Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Syarif Yunus

Profesional bekerja di Manulife Indonesia & Pemerhati Pendidikan Bahasa. Ketua Ikatan Alumni Bahasa dan Sastra selengkapnya

Pembelajaran Bahasa Indonesia: Ke Mana Arahnya ?

OPINI | 21 December 2012 | 08:51 Dibaca: 2109   Komentar: 1   0

Potret hari ini, seluruh pemakai bahasa Indonesia bangga terhadap bahasanya. Namun sikap dan perilaku berbahasa mereka sehari-hari bak “jauh panggang dari api”. Dalam aktivitas bahasa sehari-hari, penggunaan bahasa Indonesia makin redup dan “tersudutkan”. Maraknya fenomena jejaring sosial, makin “meminggirkan” eksistensi pemakaian bahasa Indonesia. Cukup ironi, bahasa Indonesia makin terkungkung dan tidak mampu menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”.

14114809281056325888

Sumber; Pribadi - Bahasa Indonesia ke mana arahnya?

Ada ketimpangan, begitu kesan awal terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Siswa lebih sering merasa bosan dalam belajar. Belajar bahasa Indonesia monoton dan tidak menarik. Kecanggihan kurikulum dan satuan pelajaran, faktnya tidak mampu mendongkrak kompetensi siswa dalam berbahasa. Pasti ada ketimpangan! Begitu kesan penulis terhadap pembelajaran bahasa Indonesia Tradisi “membaca” siswa masih belum optimal. Siswa makin enggan “menyimak”. Kebiasaan siswa “menulis” belum optimal. Konsekuensinya, keterampilan “berbicara” siswa pun diabaikan.

Sebagai contoh, problematika pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah makin diperkuat dengan kenyataan terpuruknya nilai Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia pada siswa SMP dan SMA tahun 2011 ini. Sebut saja, pada UN SMP, nilai rata-rata UN Bahasa Indonesia adalah yang terendah dari mata pelajaran lainnya, dengan perolehan 7,49. Bandingkan dengan pelajaran Matematika 7,50, IPA 7,60, dan bahkan Bahasa Inggris 7,65. 

Realitas ini tentu bertentangan dengan perjalanan panjang bahasa Indonesia dalam membuktikan eksistensinya. Sejak Sumpah Pemuda 1928, lebih dari 83 tahun Bahasa Indonesia dinobatkan sebagai identitas bangsa. 66 tahun sudah Bahasa Indonesdia menjadi bahasa resmi negara dalam UUD 1945. Belum lagi dukungan perangkat aturan seperti, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahkan Uji Keterampilan Bahasa Indonesia (UKBI). Namun, semua itu belum sebanding dengan “hasil akhir” pembelajaran Bahasa Indonesia yang diharapkan. Ke mana arah pembelajaran bahasa Indonesia?

Berangkat dari persoalan di atas, tidak ada kata lain kecuali menegaskan kembali arah pembelajaran bahasa di sekolah. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus melakukan “reposisi”. Guru dan siswa harus memiliki sikap yang sama. Anggapan Bahasa Indonesia mudah dipelajari karena siswa telah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari tidaklah benar. Untuk itu, harus ada upaya konkret dalam mengoptimalkan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Guru harus mengambil peran paling depan dan konsisten dalam menyesuaikan materi belajar dengan “kesempatan” siswa untuk menerapkan praktik berbahasa dan pengembangan nalar tentang bahasa Indonesia. Guru tidak perlu lagi “menjejali” siswa dengan materi belajar yang text book. Guru harus lebih kreatif untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di dalam maupun di luar kelas.

Problematika Makro

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia bukan untuk menjadikan siswa sebagai ahli bahasa. Kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan keperluannya sendiri adalah tujuan siswa belajar bahasa Indonesia. Siswa perlu diberi kesempatan untuk menambah “pengalaman” berbahasa. Siswa membutuhkan “ruang” untuk membaca, mendengar, menulis, dan berbicara melalui bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang baik dan benar harus dialami siswa secara nyata, bukan hanya sebatas cita-cita dan slogan semata.

Belajar bahasa Indonesia bukanlah belajar pola dan kaidah. Siswa perlu belajar cara mengemukakan pendapat pada saat dan waktu yang tepat. Kompetensi siswa dalam berbahasa harus menjadi fokus pembelajaran. Siswa mampu memahami ‘teks” secara keseluruhan, bukan “penggalan” unsur-unsur dalam bahasa itu sendiri. Bahasa adalah keutuhan teks yang dialami siswa. Harus diakui, kondisi pembelajaran bahasa Indonesia yang ada saat ini sangat dipengaruhi oleh problematika makro dalam pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain sebagai berikut.

Kebijakan bahasa Indonesia yang berkembang saat ini terjebak pada politik identitas semata. Bahasa Indonesia dianggap sebagai ornamen untuk membangkitkan semangat nasionalisme tanpa diikuti langkah konkret untuk membenahi sikap dan perilaku berbahasa pemakainya. Bahasa Indonesia tidak mampu menjadi kekuatan vital dalam “mendampingi” proses perubahan jati diri dan keilmuan bagi pemakainya.

Kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia yang katanya sudah bagus hanya menjadi simbol dalam memenuhi target penyesuaian pada tingkat satuan pelajaran. Kurikulum tetap belum mampu menembus ruang-ruang kelas yang menjadi sentral interaksi guru dan siswa dalam kegiatan belajar. Kurikulum telah mengungkung kreativitas guru dalam interaksi belajar di kelas.

Sikap guru yang terlalu biasa, kurang positif terhadap bahasa Indonesia. Guru tidak mampu mengemas materi belajar yang menarik da;am kegiatan belajar. Bahasa Indonesia dianggap tidak memiliki nilai tambah bagi siswa. Bahkan, tidak sedikit guru yang tidak bangga mengajar bahasa Indonesia. Kondisi ini diperkeruh dengan kompetensi berbahasa guru yang belum mampu menjadi model bagi siswa. Keteladanan guru dalam berbahasa, khususnya menulis dan berbicara masih sangat langka.

Konsekuensinya, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah saat ini terkesan mengarah pada penguasaan materi pelajaran semata daripada kompetensi berbahasa. Guru semakin dominan dalam kegiatan belajar di kelas. Hak suswa untuk berbahasa relatif terabaikan. Terbaca indikasi kuat, arah pembelajaran bahasa Indonesia hanya untuk memenuhi target kurikulum, bukan memberdayakan kompetensi berbahasa siswa.

Realitas Pembelajaran Bahasa

Hari ini, tensi pembelajaran bahasa Indonesia makin mengalami penurunan. Banyak guru yang semakin sibuk mengurus program “sertifikasi” untuk mencapai kualitas kesejahteraan yang juga penting. Tanpa rasa pesimis, sejujurnya, pembelajaran bahasa Indonesia semakin dihadapkan pada tantangan yang semakin berat. Apalagi meniliki realitas berbahasa masyarakat “di luar kelas” yang makin marak dan bergerak cepat, semakin meninggalkan bahasa Indonesia pada level pembelajaran dan kurikulum. Realitas pembelajaran saat ini dihadapkan pada kondisi berikut.

Pembelajaran bahasa Indonesia berlangsung monoton dan membosankan. Metode pembelajaran terkesan itu-itu saja, metode ceramah, dikte, meringkas, membaca dalam hati, dan latihan/tugas yang evaluasinya sering tidak dapat dipertanggungjawabkan. Belajar bahasa Indonesia tidak diintegrasikan dengan pemanfaatan media seperti: film, video, lagu, gambar, atau alam terbuka.

Siswa semakin malas belajar bahasa Indonesia. Sikap memandang remeh dan acuh terhadap bahasa Indonesia “menyelimuti” sebagian besar siswa. Gejalanya, siswa sering ngantuk, tidak bergairah, under estimate saat mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di kelas. Siswa tidak memiliki kesadaran dan pemahaman yang cukup tentang pentingnya keterampilan berbahasa dan tata bahasa praktis bahasa Indonesia.

Gejala bahasa “di luar kelas” makin “menyudutkan” pembelajaran bahasa Indonesia. Fenomena bahasa jejaring sosial (facebook, twitter, bahasa gaul, bahasa alay) dapat dianggap mengontaminasi perilaku bahasa siswa. Siswa beranggapan bahasa Indonesia terlalu bersifat teoretik dan dipenuhi kaidah, sedangkan dinamika perkembangan bahasa di masyarakat lebih bersifat praktis dan berkembang pesat.

Sikap inferior atau rendah hati siswa dalam menggunakan bahasa Indoneisa yang baik dan benar. Siswa tidak mendapatkan “model” yang pas dalam berbahasa Indonesia yang indah. Maka, siswa merasa lebih memiliki “gengsi” apabila dapat menggunakan bahasa asing atau bahasa Inggris dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik secara lisan maupun tulis.

Realitas pembelajaran di atas patut menjadi perhatian semua pihak. Jika tidak, bahasa Indonesia akan semakin tergerus eksistensinya di mata pemakainya sendiri. Semua pihak harus menyadari “posisi” pembelajaran bahasa Indonesia saat ini harus dievaluasi. Apapun jalan yang ditempuh, pembelajaran bahasa Indonesia harus dikondisikan menjadi lebih “bergairah dan antusias” dari sekarang!

Solusi Praktis

Apa yang harus kita lakukan terhadap pembelajaran bahasa Indonesia? Kita, guru dan praktisi bahasa Indonesia semestinya lebih berkonsentrasi pada aspek praktis pembelajaran bahasa Indonesia. Target pembelajaran bahasa Indonesia hendaknya diarahkan pada 1) memiliki kompetensi berbahasa yang memadai (membaca, menyimak, menulis, dan berbicara) dan 2) mampu berpikir dan bernalar secara objektif .

Belajar bahasa bukan pada “pengetahuan bahasa” melainkan pada “kemampuan berbahasa”. Berapa lama siswa membaca dalam sehari? Saat kapan siswa menyimak dengan benar? Mampukah siswa menuliskan pengalamannya? Kapan dan tentang apa siswa berbicara? Belajar bahasa Indonesia harus lebih kontekstual dan menarik dengan dukungan kreativitas guru sehingga evaluasi belajar pun dapat diukur siswa, bukan guru.

Guru dituntut memiliki orientasi pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih bersifat praktis. Sebagai solusinya, ada beberapa orientasi praktis yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, antara lain: 1) proses pembelajaran harus bertumpu pada siswa, bukan guru, 2) hanya menekankan pada kompetensi berbahasa siswa, 3) menyederhanakan materi pelajaran, 4) melibatkan kreativitas guru, 5) evaluasi belajar yang dapat diukur siswa, dan 6) menerapkan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Tentu, masih banyak cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia. Sejauh dilandasi semangat dan kegairahan dalam belajar bahasa Indonesia pasti akan memberi implikasi yang positif untuk semua pihak; untuk siswa, guru, maupun tujuan pembelajaran. Kali ini, kita perlu melibatkan hati dalam belajar bahasa Indonesia, tidak hanya pikiran. Sikap, kompetensi, penguasaan materi, dan cara mengajar menjadi aspek terpenting dalam menggairahkan pembelajaran bahasa Indonesia ke depan. Biarkan Bahasa Indonesia menemukan kembali kedahsyatannya !! Pasti Bisa !

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 11 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: