Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Ika Fitriana

perempuan biasa

Referensi untuk SMA Kelas Bahasa

OPINI | 12 January 2013 | 11:35 Dibaca: 260   Komentar: 0   0

Cari buku Ujian Nasional (UN) untuk kelas Bahasa, kok, susah, ya? Toko buku besar saja tidak menjual buku UN untuk kelas Bahasa. Apa karena itu? Karena tidak menjual?

Saya pengajar bimbingan belajar (bimbel). Di bimbel tempat saya mengajar dibuka kelas Bahasa. Permasalahan muncul ketika harus mencari referensi. Bimbel kami tidak menerbitkan buku untuk kelas Bahasa, hanya ada IPA dan IPS. Internet tidak banyak membantu. Minim sekali. Saya pikir barangkali toko buku punya. Ternyata tidak.

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa kami membuka kelas Bahasa yang bisa dikatakan sepi peminat?

Kelas Bahasa di tempat saya bekerja berupa kelompok belajar. Setara dengan privat, hanya saja terdiri dari beberapa orang, bukan satu orang. Ini permintaan mereka.

***

Sejak saya sekolah, kelas Bahasa tampak seperti hidup segan mati pun ogah. Sekolah saya bahkan sudah tidak lagi membuka kelas itu (saya masuk SMA tahun 2000). Kelas Bahasa sudah punah. Padahal, cita-cita saya ingin menjadi jurnalis atau penulis (berkaitan dengan dunia menulis). Dengan cita-cita demikian, cocoknya masuk kelas Bahasa, dong?

Menjelang kenaikan ke kelas 3, saya mengusulkan untuk dibuka kelas Bahasa. Kata seorang guru, kelas Bahasa bisa dibuka dengan catatan harus terkumpul siswa dengan jumlah yang ditentukan. Saking niatnya, saya tanya teman-teman yang sekiranya berminat dengan jurusan Bahasa.

Sayangnya, saya harus menelan pil pahit karena kelas Bahasa tidak kunjung dibuka meski jumlah siswa sudah mencukupi kuota. Pernah ada yang bilang bahwa kelas Bahasa adalah kelas buangan: yang tidak diterima di IPA/IPS. Menyedihkan sekali kata-kata itu.

***

Dengan kondisi sulit referensi seperti ini, saya salut dengan guru-guru kelas Bahasa. Saya bayangkan mereka dituntut untuk lebih kreatif. Pasti. Bukankah tiap guru bercita-cita muridnya maju?

Tags: ikafff bahasa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 4 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 7 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 8 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: