan dosa

Tak sanggup membebaskan dirinya

Dan tenggelam ke dalam rasa dosa? (hal 40-41)

Dengan keyakinan yang demikianlah, Pariyem yang telah melakukan hubungan terlarang dengan Den Bagus sehingga menyebabkan dia hamil tidak terlalu terhanyut dalam rasa bersalah. Dia bahkan tidak melakukan pengakuan dosa seperti dalam tradisi katolik, karena menurutnya itu merupakan suatu hal yang memalukan. Dia juga tidak melakukan halal bihalal seperti yang dilakukan orang Islam.

Orang katholik menebus dosanya

Dalam pengakuan di kamar bihten

Lewat rama pastor

……..

Orang islam menebus rasa salahnya

Dalam halal bihalal waktu lebaran

…Tapi saya? O, bagaimanakah saya? (hal 46)

Di sisi lain, walaupun Pariyem tidak merasa terkekang dan terbebas dari rasa takut (fear to God) dan perasaan dosa (guilt feeling), tetapi dia masih meyakini dan memelihara perasaan tentang kebesaran Tuhan (God’s glory). Di beberapa kesempatan dalam karya ini, dia selalu mengagungkan nama Tuhan dan menyebut-Nya dalam istilah yang berbeda-beda, misalnya : Sang Hyang Mubreng Jagad, Sang Hyanh Wisesa Jagad, Sang Hyang Maha Wikan dan Ya Allah Gusti. Artinya, kebebasan dan pembebasan yang dia alami tidak lantas membuatnya tidak percaya akan kebesaran Tuhan.

Menurut hemat penulis, upaya-upaya yang dilakukan Linus dalam menjabarkan paham keberagamaan Pariyem adalah salah satu bentuk gairah baru dalam melakukan redefinisi, reformasi dan penyegaran pemahaman tentang agama dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat. Walaupun usaha tersebut tidak mudah karena akan ditentang oleh banyak kalangan. Linus pun sadar dengan mengatakan :

Biarkan saya dikata-katai murtad

Biarkan saya dikata-katai kapir

Biarkan saya dikata-katai malas beribadat

Biarkan sajalah

Saya tidak apa-apa (hal 16)

Sebenarnya, apa yang diinginkan oleh Linus adalah sikap toleransi umat beragama (agama ageing ati/ dan tiap bangsa punya tata, punya cara/ yang percuma diganggu gugat siapapun), memahami perbedaan (kebajikan tak bisa diseragamkan/ kayak pakaian Hanra di Kelurahan) dan tidak terjebak pada formalisme agama melainkan pada sikap kepatuhan yang tulus bukan keterpaksaan (dan menyembah tuhan tak bisa dikomandokan/ kayak tentara maju ke medan perang).

Kesimpulan

Prosa Lirik Pengakuan Pariyem yang ditulis oleh Linus Suryadi AG mengandung unsur-unsur religiusitas. Unsur-unsur tersebut dituangkan dengan cara yang khas. Bahkan penulis berani menyimpulkan bahwa unsur religiusitas yang ditawarkan oleh Linus lebih bersifat liberal, karena ajaran agama dijalankan oleh Pariyem sebagai tokoh utama dalam prosa lirik tersebut membebaskan manusia dari sikap takut, terkekang dan keluar dari kungkungan formalisme agama yang sempit.

Gagasan yang ditawarkan oleh Linus banyak kemiripan dengan gagasan kaum liberalisme agama, seperti Ulil Abshar Abdalla. Dia berusaha melakukan melakukan redefinisi, reformasi dan penyegaran pemahaman tentang agama dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat.

Dari perasaan keagamaan yang dimaksudkan Atmosuwito (1989:124) yaitu seperti perasaan dosa (guilt feeling), perasaan takut (fear to God), dan kebesaran Tuhan (God’s glory), Linus hanya menitik beratkan pada kebesaran Tuhan (God’s glory) yang akan membuat manusia menjadi bijak, humanis dan bermartabat. Adapun perasaan dosa (guilt feeling) dan perasaan takut (fear to God), bagi Linus itu merupakan belenggu yang justru membuat manusia terkekang dan terpenjara dalam formalisme agama yang sempit.

Sikapnya yang tergambar dalam karya sastra ini adalah potret sosok Linus dalam kehidupan nyata yang enggan mencantumkan agama Katolik di KTP-nya. Dan dalam beberapa kesempatan ketika dia masih hidup, dia selalu melontarkan bahwa sebenarnya Yesus adalah penganut aliran kebatinan.

Keinginan Linus yang tercurah dalam Pengakuan Pariyem adalah sesuatu yang mudah untuk diucapkan yaitu toleransi antar umat beragama, pluralisme dan pemahaman agama yang inklusif. Namun demikian, hal tersebut memang sulit untuk diwujudkan di belahan dunia manapun.

Kepustakaan

Atmosuwito, Subijantoro. 1989. Perihal Sastra dan Religiusitas dalam Sastra. Bandung: Sinar Baru.

Mohamad, Goenawan. 1969. “Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini.”

Dalam Antologi Esei tentang Persoalan-Persoalan Sastra. Satyagraha

Hoerip. 1969. Jakarta: Sinar kasih.

Mangunwijaya, Y.B. 1988. Sastra dan Religiusitas. Yogyakarta: Kanisius.

Saridjo, Marwan 2006. Sastra dan Agama. Jakarta : Yayasan Ngali Aksara

Saryono, Djoko. 2009. Dasar apresiasi sastra.Elmatra pub

Smith, Huston. 1999. Agama-Agama Manusia . Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Suryadi, Linus AG. 1981.Pengakuan Pariyem. Jakarta : Sinar Harapan

Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Gramedia.

www. Islamlib.com (diakses pada tanggal 23 November 2012 Pukul 23.30 WIB)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: