Back to Kompasiana
Artikel

Bahasa

Inda Suhendra

suka membaca, suka menulis juga, dan suka traveling.

Memaknai Istilah “Buruh”

OPINI | 24 September 2012 | 17:45 Dibaca: 455   Komentar: 2   0

Istilah buruh kerap kali disematkan kepada pekerja kasar atau golongan kerah biru (blue collar). Dalam bahasa Inggris, istilah buruh sering dipadankan dengan labourer. Oxford Dictionary mengartikannya sebagai a person whose job involves hard physical work that is not skilled, especially work that is done outdoors. Kita ketengahkan contoh seperti buruh pabrik, buruh tani, buruh cuci, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan lain-lain. Nyaris tak pernah ada yang menggunakan–katakanlah–buruh bank, buruh pemerintah, dan lain sebagainya.

Sejatinya dalam sebuah hubungan industrial (hubungan antara pekerja dan pemberi kerja), istilah buruh (atau pegawai, karyawan, dan pekerja) merupakan antitesis dari majikan (pemberi kerja). Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan: pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga memaknai lema buruh sebagai orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Bahkan Eko Endarmoko dalam Tesaurusnya berani membuat sinonim buruh sebagai orang upahan.

Dengan batasan hukum dan rumusan kamus di atas, rasanya tak perlu malu dan rendah diri, seorang pekerja kantoran menyebut dirinya buruh. Jadi, siapapun kita –apa pun posisinya, berapa pun gajinya– selama masih “menerima upah atas suatu pekerjaan”, kita semua adalah buruh.

Hal lain yang terkait buruh adalah ILO (International Labour Organization). Nama salah satu organisasi resmi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini kerap diterjemahkan sebagai organisasi buruh internasional. Terjemahan tersebut menimbulkan prasangka awam, bahwa organisasi ini adalah organisasi buruh. Faktanya, ILO bukanlah organisasi buruh. Pemangku kepentingan dan kepengurusannya terdiri dari tiga unsur: buruh, pengusaha, dan pemerintah (tripartit). Jadi, akronim ILO akan lebih tepat jika diterjemahkan menjadi organisasi perburuhan internasional atau organisasi ketenagakerjaan internasional. Dengan demikian maknanya akan lebih sesuai dengan kesunyataan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: